Playing Victim


Seringkali kita kena macet dan menghabiskan waktu lebih lama di jalan hanya gara-gara satu angkutan umum berhenti untuk mengambil penumpang. Si penumpang sendiri masih jalan jauh dari ujung gang sementara di belakang sebenarnya ada angkutan umum yang sama. Tapi tetap saja si angkutan umum yang di depan berhenti menunggu dan membuat kemacetan panjang. Jika mobil-mobil di belakangnya protes, jawabannya ‘namanya juga cari duit, kan gak semua hidupnya enak naik mobil kayak situ‘.

Lalu ada kejadian macet berikutnya di mana banyak motor yang melawan arah jalan dan menghabiskan setengah jalur sendiri. Di tengah-tengah jalan, para motor itu memotong jalan dan menyeberang ke jalur sebelah. Saat pengendara mobil (dan angkutan umum tadi) protes, jawabannya ‘kalo harus muter kan jauh, panas (atau kehujanan), ngabisin bensin. Kita kan hidupnya gak seperti situ yang enak gak kepanasan (atau kehujanan) dan gak susah beli bensin‘.

Di bagian dunia yang lain, seorang pembantu yang tua dan miskin nekat mencuri barang milik majikannya, dan sayangnya ketahuan. Setelah diproses sesuai prosedur, si pelaku dihukum 3 bulan penjara. Beberapa aktivis HAM bersikeras untuk membebaskan si pelaku dengan pertimbangan ‘yang korupsi aja gak dihukum, masak ini cuma mencuri segitu aja harus dipenjara 3 bulan. Gak adil dong

Di suatu akhir pekan, diadakan sebuah lomba lari yang diikuti ribuan peserta. Anehnya lomba lari diadakan di jalanan umum, di jam sibuk (bukan pagi hari), yang akhirnya menyebabkan kemacetan parah di ibukota. Beberapa orang yang ditanya kenapa ikut, jawabannya ‘ini cara kita protes karena di hari-hari biasa jalur pejalan kaki diambil oleh kendaraan bermotor, sekarang waktunya kita ambil alih jalur mereka‘.

Seorang TKW dihukum mati di negara jauh karena telah terbukti dan mengaku membunuh majikannya. Para pembela HAM berjuang keras (termasuk mengumpulkan uang) memaksa pemerintah untuk membayar ganti rugi ke pemerintah negara tersebut agar si TKW dibebaskan. Si TKW akhirnya dibebaskan dan pulang ke Indonesia tanpa mendapatkan hukuman. Ketika ditanya, para pembela HAM menjawab ‘kita tidak boleh membiarkan warga kita dihukum di negara orang karena itu penghinaan terhadap martabat bangsa‘.

Dan saat ada ancaman hukuman mati bagi warga asing yang menjual narkoba di Indonesia, para pembela HAM tersebut hanya diam saja, dan bahkan sebagian (mungkin) mendukung. Alasannya ‘mereka bisa merusak generasi muda harapan bangsa dengan narkoba itu‘. Ketika ditanya peran orang tua, jawabannya ‘kan orangtua sibuk cari nafkah dan gak bisa mengawasi 24 jam‘.

Seorang wanita yang berpakaian sangat sexy melaporkan rekan kerjanya karena menurutnya pria itu telah melakukan pelecehan seksual dengan memberikan tatapan penuh nafsu padanya. Saat ditanya alasannya, jawabannya ‘saya jadi tidak nyaman bekerja di bawah tatapan seperti itu sepanjang hari. Saya merasa direndahkan‘. Namun saat ditanya kenapa berpakaian sexy, jawabannya ‘itu hak saya untuk berpakaian sesuai tingkat kenyamanan saya. Tapi itu tidak membuat para pria jadi berhak menatap saya seperti itu‘.

I try to understand, but then the question is ‘can we do everything (including breaking the rule) if we think we’re the victim?

<photo from goodereader.com>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s