Long Weekend di Bromo


Setelah menunggu puluhan tahun, akhirnya April lalu gue ke Bromo. Rasanya memang agak aneh. Gue lahir di Madiun yang jaraknya cuma 160 km dari Bromo dan kuliah di Surabaya yang jaraknya cuma 80 km, tapi malah akhirnya gue bisa ke Bromo setelah tinggal di Jakarta yang jaraknya 900 km. Well I had reasons 😌

Kebetulan gue bareng beberapa teman dan mereka yang pesan simple trip package, cuma dijemput ke hotel di Malang, diantar ke Bromo, lalu diantar pulang lagi ke hotel di Malang. Hotel, pesawat, dan jalan-jalan di Malang atur sendiri-sendiri. Karena long weekend, maka gue berangkat Jumat pagi lalu rencananya keliling Malang sampe sore, istirahat sebentar sebelum dijemput tengah malam, Sabtu pagi di Bromo, siang kembali ke Malang, jalan-jalan ke Batu sampe malam, lalu Minggu pagi kembali ke Jakarta. Iya, gitu doang. Tapi itu pun gak semua berjalan sesuai rencana hahaha.

Setelah drama di airport Jakarta yang menyebabkan seorang teman ketinggalan pesawat dan harus ikut pesawat berikutnya, tiba di hotel pun ternyata belum bisa check in karena masih terlalu pagi. Mau keliling Malang juga kayaknya blom pada buka. Pilihan yang kepikir cuma mengunjungi kampung tridi (nanti ditulis terpisah ya). Lalu pulang ke hotel untuk cek in, eh ketiduran. Maklum berangkat subuh untuk ngejar flight pertama. Bangun-bangun udah gelap, cuma sempet mampir ke Toko Oen, trus balik lagi ke hotel siap-siap dijemput. Sabtu siangnya pulang dari Bromo langsung ketiduran sampe Minggu pagi hahahaha. Batal semua rencana keliling Malang/Batu. Anyway, I could finally make it to Bromo. It’s all that matters to me on this trip. 

Driver penjemput datang ke hotel jam 1 pagi pake Land Cruiser. Tentunya gak nyaman dong ntar di jalan hampir 2 jam. Si driver nawarin ganti Avanza sampe stop point di sebuah desa di lereng gunung baru nanti ganti Land Cruiser untuk naik ke Penanjakan. It’s a privilege for private trip like us. Karena langsung order untuk berlima, kami masuk kategori private tour. Yang open trip ‘terpaksa’ dikalahin dan mereka harus pake Land Cruiser dari Malang sampe ke Penanjakan. Jadi akhirnya kami berangkat setelah ada mobil pengganti datang. Sekitar jam 3 kami tiba di desa stop point lalu ganti mobil untuk naik ke Penanjakan. Setelah drama kesasar bareng-bareng puluhan mobil lain, sudah hampir jam 4 pagi saat kami tiba di Penanjakan 2.

Sebenarnya main point untuk melihat sunrise di Bromo adalah Penanjakan 1 dan biasanya bisa dicapai menggunakan Land Cruiser, tapi karena long weekend dan kami tiba sudah terlalu ‘siang’, maka jalanan sudah dipenuhi mobil yang parkir. Jadi kami cuma bisa naik mobil sampai ke Penanjakan 2 lalu harus dilanjutkan lagi dengan jalan kaki ke Penanjakan 1 sejauh +/- 3 km. Sebenarnya ada alternatif lain untuk menikmati sunrise, yaitu di Bukin Cinta atau Bukit Kingkong yang jaraknya gak terlalu jauh dari Penanjakan 2, tapi karena baru pertama kali ke Bromo gue pengennya ke main spot di Penanjakan 1. Kalo jalan kaki gak akan sempet sih liat sunrise, maklum jalannya menanjak (nggggg sama males juga sih hahaha). Untungnya ada ojek yang siap mengantar naik ke Penanjakan 1. Biayanya +/- 30 ribu. Pinter-pinter nawar aja. Lamanya cuma 15-20 menit, maklum sepanjang jalan penuh dengan mobil parkir dan turis yang jalan kaki. 

Tiba di Penanjakan 1 masih gelap jadi kayaknya masih sempet nyantai ngopi-ngopi dan makan gorengan panas (plus Indomi) di warung-warung yang bertebaran sepanjang jalan di Penanjakan 1 menuju sunrise view spot tanpa tahu resiko apa yang terjadi karena terlalu nyantai. Menjelang sunrise gue naik ke sunrise view spot daaaaaaan….. gak bisa naik lagi karena penuh dengan ribuan orang yang ada di sana. Tapi dengan tekad membara dan mental baja gue maksa nyelip-nyelip masuk ke dalam lautan manusia walaupun dengan resiko di nyinyirin mbak-mbak, diomelin ibu-ibu, sampe nyaris juga dibentak turis asing karena gue nyenggol tripod gedenya yang menghalangi pandangan orang banyak (kayaknya dia keganggu karena time-lapse nya berantakan gue senggol hahaha). 


