Orang Asing


Kami duduk saling berhadapan di depan sebuah meja di sudut kafe langganan kami ini. Orang yang kebetulan melihat ke arah kami pasti mengira kami baru saja berkenalan. Tapi tidak, kami sudah lama kenal dan berhubungan baik seperti…ya seperti sepasang kekasih. Namun kali ini, saat dia mengajakku bertemu sambil memberikan alasan yang sangat mengejutkan, ya, aku memang tiba-tiba merasa dirinya adalah orang asing. Aku seperti tak pernah mengenalnya. Paling tidak, sisi dirinya yang ini.

“Kau tidak mau memesan sesuatu?” tanyaku pelan sambil menyentuh tangannya di atas meja. Dia hanya menggeleng pelan sambil menarik tangannya ke bawah meja. Aku hanya bisa menghela nafas panjang sambil melambaikan tangan memanggil pelayan.

“Saya mau kopi hitam, gulanya dipisah”. Aku memiliki perasaan bahwa aku akan membutuhkan kopi ini nanti.

“Dan satu vanilla milk shake untuk mbak ini” lanjutku. Itu adalah minuman kesukaannya. Dia selalu memesannya tiap kali kami mengunjungi kafe ini.

Si pelayan pergi meninggalkan kami. Sementara dia hanya memandangku sekilas dan kembali membuang pandangannya ke arah jalanan. Hening kembali menyeruak di antara kami sampai si pelayan datang membawa pesanan kami.

Aku menyesap kopiku dan kembali memandangnya. “Jadi apakah kau akan menjelaskan semuanya padaku sekarang?” tanyaku memecah keheningan di antara kami.

Tampaknya aku berhasil menarik perhatiannya. Dia mengalihkan pandangannya kepadaku sambil menghela nafas pelan.

“Aku minta maaf, Rey” ucapnya lirih.

“Dia sudah pulang dari Amerika?” Aku berusaha keras menjaga nada suaraku agar tetap datar. Dia hanya mengangguk sambil terus memandang keluar. Terlihat jelas bahwa dia tak sanggup menatap wajahku.

“Aku di depanmu, May, bukan di jalanan sana.” tegurku sambil meletakkan cangkir kopiku agak keras ke atas meja.

Dia sedikit tersentak. “Maaf, aku…”

“Kau takut dia akan datang ke sini?” aku memotong kata-katanya. “Atau kau memang mengharapkannya datang” sambungku sinis

“Sudahlah, Rey. Kita berdua tahu bahwa ini adalah kesalahan.” Suaranya nyaris meratap sekarang.

“Kesalahan siapa? Kesalahanmu atau kesalahanku?” nada suaraku makin dingin.

“Kesalahanku, Rey,” isaknya. “Aku minta maaf. Tapi kita berdua tahu saat ini akan datang.”

“Tidak, aku tidak tahu. Ingat, dia sudah meninggalkanmu hampir setahun tanpa mengirimkan kabar apapun padamu. Sekarang aku yang lebih berhak atasmu. Kau sadar itu kan?” semburku tanpa ampun.

Dia hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil terus terisak.

“Ayolah, May. Dia tak pernah mengingatmu setahun ini. Bukankah harusnya kau curiga saat tiba-tiba dia datang dan memintamu untuk kembali padanya?” Suaraku kembali datar.

“Tapi dia bilang dia selalu mengingatku, Rey. Dan aku percaya itu”
“Kau masih mencintainya” kataku setengah bertanya.

“Aku tak tahu. Aku merasa mengkhianatinya. Aku hanya merasa bersalah atas hubungan kita.”

“Jadi menurutmu hubungan kita ini sebuah kesalahan?” desakku.

“Bukan begitu, Rey. Tolonglah mengerti. Semua ini begitu rumit bagiku sekarang.”

“Ini tidak rumit, May. Bahkan ini sangat sederhana” suaraku makin tertekan. “Kau kesepian ditinggal olehnya, kau butuh pelarian, saat itu hanya aku yang ada, dan sekarang dia telah kembali, kau membuangku begitu saja” aku hampir berteriak.

“Kau tahu tidak seperti itu yang terjadi, Rey” katanya sambil terus terisak.

Ya, aku tahu. Aku masih mengingat saat pertama aku bertemu dengannya. Kantor kami berada dalam satu gedung. Kami bertemu saat pertama kali aku pindah ke kantorku yang sekarang. Di kantin sebelah kantor, tepatnya. Saat itu aku tak mampu menahan diriku untuk mendekatinya. Wajahnya yang sendu membuatku merasa ingin selalu membuatnya tersenyum. Karena aku tahu dunia serasa ikut tersenyum saat dirinya tersenyum. Perkenalan pertama diikuti oleh pertemuan-pertemuan berikutnya dan tanpa sadar kami sudah menjadi dekat layaknya kekasih.

“Aku sudah menceritakan semuanya padamu, kan? Aku tak menutupi apapun. Aku tak pernah berbohong padamu” suaranya mulai terdengar marah.

“Tapi ini sudah setahun, May. Setahun. Tiga ratus enam puluh lima hari. Tak sekalipun dia menghubungimu. Tidakkah itu cukup untuk membuatmu mempertanyakannya? kataku frustasi.

“Katanya dia sibuk merintis bisnisnya di sana. Dan sekarang setelah bisnisnya stabil, dia kembali untuk membawaku ke sana” katanya sambil menatap mataku.

“Dan kau menyanggupinya karena kau tak pernah menganggap hubungan kita ini serius, kan?” sekarang aku yang gantian membuang pandanganku ke luar.

Dia hanya terdiam dan menghela nafas panjang. Lagi. Aku tahu aku tak lagi memiliki kesempatan.

“Aku sayang padamu, Rey. Tapi aku harus memilih. Dia yang pertama kali memiliki hatiku” katanya sambil menyentuh tanganku. Aku menarik tanganku dan melipatnya di depan dadaku.

Aku mulai merasa dirinya terlepas perlahan-lahan dari genggamanku. Dan anehnya aku merasa lega. Aku menarik nafas panjang.

“Tidak, May. Hanya ada dua kemungkinan sekarang. Kau tak pernah mencintainya. Kalau kau masih mencintainya, kau tak mungkin mencintai orang lain. Atau kau tak pernah mencintaiku. Kedekatan kita selama ini hanya kau gunakan untuk mengisi kesepianmu” aku menyelesaikan kalimatku dalam satu tarikan nafas.

Mukanya terlihat memucat di bawah temaram lampu kafe. Tapi dia tak membalas ucapanku.

“Kurasa kau memang tak pernah mencintaiku. Aku yang bodoh telah menghabiskan waktuku denganmu. Tapi tak apa, kali ini aku telah belajar bahwa aku tak seharusnya semudah itu percaya” lanjutku.

Kemudian aku meraih dompetku, mengambil uang dan meletakkannya di atas meja, kemudian berdiri.

“Selamat tinggal, May. Kuharap kau tak menyesal telah membuang kesempatan terbaikmu untuk hidup bahagia” kataku sambil berjalan meninggalkannya.

Sedikit rasa sakit masih tersisa di sudut hatiku. Tapi sungguh nafasku terasa lega. Mungkin memang ini yang terbaik. Aku tak bisa membayangkan hidup bersama seseorang yang terus memikirkan orang lain sepanjang hidupnya. Kini aku akan mulai belajar melupakannya. Ini tak mudah, namun aku pasti bisa.

Aku melangkahkan kakiku menjauhi kafe itu. Mengubur semua kenangan bersamanya. Aku memandang langit yang terang oleh lampu kota dan mencoba tersenyum lagi.
*photo from familylife.com

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s