Remembering Mas Patrick and Mbak Demi


Kalo lo besar di tahun 90an pasti tau film Ghost yang dibintangi oleh Patrick Swayze, Demi Moore, dan Whoopi Goldberg. Pada jamannya, film ini booming luar biasa. Selain karena potongan rambut mbak Demi yang langsung diikuti separo cewek-cewek di dunia, ada adegan yang fenomenal yang diingat orang sampai sekarang. Yaitu adegan saat mas Patrick dan mbak Demi membuat keramik. That hot hot hot scene has made half of boys around the world fantasizing about mbak Demi before they went to sleep hahahaha. Tapi karena gue (waktu itu masih) anak baik-baik dan polos (yeah right 😝), yang nempel di kepala malah pembuatan keramiknya. Kok kayaknya seru ya dari tanah liat kita bisa bikin berbagai macam bentuk kerajinan yang keren.

Keinginan untuk nyobain bikin keramik itu terpendam puluhan tahun sampai beberapa minggu lalu Majalah Panorama ngajakin gue untuk mewujudkan keinginan lama tersebut. Gue dan rombongan mengunjungi Tanteri Ceramic yang merupakan toko, workshop, pabrik, sekaligus museum keramik, yang lokasinya ada di Tabanan, Bali.

Tanteri Ceramic didirikan hampir 30 tahun lalu, tepatnya tahun 1987 oleh I Made Tanteri dan sekarang sebagian hasil produksinya telah diekspor ke berbagai belahan dunia, terutama Eropa. Tahun 2011 Tanteri Museum of Ceramics resmi didirikan untuk mendokumentasikan segala kegiatan dan produk yang telah dihasilkan oleh Tanteri Ceramic selama 30 tahun. Di museum ini pengunjung bisa melihat perkembangan desain keramik sejak awal dibuat. Dari yang paling sederhana seperti vas bunga dengan hanya satu warna hingga ke desain rumit dengan berbagai macam teknik pewarnaan. Dan karena mendengar adanya museum ini, beberapa negara akhirnya juga menyumbangkan koleksinya untuk dipajang di museum ini.

Selanjutnya rombongan diajak ke tempat produksi keramik. Ternyata gak sembarang tanah liat bisa langsung dibuat jadi keramik. Untuk menghasilkan keramik yang berkualitas baik, tanah liat yang dipakai juga harus berkualitas baik. Itupun masih harus diolah terlebih dahulu agar bisa digunakan dalam produksi, misalnya dengan mengeluarkan udara yang terperangkap di dalamnya sehingga tidak menyebabkan keretakan saat keramik dibuat.

Di dalam workshop terlihat sekitar 10-15 karyawan yang sedang sibuk melakukan produksi keramik, dari persiapan bahan baku tanah liat, pembuatan desain keramik itu sendiri, lalu proses finishing, pembakaran, dan penyimpanan. Yang paling menarik buat gue tentu saja pembuatan bentuk keramiknya dong. Tiba-tiba bayangan mas Patrick dan mbak Demi muncul lagi ke permukaan.

Para pembuat keramik ini tampak sangat terampil menggunakan alat putar sambil membentuk tanah liat di hadapannya menjadi bentuk-bentuk menarik. Keliatannya sih gampang banget. Tinggal puter, tangan dicolokin ke tanah liat, usap-usap dikit, jadi deh. Setelah bentuk dasar jadi, dilanjutkan dengan dekorasi, yaitu mengukir atau menambahkan motif pada keramik. Motif khas Tanteri adalah bunga-bunga, cicak, burung, kodok, dan barong.

Lalu tibalah saat yang gue tunggu selama puluhan tahun. Gue ditawarin untuk mencoba membuat keramik. Very excited. Gue langsung memakai apron biar baju gak kotor dan duduk di depan alat putar. Sebenarnya sih mau buka baju biar makin mirip mas Patrick, apa daya bentuk perut beda jauh jadi diputuskan pake baju aja daripada jadi bahan bully netizen yang kejam hahahaha.

Yang harus dilakukan pertama adalah membuat tanah liat bertumpu tepat di tengah-tengah alat putar biar nanti hasilnya simetris. Dan sodara-sodara, proses ini sulit setengah mati. Para pembuat keramik profesional di sini harus belajar sekitar 3 bulan hanya untuk membuat tanah liat menempel tepat di tengah-tengah alat putar. Apa kabar gue? Hahahaha. Yawes akhirnya gue dibantu dululah dalam proses ini, jadi nanti gue tinggal bikin aja. Pelajaran selanjutnya adalah menekan pedal alat putar dengan kecepatan yang pas dan stabil. Ini juga sulit sebenarnya, tapi ternyata gue bisa kok. Berikutnya adalah membentuk tanah liat sambil terus menjaga putaran alat tetap stabil. Ini sulit banget!!! Sedikit gerakan tangan yang salah bisa menghancurkan bentuk tanah liat yang sudah kita buat. Dari niatan membuat vas bunga atau mangkok akhirnya gue cuma bisa membuat asbak kecil. Itupun gak karuan bentuknya huahahahaha.


Jangan sedih, semua aib itu terdokumentasi dengan lengkap oleh para ‘kru’ hahahahaha. Ternyata yang tadi terlihat gampang banget dilakukan oleh karyawan aslinya sulit banget lho. Tapi gue puas udah nyobain.

Another bucket list checked 🙂

PS:

1. Gambar mas Patrick & mbak Demi diambil dari pinterest

2. Yang jadi mbak Demi KW itu Tyra Lundy yang gak kalah kece dari mbak Demi asli.

3. Alamat Tanteri Bali:

Kantrungan Rd, Kediri, Pejaten, Kec. Tabanan, Kabupaten Tabanan, Bali 82121

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s