Hati Adem di Lasem


Lasem adalah salah satu kota tua di sebelah timur Semarang. Lasem yang terkenal dengan batik dan (guess what) bangunan-bangunan tua berjarak sekitar 3-4 jam naik mobil dari Semarang. If you’re following my blog, you have known that I’m really into old town with old buildings. Jadi, pas gue ke Semarang beberapa waktu lalu, gue meluangkan satu hari khusus untuk mengunjungi Lasem. 

Sebenarnya kunjungan yang paling ideal adalah menginap di Lasem, tapi berhubung waktunya terbatas, kali ini gue hanya akan PP Semarang-Lasem. Dari Semarang gue menyewa mobil Toyota Avanza di sini. Harganya sekitar 300-400 ribu rupiah untuk dipakai keluar kota menggunakan sopir dengan syarat bensin isi sendiri dan paling lambat jam 10 malam sudah harus tiba kembali di Semarang. 

Seperti sudah diketahui oleh khalayak umum, gue type pemalas kalo liburan, jadi gue berangkat dari hotel gak terlalu pagi, kira-kira jam 8.30 setelah sarapan dulu di hotel. Gue cuma taunya Lasem, that’s it. Untungnya sopir yang disediakan pihak rental mobil adalah sopir yang memang sering mengantarkan tamu ke Lasem, jadi beliau yang sekalian jadi tour guide hahaha. Ngirit kaaaan 😂😂😂. 

Namanya juga jalan-jalan santai, di perjalanan menuju Lasem gue minta mampir di 2 tempat. Pertama di Masjid Agung Demak yang dibangun oleh Sunan Kalijaga sekitar 700 tahun yang lalu. Lalu yang kedua di Menara Kudus yang dibangun oleh Sunan Kudus sekitar 600 tahun yang lalu. 

Sekitar jam 12 siang gue tiba di Lasem dan langsung mampir ke Lawang Ombo. Tempat ini dulu pernah jadi rumah bandar candu terbesar di pesisir utara Jawa sekitar abad 19. Banyak cerita menarik yang gue temukan di internet sepanjang perjalanan ke Lasem mengenai tempat ini, namun sayangnya untuk bisa mengunjungi rumah tua ini harus janjian dulu. Sopir yang kenal beberapa orang di kawasan ini mencoba membantu untuk kontak dengan penjaganya namun sayang beliau sedang ada urusan dan baru kembali sore hari. 

Di sebelah Lawang Ombo terdapat sebuah klenteng tua bernama Cu An Kiong. Klenteng ini dibangun sekitar 600 tahun lalu dan konon merupakan salah satu klenteng tertua di Jawa. Lokasinya yang terdapat tepat di depan sungai Lasem membuat klenteng ini dulunya sering kebanjiran, sehingga sekitar abad 19 klenteng ini direnovasi dan ditinggikan. Konon Laksamana Cheng Ho yang terkenal itu pernah mampir di klenteng ini menggunakan kapal melalui sungai Lasem yang terhubung langsung dengan Laut Jawa. Pernah nonton film Ca Bau Kan? Klenteng ini menjadi salah satu lokasi shootingnya. 


Setelah itu gue tertarik untuk foto-foto di kawasan sekitar Lawang Ombo dan klenteng Cu An Kiong. Kebetulan di kawasan tersebut merupakan kawasan Pecinan tua yang banyak terdapat rumah-rumah tua berarsitektur Tiongkok. Salah seorang penduduk sekitar mengarahkan gue untuk mampir di salah satu rumah yang bernama Lawang Ijo

Rumah ini adalah milik seorang penduduk setempat bernama H.M. Zaim Ahmad Ma’shoem yang dipanggil Gus Zaim. Kebetulan beliau ada di rumah sehingga gue bisa ngobrol langsung dengan beliau. He’s a really nice guy. Walaupun gue hanya turis yang dadakan mampir ke situ, namun beliau memperlakukan gue seperti selayaknya tamu, lengkap dengan air minum dan kue-kue. 

Gus Zaim membeli Lawang Ijo tersebut dari pemiliknya sekitar 5 tahun lalu, dan memperbaikinya tanpa mengubah desain dan struktur asli rumah itu. Pemiliknya yang seorang pedagang Tionghoa dulunya memiliki 5 rumah dan tanah, dan Gus Zaim membeli 1 rumah dan sebidang tanah. Konon si pedagang menjual propertinya karena anak-anaknya tidak ada lagi yang mau tinggal di Lasem dan mengurus aset-asetnya tersebut. 

