Taking A Breath – Part 4: SANTORINI


20140323-125808.jpg

Baca cerita jalan-jalan sebelumnya ke Istanbul di sini

Tahun 2001 saya bergabung dengan sebuah perusahaan otomotif Jepang terbesar di Indonesia. Project pertama saya adalah membuat sebuah strategi pemasaran dengan cara memberikan insentif berupa uang dan paket tour kepada sejumlah outlet yang berhasil mencapai target penjualan. Project berjalan selama hampir satu tahun. Di tahun 2002, setelah project berhasil memutuskan beberapa pemenang, saya mulai memikirkan hadiah tour-nya. Langkah pertama adalah mengumpulkan beberapa agen perjalanan dan mengadakan brainstorming mengenai tujuan, jadwal, dan biaya perjalanan sebelum diadakan pitching resmi. Salah satu usulan adalah Santorini. Itulah pertama kali saya mendengar tentang Santorini. Santorini dengan lautnya yang menenangkan, bangunan putih yang bertebaran di lereng tebing, dan langit senjanya yang sangat indah benar-benar merampas perhatian saya. Dan saya mulai membangun mimpi untuk mengunjunginya kelak. Tahun ini, DUA BELAS TAHUN KEMUDIAN, akhirnya saya berhasil mewujudkan mimpi saya tersebut. Yeaayy… 🙂

Tidak ada direct flight dari Istanbul ke Santorini, sehingga kami harus transit di Athena selama 3 jam sebelum melanjutkan perjalanan. Lama perjalanan adalah sekitar 1,5 jam dari Istanbul ke Athena dan 45 menit dari Athena ke Santorini dengan menggunakan Olympic Air. Ini pertama kalinya bagi saya untuk naik pesawat dengan baling-baling. I was so excited.

Karena pesawat dengan baling-baling memang tidak didesain untuk terbang terlalu tinggi, maka di beberapa spot, saya masih bisa melihat jajaran kepulauan yang terlihat sangat indah, apalagi saat mendekati Santorini. Oya, karena pesawat ini adalah pesawat kecil, maka pada saat check in biasanya kita dianjurkan untuk memasukkan barang ke bagasi. Koper ukuran kecil yang biasa dibawa ke kabin seringkali tidak bisa masuk ke dalam tempat tas di dalam kabin (di atas kursi penumpang). Jadi sebaiknya tetap siapkan tas yang bisa dikunci agar lebih aman jika memang diharuskan masuk ke bagasi.

20140323-125327.jpg

Oya, untuk keperluan internet selama di Santorini dan Athena pada saat transit di bandara Athena saya membeli kartu internet. Nama providernya adalah Cosmote, harganya 15 Euro berisi paket data 2 GB. Konon kartu ini bisa dipakai di banyak negara di Eropa. Kecepatan download dan uploadnya? Memuaskan 🙂

Saya tiba di Santorini sekitar jam 4 sore. Cuaca cerah, langit biru, udara sejuk. It’s just PERFECT! And you know what? Bandaranya terletak di pinggir laut dan saat turun dari pesawat kita masih bisa melihat laut dari atas landasan. Bandara Santorini adalah bandara yang kecil, jadi memang hanya bisa dimasuki oleh pesawat yang ukurannya relatif kecil. Kebanyakan local airlines.

Hotel kami berada di Fira. Ini adalah ibukota dan kota terbesar di Santorini. Terminal bus dan taksi cuma ada di kota ini. Tapi karena Santorini ini kecil maka sebenarnya ke mana-mana juga dekat. Bedanya, di Fira ini kalau malam masih lebih ‘hidup’ dibandingkan kota-kota lainnya. Jadi kami memutuskan untuk tinggal di Fira.

