Old Semarang, A Weekend Getaway


Beberapa minggu lalu gue jalan-jalan ke Semarang. Kenapa Semarang? Well, sebagai orang ‘Jawa’ rasanya aneh kalo blom pernah ke Semarang. Nah, suatu ketika salah seorang teman baik gue ada tugas ke Semarang dan foto-fotonya sungguh kece-kece. Ditambah cerita soal makanan yang enak-enak (yaelah makanan lagi motivasi jalan-jalan gue hahaha), gue jadi tambah pengen ke Semarang. 12 tahun lalu pernah sih ke Semarang, tapi karena itu acaranya kerjaan, jadinya gak ada waktu buat keliling kota. 

Salah satu yang membuat gue ‘nafsu’ banget ke Semarang adalah karena kota ini merupakan salah satu kota tua, dengan bangunan-bangunan tua yang memang jadi favorite gue saat travelling. Oh satu lagi, gue kangen naik kereta api hehehe. Dulu sering naik kereta karena orang tua di Surabaya, tapi sejak mereka pindah ke Jakarta (baca: Bekasi), gue udah gak pernah lagi naik kereta api kecuali KRL di Jakarta. It’s been 15 years! Jadi gue pergi ke Semarang naik kereta api Jumat pagi, dan kembali ke Jakarta naik pesawat Minggu malam. 


Muter-muter di Semarang bisa jalan kaki kalo gak terlalu jauh, atau naik becak, atau naik angkot, atau naik taksi kalo mau nyaman. Gak terlalu mahal juga, soalnya Semarang itu ke mana-mana deket. 

Jadi ke mana aja selama gue di Semarang? 

1. Kawasan Kota Lama

Ada apa di sini? Ada banyak. Kawasan yang dulunya merupakan benteng militer ini pernah juga menjadi pemukiman dan sentra bisnis. Dulu disebut Little Netherland karena bangunan di kawasan ini rata-rata berarsitektur Belanda. 

Pusat kawasan Kota Lama ini adalah Gereja Blenduk. Bangunan yang fotogenik ini berusia lebih dari 260 tahun dan memiliki ciri khas atap berupa kubah yang mblenduk (bentuk yang membengkak bulat), makanya dinamakan gereja Blenduk. 



Di sekitarnya terdapat banyak bangunan tua, baik yang terawat maupun yang terlihat kumuh dan terbengkalai. Ada bekas gedung pengadilan yang sekarang difungsikan sebagai restoran Ikan Bakar Cianjur, ada bekas gedung pergudangan yang sekarang difungsikan sebagai restoran Spiegel, ada bekas gedung asuransi yang saat ini juga digunakan sebagai kantor asuransi Jiwasraya, ada juga gedung tua yang difungsikan sebagai cafe dan art gallery, dan masih banyak gedung-gedung tua yang masih terbengkalai menunggu investor yang akan memanfaatkannya sebagai pendukung obyek wisata di daerah Kota Lama ini. 

Buat penggemar barang antik, di kawasan kota lama ini ada Kampoeng Seni Padangrani, art market rasa pasar loak barang antik. Barangnya unik-unik, botol-botol lucu, jam tua, keramik-keramik antik, lampu hias, tempat lilin, dll. 


Kawasan Kota Lama ini sangatlah fotogenik, jadi mendingan siapin batre kamera yang cukup untuk mengambil ratusan foto kece di sini. Dan jangan lupa explore juga cafe-cafe vintage nan kece di kawasan kota lama ini ya. 

2. Kuil 
Konon ada 3 kuil yang cukup menyita perhatian di Semarang. Kuil Sam Po Kong, Tay Kak Sie, dan Pagoda Avalokitesvara. Sayangnya gue gak sempet mampir di kuil terakhir. 

Kuil Sam Po Kong adalah kawasan kuil terbesar di Semarang yang oleh warga setempat dikenal juga dengan sebutan Klenteng Gedung Batu. Kawasan kuil ini berusia lebih dari 500 tahun dan dibangun oleh seorang petualang Cina muslim bernama Zheng He yang dulu patungnya ada di depan klenteng. Karena dulu bayarnya mahal untuk beribadah di sini, orang-orang pindah beribadah ke Klenteng Tay Kak Sie sambil membawa patung Zheng He pindah ke klenteng itu.