Saat matahari mulai muncul dan warna oranye mulai memenuhi langit, semua orang seperti tersihir mengagumi pemandangannya. Tapi cuma beberapa detik doang sih, abis itu chaos lagi rebutan foto. Ada yang naik-naik pagar, ada yang gendong-gendongan, ada yang pake drone, dan yang paling banyak adalah….selfie & wefie! πŸ˜‚πŸ˜‚


Kondisi chaos masih berlangsung sampai hari mulai terang. Setelah kondisi mulai tenang karena sebagian besar pengunjung mulai pindah ke lokasi lain, baru gue bisa ambil beberapa foto. Itupun masih sempat bersitegang dengan beberapa pengunjung yang merasa spot foto itu miliknya sehingga nongkrong terus di situ dan gak mau gantian. Gue sampe minta ijin untuk ambil foto semenit doang, dan beneran setelah semenit dia langsung nyolek gue nyuruh minggir sambil bilang ‘katanya semenit doang….’ 😀


Setelah itu gue turun lagi naik ojek ke arah parkiran mobil di Penanjakan 2 dan mampir di Bukit Cinta. Ternyata spot foto di sini gak kalah indah dengan di Penanjakan 1. Setelah foto-foto sebentar, gue balik ke mobil dan lanjut ke lokasi berikutnya. 

Lokasi berikutnya adalah lautan pasir yang mengarah ke kawah gunung Bromo. Tapi di tengah jalan gue nemu spot keren. Ini spot foto favorite gue dan (ternyata juga) orang-orang lain hahaha. Kabut tebal yang masih menyelimuti perbukitan terlihat sangat eksotis sebagai latar belakang saat gue berfoto di atas mobil. Spot foto sejuta umat hahaha. Awalnya sih gue pikir lumayan sepi, eh saat kabut terangkat ternyata banyak banget pengunjung lain yang berfoto di sekitar lokasi tersebut hahaha. 



Akhirnya tiba juga di lautan pasir, di mana puluhan (mungkin juga ratusan) land cruiser berwarna warni sedang parkir menunggu pengunjung yang pergi ke kawah. Apa yang gue lakukan pertama kali di sini? Yak, makan πŸ˜‚πŸ˜‚. Kebetulan ada tukang bakwan malang ngetem di situ. Laper, capek, ngantuk, bikin rasanya jadi enaaak banget. Padahal mah biasa aja hahaha. 


Kalo mau ke kawah harus jalan lagi jauh dan menanjak. Berhubung gue lagi ada spine problem, ya terpaksa ikhlas jalan2 di bawah doang sampe ke Pura Luhur Poten yang kebetulan lagi ditutup untuk umum. Kalo mau sih bisa ke kawah naik kuda, bayar 100 ribu doang. Tapi ya gue emang gak mau aja 😝.

Ada cerita serem di sini. Toilet kan ada buat wanita dan buat pria. Kalo buat pria kan gampang tinggal pake urinoir, cepet, gak pake antri panjang. Tapi buat wanita kan harus masuk ke bilik jadi masing-masing butuh waktu lama. Akibatnya antrian jadi panjang. Untuk ‘menyelamatkan’ para wanita, petugas akhirnya memperbolehkan para wanita untuk antri di bilik dalam toilet pria. Jadi para pria silakan kencing di urinoir sambil ditonton para wanita yang antri. Serem kan? 😝

Setelah puas di kawasan ini, gue lanjut lagi. Harusnya ada acara brenti di Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies, tapi berhubung udah pada renta, jadi kecapekan dan milih langsung ke Air Terjun Pelangi sekalian jalan pulang ke Malang. Anyway, sepanjang jalan menuju ke sana pemandangannya kece deh. 

Harapan: mandi di bawah air terjun, nyelem di sungai, foto-foto berlatar belakang pelangi di pinggir air terjun. 

Kenyataan: jalan jauh sampe kaki pegel dan gak boleh turun ke air terjun. Pelangi? On your dream hahaha. 



Oya, ada tips yang mungkin berguna. Bromo di bulan April gak terlalu dingin kok. Jadi repot-repot pake jaket tebel, coat panjang, syal bulu dan topi kupluk itu cuma bikin keliatan bagus di foto. Selebihnya bikin ribet dan berat. Apalagi setelah matahari terbit dan terik, udara jadi panas banget. Jadi mending pake sweater biasa aja. Ntar tinggal dilepas kalo kepanasan. Kecuali emang kamu gak tahan banget sama udara dingin ala AC di kamar ya bawa jaket aja hehehe. 

Pengalaman ke Bromo untuk pertama kalinya ini memang gak terlalu asik karena persiapannya agak terburu2. But the view was really really beautiful. Gue pasti balik lagi. Dan gak di hari libur pastinya, kapok rebutan spot foto hahaha. 

14 comments

  1. wah beruntung dapet sunrise!!
    tapi emang kalo ke Bromo mending jangan pas long weekend ya, isinya lautan manusia ><

    Like

  2. Here is my favourite!

    “Gue sampe minta ijin untuk ambil foto semenit doang, dan beneran setelah semenit dia langsung nyolek gue nyuruh minggir sambil bilang β€˜katanya semenit doang….’”

    Ito,
    Foto-fotonya keren-keren kali!
    Apalagi yang bunga ungu dengan latar belakang Bromo itu.
    Cantik kali!

    Btw, kayaknya ini kunper aku ke sini ya?

    Salam kenal dari boru Juntak di Borneo ya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s