Selama hampir 30 menit berada di Lawang Ijo, gue mendapat banyak cerita tentang indahnya toleransi di Lasem dari Gus Zaim. Di kawasan pecinan lain di Lasem, beliau memiliki sebuah pondok pesantren yang berada di tengah-tengah pemukiman warga Tionghoa dan mereka hidup berdampingan secara harmonis tanpa konflik apapun. 

Oh iya, ada satu hal yang menarik. Lawang Ijo yang memiliki 2 kamar tidur dan ruang tengah yang luas itu gak ditempati oleh Gus Zaim, namun bisa dipinjamkan bagi pengunjung yang datang ke Lasem dengan gratis. Iya, GRATIS! Ketika gue bertanya kenapa gratis, beliau mengatakan bahwa kalau dibayar maka beliau gak bisa memilih siapa yang boleh tinggal di situ. He has certain standard for sure. Beliau menawarkan Lawang Ijo untuk tempat gue nginep tapi gue terpaksa menolak karena keesokan harinya sudah harus kembali ke Jakarta. Oya, kalo rasanya ‘serem’ nginep di rumah tua tersebut, bahkan Gus Zaim menawarkan untuk meminta beberapa santrinya untuk menemani tamu-tamunya di situ. What a nice guy! 

Sudah lewat jam makan siang saat gue mengakhiri kunjungan ke Lawang Ijo. Pak Sopir menawarkan untuk makan siang di tempat khas Lasem. Yaitu lontong tuyuhan. Makannya di salah satu warung yang berderet di tepi sawah. 

Lontong tuyuhan adalah lontong yang disiram kuah semacam opor ayam dan tempe. Perut lapar dan mendung yang menggayut membuat makan semakin terasa nikmat. 

Setelah makan dan beristirahat sebentar, gue melanjutkan perjalanan di Lasem ke kawasan pecinan yang terkenal, yaitu Karang Turi. Ada satu tempat yang paling terkenal di kawasan ini, yaitu Tiongkok Kecil Heritage. 

Tiongkok Kecil Heritage adalah sebuah rumah tua yang oleh pemiliknya diperbaiki tanpa menghilangkan ciri khasnya. Bangunan bergaya Cina Hindia tersebut memiliki exterior yang hampir seluruhnya berwarna merah dan kuning. Bahkan sumur di belakang rumah juga dicat kuning menyala. Di teras depan terdapat patung 2 pengawal, dan di dinding ruang depan dipasang foto-foto kegiatan yang dilakukan di tempat ini. Di tempat ini spot foto bertebaran di mana-mana. Bahkan gerbang dan sumurnya aja sangat fotogenik hehehe. Tempat ini juga bisa disewa untuk menginap dengan harga yang katanya cukup terjangkau, tapi saat ditanya yang bersangkutan gak menyebutkan harganya sih hehehe.



Perkampungan di sekitar Tiongkok Kecil Heritage sangatlah kece. Rumah-rumah tua berpintu. A khas Tiongkok bertebaran di kiri kanan jalan. Ada yang terawat, banyak yang terlihat terbengkalai. Remember, abandoned buildings always attract me. Sebagian foto-fotonya ada di bawah ini.

Kebetulan hari sudah menjelang sore, jadi setelah puas, gue langsung balik lagi ke Semarang. Sebelum pulang disempetin dulu mampir ke satu klenteng tua yang cantik, namanya Gie Yong Bio. Klenteng ini unik karena dibangun untuk menghormati tiga pahlawan Lasem yang menghadapi VOC pada tahun 1741-1750, yaitu Tan Kee Wie, Oei Ing Kiat, dan Raden Panji Margono, seorang pribumi. Keren kan seorang pribumi bisa dihormati sedemikian tinggi oleh warga Tionghoa di sini. Hal ini menggambarkan betapa harmonisnya hubungan masyarakat di Lasem tanpa memandang peebedaan ras dan agama. Contoh yang sangat baik bagi beberapa orang yang berubah menjadi intoleran di masa pilkada ini.  

You know what? Gue bener2 kesengsem di Lasem. I’ll be back one day dan nginep di Lawang Ijo-nya Gus Zaim. Maklum gratis hahaha.

Oya, di jalan pulang ke Semarang, gak lupa gue mampir di Kudus untuk makan Soto Kudus dan Garang Asem asli Kudus. Enaaak bangettt!!! 

Klenteng Cu An Kiong

Jl. Dasun No.19, Soditan, Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah 59271

Tiongkok Kecil Heritage

Karangturi, Lasem, Rembang Regency, Central Java 59271

Klenteng Gie Yong Bio

Jl. Babagan No. 7, Lasem, Babagan, Kec. Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah 59271

Masjid Agung Demak

Kampung Kauman, Kel. Bintoro, Kec. Demak, Bintoro, Kec. Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah 59511

Menara Kudus

Jl. Menara, Kauman, Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59315

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s