Berburu Momiji di Kiyomizu-Dera


Setelah belajar meditasi di Nanzen-Ji Temple, rombongan berjalan kaki ke tempat makan siang. Karena gue gak bisa makan udang dan panitia gak mau repot, gue disatuin dengan para vegetarian yang makannya cuma sayur dan tahu. Tapi namanya dingin dan laper ya abis juga sih. Cuma agak iri sama meja sebelah yang bertaburan daging dan ikan hahaha. Etapi untung bir dibuat dari gandum, jadi vegetarian boleh minum bir. Jadi tetep free flow bir sepanjang makan siang, lumayan bikin anget hahahaha.


Setelah makan siang, rombongan naik taksi ke Kiyomzu-Dera Temple kira-kira 30 menit. Dari tempat turun taksi hingga ke lokasi kuil kita harus berjalan kaki sekitar 15 menit di jalur yang agak menanjak. Di sepanjang jalan naik ini terdapat toko-toko souvenir dan makanan. Ada juga beberapa kios yang menyewakan kimono beserta asesorisnya untuk cowok dan cewek. Harga sewanya 3000 yen untuk beberapa jam. Banyak yang menggunakan jasa penyewaan ini karena ingin merasakan lebih dekat budaya Jepang di kuil. Penggunanya mayoritas cewek-cewek dalam group. Kalo cowok yang menyewa pakaian biasanya sama pasangannya sih. Mungkin dipaksa ceweknya wkwkwkwwk kidding….



Kiyomizu-Dera dibangun 1200 tahun yang lalu dan masih berdiri dengan megahnya di area gunung Otowa. Pilar-pilar kayu terlihat kokoh menopang keseuruhan kuil yang juga terbuat seluruhnya dari kayu. Konon tidak ada satupun paku digunakan dalam pembangunan kuil ini. Tiap hari kuil ini dibanjiri oleh pengunjung yang datang untuk menyembah Kannon, Dewa kasih sayang. Itulah sebabnya kuil ini disebut juga ‘Kannon Reijo’. Reijo dalam Bahasa Jepang artinya tempat suci, di mana kasih sayang dari Kannon berlimpah ruah. Para pengunjung biasanya berdiri di depan patung Kannon memanjatkan doa syukur sambil menangkupkan dua tangan di depan dada. Sejak dibangun tahun 798, kuil ini sudah beberapa kali rusak oleh gempa yang memang sering terjadi di Jepang. Rekonstruksi besar-besaran dilakukan tahun 1633 sehingga menjadi kuil yang berdiri sekarang.

Kiyomizu-Dera dibuka setiap hari sejak jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Tiket masuk kuil sebesar 300 yen bisa dibeli di gerbang depan kuil. Walaupun hampir selalu dipadati pengunjung tiap hari, namun ada 2 waktu yang lebih ramai daripada biasanya. Yaitu saat musim semi, di mana pemandangan di sekitar kuil akan dipenuhi dengan pohon-pohon sakura yang sedang berbunga, dan saat musim gugur, di mana pemandangan di sekitar kuil dipenuhi oleh daun-daun berwarna merah, kuning, dan coklat. Bagi gue, keduanya sama-sama indah. Kebetulan kali ini gue mendapat kesempatan mengunjungi Kiyomizu-Dera di akhir musim gugur.

Momiji season (Momiji = daun maple Jepang berwarna merah) berlangsung dari pertengahan September hingga akhir November atau awal Desember di beberapa tempat di Jepang. Nah, karena sudah di akhir musim gugur, awalnya gue sempat pesimis, khawatir momiji (daun maple Jepang berwarna merah) sudah mulai habis karena rontok. Suhu udara juga mulai sangat dingin karena memasuki musim dingin. Namun begitu gue sampai di kuil, matahari bersinar terik sehingga suhu udara tidak terlalu dingin. Yang paling membahagiakan adalah melihat pohon-pohon di sekitar kuil masih berwarna merah dan coklat. Momiji masih bertebaran di mana-mana. Kata teman yang orang Jepang, weekend ini kemungkinan besar adalah weekend terakhir untuk menyaksikan momiji, karena di weekend berikutnya daun-daun sudah habis berguguran.


Pemandangan dari aula utama kuil sangat Indah. Kita bisa melihat pagoda yang berada tak jauh dari kuil, lalu di kejauhan terlihat juga pemandangan kota Kyoto berikut Kyoto Tower-nya yang terkenal, dan tentu saja hamparan pepohonan berwarna merah, kuning, hijau, coklat yang menakjubkan. Pengunjung sangat ramai di saat-saat akhir mujsim momiji ini, sehingga untuk mengambil foto dibutuhkan kesabaran luar biasa untuk antri hahaha. Gue berkeliling di kawasan kuil hingga ke Pagoda. Pemandangan kuil utama dari arah sini sangat menakjubkan. Kuil seolah-olah menempel dan menggantung di bukit, dengan hanya ditopang oleh pilar-pilar kayu raksasa.

Di bagian bawah kuil utama terdapat sumber air yang dipercaya akan memberikan kesehatan dan menjadikan orang yang meminumnya awet muda. Karena itu banyak pengunjung yang antri untuk mendapatkan air ini. Gue? Gaklah, udah cukup awet muda kok hahahaha. Di dekat antrian yang cukup panjang, terdapat beberapa kedai makanan. Yang harus dicoba adalah green tea (lagi) dan dessert semacam bubur kacang merah. Enak.

Menjelang sore rombongan kembali ke jalan raya untuk menunggu taksi, melewati jalur semula, yang dipenuhi oleh toko-toko. Gue tertarik dengan matcha ice cream (lagi). Dan ternyata enaaaak banget. Di atas es krim masih ditaburi bubuk matcha dan diberi semacam sendok berupa biscuit tipis yang bisa dimakan juga.

Walaupun tua, pesonanya gak pernah lekang dimakan waktu. Buat gue, sekali kunjungan sungguh gak cukup. Lain kali gue akan datang lagi di musim semi untuk menyaksikan sakura memenuhi Kiyomizu-Dera.

Kiyomizu-Dera Temple
1-294 Kiyomizu, Higashiyama-ku, Kyoto 605-0862, Kyoto Prefecture

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s