Rio dan 15 Juta Euro-nya


Beberapa minggu terakhir banyak berita mengenai Rio Haryanto yang ‘ingin’ masuk ke jajaran pembalap F1. Dengan segudang prestasi, banyak yang merasa dia pantas untuk masuk ke F1. Setuju banget. Namun kemudian ada syarat lain yang harus dipenuhi selain prestasi, yaitu membayar sejumlah uang ke tim yang merekrutnya. ‘Sejumlah’ di sini maksudnya 15 juta euro, atau setara dengan hampir 250 miliar rupiah. Wow!

And you know what? Pemerintah diminta untuk membayarnya. Yang artinya, uang rakyat. Uang kita. Uang gue. Entah mengapa, setelah membaca jumlahnya, gue jadi merasa bahwa uang sebesar itu gak sebanding dengan ‘imbalan‘ yang akan kita terima. Well, kita harus menerima imbalan dari apa yang kita investasikan kan? Kecuali itu dianggap sebagai ‘sedekah‘, yang menurut gue gak pantas diberikan pada Rio.

Coba bayangkan uang 250 miliar. Gue bantu ya. Jika UMR sekitar 2,5 juta, maka uang itu bisa untuk membayar upah 8 ribu buruh selama setahun. Jika harga beras rata-rata 10 ribu/kg, maka uang tersebut bisa untuk membeli 250 juta kg beras. Jika harga rumah sederhana rata-rata 50 juta, maka uang tersebut bisa untuk membeli 5000 rumah. Jika harga 1 busway 5 miliar, maka uang itu bisa untuk membeli 50 busway tambahan buat Jakarta. Belum lagi jika dipakai untuk membayar biaya sekolah, membiayai panti asuhan, membangun rumah sakit, dll. Belum lagi jika dibandingkan dengan APBD beberapa kota kecil di Indonesia (maap blom sempet googling 😊).

Sebenarnya buat apa sih pembalap harus bayar mahal sekali untuk bergabung dengan sebuah tim F1? Setelah googling, ternyata memang biaya yang dikeluarkan sebuah tim F1 itu besar sekali, meliputi research & development, produksi kendaraan, biaya operasional, dan gaji team. Totalnya hingga sekitar 3,2 triliun rupiah. Separuh dari APBD Bandung. Mahal sekali!! Dan instead of dibayar, pembalap yang diminta untuk membayar.

Gue coba bandingkan lagi dengan biaya penelitian dan pengembangan mobil tenaga surya buatan mahasiswa ITS. Kalo gak salah biayanya 5-10 miliar. Bayangkan apa yang bisa dilakukan dengan 250 miliar.

Gue ulang lagi, apa sih ‘imbalan’ yang kita dapat dengan ikut membiayai Rio di ajang balapan F1? Gengsi? Nama baik? Promosi negara? Don’t get me wrong, gue bangga dengan prestasi Rio. Sama bangganya dengan prestasi Susi Susanti atau Ellias Pical jaman dulu. Tapi membayar sedemikian besar untuk cabang olahraga (?) yang mungkin penduduk di daerah pun gak tau itu apa, rasanya terlalu berlebihan.

Mungkin agak gak nyambung, tapi gue mau analogikan dengan seleksi masuk perguruan tinggi favorit. Ada dua jalur yang dipakai, jalur prestasi (tes masuk) dan jalur khusus (membayar sejumlah uang). Dengan prestasi yang lebih baik, seorang calon mahasiswa bisa tidak lolos karena persaingan yang tinggi sementara kursi yang tersedia untuk jalur prestasi terbatas. Sebaliknya, dengan prestasi yang pas-pasan, seorang calon mahasiswa bisa lolos karena persaingan yang lebih rendah di jalur khusus. Terasa gak adil kan?

Kata orang pinter, “life is not fair, get used to it”. I know, but at least we can try yo build a fair system, right?
<foto dari crash.net>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s