Klenteng Tay Kak Sie yang gak terlalu besar tapi kece ini berusia lebih dari 270 tahun. Lokasinya berada di gang Lombok dekat Pasar Semawis yang banyak tempat makan enak *eh. 
Tepat di sebelah klenteng Tak Kak Sie terdapat warung penjual lumpia Semarang yang terkenal, yang sayangnya gue baru tau keesokan harinya 😭. Di sebelah sisi satunya dari klenteng ada semacam foodcourt yang menjual berbagai macam makanan halal dan non halal yang baunya aja udah bikin terbang 😂.


3. Wisata Kuliner

Yang kenal gue pasti tau gue suka banget makan. Di Semarang? Ya pasti keliling cari makanan enak. Selain di gang lombok yang terkenal lumpianya yang gak sempet gue coba itu, ada beberapa tempat lain yang juga enak di Semarang. 

Yang pertama gue kunjungi begitu tiba di Semarang adalah Toko Oen. Restoran yang berusia 80 tahun ini sebenarnya adalah cabang ke empat dari jaringan Toko Oen di Indonesia setelah Yogyakarta, Jakarta, dan Malang. Yang bertahan saat ini hanya tinggal cabang di Malang dan Yogyakarta. Ciri khas Toko Oen di manapun adalah gedung tua!

Walaupun awalnya hanya menjual roti, namun sekarang Toko Oen ini sudah menjual berbagai macam makanan termasuk roti dan es krim. Interiornya terlihat antik dan pas banget dengan gedung yang tua namun terawat ini. 

Karena sudah lapar (as always 😝), gue langsung pesen makanan besar dong. Bitterballen, nasi goreng kampung daaan sate babi. Bitterballen-nya disajikan panas-panas, rasanya biasa aja. Nasi gorengnya enak walaupun gak luar biasa. Sate babinya….awesome! Teksturnya lembut, juicy, dan bumbu kacangnya enaaaak. 

Gak lupa gue juga mampir ke Pasar Semawis. Kawasan kuliner yang hanya buka tiap weekend mulai Jumat malam hingga Minggu malam ini menjual berbagai jenis makanan baik halal maupun non halal. Kebetulan pas gue ke situ suasana agak sepi karena mendung tebal dan tiba-tiba gerimis. Gue buru-buru melipir masuk ke salah satu warung untuk berteduh. Eh kok makanannya menggoda, ya sekalian aja pesen makan di situ. 

Gue pesen Nasi Gudeg Koyor. Semacam nasi gudeg dengan tambahan semur urat sapi. Rasanya gurih, beda dengan gudeg biasanya yang cenderung manis. Ngeliat isinya kayaknya sih gak sehat, tapi enaaak hahaha. 

Tadi di atas sudah disebutkan tentang Ikan Bakar Cianjur. Karena gedungnya tua dan kece, gue kan pengen nongkrong di dalamnya. Ya terpaksa sekalian makan. Dan makanannya enak sodara-sodara! Kalo ke sini (atau ke cabang IBC manapun), harus nyobain nasi liwetnya. Satu porsi bisa buat bertiga. Ayam goreng, gurame pesmol, karedok dan sayur asemnya juga enak. 

Oya, kalo mau beli oleh-oleh khas Semarang, selain lumpia ada juga bandeng presto, bandeng asap, moci Semarang, dan ada satu lagi biskuit kelapa yang gue lupa namanya. 

4. Lawang Sewu

Khusus tempat ini udah gue tulis di sini

7 comments

  1. Bang, fotonya tsakeup-tsakeup beut dah!

    Gw baru sadar sesuatu, iya-ya.. ngetrip sama lo tuh isinya makan melulu, hehehe! Padang? Tengah malem makan nasi padang. Cirebon? makan nasi jamblang dan empal gentong sampai kenyang banget.

    Like

  2. Terakhir kali lewat di Semarang tahun 2005. Nyesel juga gak eksplor, tapi apa boleh buat jalan sama keluarga dan tujuannya ke Yogya pada saat itu. Sekarang, dinas pariwisatanya udah gencar menawarkan potensi wisata. Wisata bangunan tua ini jadi salah satu minatku juga. Semoga bisa main ke Semarang nanti 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s