Bali Pulina, Tempat Ngopi yang Fotogenik


Dulu sebelum gue kena maag akut dan dapat instruksi dokter untuk berhenti ngopi, gue adalah coffee lover sejati. Favorite gue, kopi item pake gula dikit. Tapi sekarang terpaksa harus dikurangi kalo gak mau lambungnya bolong hahaha. Dulu gue bisa ngopi 2-3 gelas sehari, sekarang paling banyak seminggu 2x. Tombo kangen kalo kata orang Jepang. Wanginya itu lho yang bikin gak tahan. Apalagi kalo di kantor pagi-pagi ada yang bikin kopi, aromanya bisa kesebar satu lantai hahaha.

Pas jalan-jalan ke Bali tempo hari, kebetulan gue diajak mampir ke Bali Pulina, sebuah kawasan agrowisata yang salah satu fokusnya adalah coffee plantation. Gue bahagia banget dong diajak ke situ.

Bali Pulina terletak di kawasan Gianyar, sekitar 1,5-2 jam nyetir dari Kuta. Tempatnya dekat dengan kawasan wisata Tegal Alang yang menawarkan pemandangan sawah khas Bali yang sekarang cukup terkenal.


Begitu masuk ke dalam, kita akan disambut dengan hijaunya deretan pohon coklat dan kopi. Suasana cukup teduh karena pohon-pohon ditanam agak rapat. Masuk lebih jauh ke dalam, kita akan melihat beberapa kerangkeng yang masing-masing berisi 2-3 ekor luwak. Tampangnya lucu-lucu tapi terlihat sedih karena dikurung. Walaupun gue yakin mereka diurus dengan baik, tapi tetep aja kasian liatnya. Di depan kandang terdapat bakul berisi buah-buah kopi yang matang, jadi pengunjung bisa memberi makan luwak di dalam kurungan dengan kopi-kopi tersebut.

Sepertinya mereka diletakkan di kandang seperti itu agar pengunjung bisa melihat bentuk asli binatang yang terkenal sebagai penghasil kopi terbaik di dunia. Sekedar sebagai pertunjukan aja dan bukan untuk diambil hasil kopinya, karena hasilnya pasti cuma sedikit dan tidak terlalu bagus kualitasnya. Teorinya gini, luwak yang hidup liar di kebun kopi akan memilih sendiri kopi yang paling matang dan baik, sehingga biji kopi yang dihasilkan juga baik. Kalau luwak yang di kandang, tentu tidak bisa memilih kopi yang baik, dia hanya makan kopi yang disuapkan padanya yang belum tentu matang dan baik. Hasilnya juga tentu kurang baik.

Di dalam juga terdapat sebuah bangunan kecil yang terlihat seperti dapur. Di sini pengunjung bisa melihat pemrosesan biji kopi yang dihasilkan luwak hingga menjadi bubuk kopi yang siap dikonsumsi. Semua dengan cara manual dari pembersihan, sangrai, sampai penumbukan.

Akhirnya gue sampai juga di bagian kafe, di mana pengunjung bisa beristirahat dan nongkrong sambil menikmati minuman pilihan. Kafe tersebut didesain terbuka dan dikelilingi pepohonan hijau yang menyegarkan mata. Tempatnya sangat fotogenik. Di bagian luar terdapat semacam panggung kayu dengan pemandangan sawah dan sungai jauh di bawah. Panggung ini menjadi spot utama untuk foto-foto. Jadi jangan bete ya kalo tempatnya gak pernah sepi dan susah banget untuk cari foto yang gak ‘bocor’ hahaha.



Saat pengunjung datang dan duduk, karyawan kafe akan segera menyajikan tester minuman yang unik, yaitu 8 jenis minuman di dalam 8 cangkir kecil yang diletakkan di sebilah papan panjang. Namanya tester, ya gratis. 8 minuman tersebut adalah lemon tea, ginger tea, ginger coffee, ginseng coffee, vanilla coffee, mocha coffee, bali black coffee, dan pure chocolate.

Namanya juga gratis, harus dicobain semua lah hahaha. Tapi akhirnya pilihan gue adalah vanilla coffee. Rasanya mirip kopi susu kampung yang light dan gak terlalu manis. Jadi gue pesen lagi dengan ukuran cangkir yang normal.

Pasti ada yang nanya kenapa gue justru gak nyobain kopi luwaknya yang terkenal? Well, pengen sih, tapi apa daya lambung udah gak kuat gara-gara 8 cangkir kecil tester. Jadi pilih kopi yang ringan aja.

Yang harus dicoba juga adalah pisang goreng dan…….lupis. Enak banget sodara-sodara. Sampe kita ngebungkus buat bawa pulang pisang gorengnya lho hahahaha. Maap juga, gak sempet poto soalnya keburu abis ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Oya, harga makanan dan minuman di sini gak terlalu mahal kok, semua harga rasanya wajar. Ada sih yang bilang pas masuk harus bayar tiket masuk yang nantinya bisa ditukarkan dengan makanan dan minuman di kafe, tapi pas gue di sana sepertinya gak pake bayar tiket masuk sih. Gak tau juga kalo udah dibayarin temen hahahaha. Overall, this place is really nice and I will definitely visit it again next time.

Yang mau mengunjungi Bali Pulina, ini alamatnya:

Banjar Pujung Kelod, Tegallalang, Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s