Dari bandara ke Fira bisa ditempuh dengan dua cara. Naik bus (1,6 Euro) sampai terminal, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki ke hotel, atau naik taksi (15 Euro) langsung ke hotel. Tapi harus diingat, struktur lansekap di Santorini itu bertingkat-tingkat karena pada dasarnya dulu merupakan pegunungan. Jadi hotel-hotel (yang menjual view) kebanyakan berada di sisi tebing. Ini artinya dari jalan besar tetap harus berjalan kaki untuk menuju hotel melewati gang-gang sempit. Karena itu kami memilih opsi pertama, yaitu naik bus ke terminal Fira. Sampai di terminal tinggal pasang online map, dan jalan ke hotel. Walaupun cuma 10 menit, tapi karena jalan menanjak sambil membawa koper besar, rasanya cukup melelahkan.

Seperti sudah saya tulis sebelumnya, hotel-hotel di sini kebanyakan dibangun di sisi tebing karena menjual view ke arah laut. Demikian juga hotel kami. Jumlah kamarnya cuma 9 buah, dan semuanya langsung menghadap ke laut. The view is amazing.

20140323-125557.jpg

Saat cek in, pihak hotel memberi kami peta dan sekalian menjelaskan ke mana saja kami harus pergi selama kami di Santorini (2 malam). Si mbak sangat ramah dan membantu apa saja pertanyaan kami. Karena sudah hampir jam 5, maka kami menanyakan apakah kami masih sempat untuk berburu sunset ke Oia dan bagaimana cara ke Oia segera. Jawabannya adalah: “You can go to Oia for the most popular spot to see the sunset, but actually here in Santorini everywhere is good spot to see the sunset”. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel saja dan baru besok ke Oia untuk berburu sunset. Dan ternyata si mbak benar, dari depan kamar hotel pemandangan sunset memang terlihat luar biasa.

20140323-130703.jpg20140323-130715.jpg

Καλημέρα. Selamat pagi. Ucapan ramah si mbak membangunkan kami pagi itu saat datang membawakan sarapan ke kamar. Iya, ke kamar. Karena hotelnya memang kecil, jadi hanya memiliki ruangan untuk receptionis dan kamar-kamar saja. Tidak ada ruang makan. Karena itulah, sarapan diantar langsung ke kamar-kamar. Sarapannya cukup enak. Berbagai macam roti dan kue, telur rebus, buah-buahan, jus jeruk, dan kopi. Tapi berhubung sudah mulai kangen nasi uduk, kenikmatannya sedikit berkurang hahaha. Kamarnya sendiri sangat nyaman, dilengkapi pemanas dan amenity yang cukup lengkap di kamar mandi. Ditambah lagi lazy couch di teras yang sangat sempurna untuk menikmati pemandangan laut di pagi dan sore hari.
20140323-132141.jpg

Hari kedua ini kami pergi ke sisi lain dari Santorini. Kami naik bus ke Akrotiri, untuk melihat reruntuhan peninggalan kota tua Yunani. Sayangnya saat kami tiba di sana kami tidak menemukan tempatnya. Namun kami tetap menikmati daerah tersebut. Kami berjalan kaki melewati pedesaan dan gereja-gereja tua sampai ke red beach. Dinamakan red beach karena tebing dan pasir yang berwarna merah akibat sedimentasi. Setelah puas mengambil foto kami kembali ke perhentian bus. Sesampai kami di sana, ternyata museum yang kami cari sebelumnya berada tepat di depan halte dan baru buka. Karena kami harus segera mengejar sunset maka dengan berat hati kami terpaksa melewatkannya.
20140323-131320.jpg20140323-131337.jpg20140323-131308.jpg

Sebenarnya kami masih ingin berkeliling ke pantai-pantai lainnya, namun kami harus mengejar waktu untuk melihat sunset. Selain itu kami mendengar cerita dari penduduk setempat bahwa pantai-pantai di Santorini bukan pantai landai seperti pantai-pantai di Bali, melainkan pantai-pantai berkarang. Jadi kami memilih untuk kembali ke Fira naik bus.

Sampai di Fira sudah jam 4, dan karena menurut pihak terminal bus berikutnya baru akan datang sekitar jam 4.30, akhirnya kami naik taksi ke Oia (15 Euro). Dan ternyata hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit sampai ke Oia. Masih lama sampai waktu sunset tiba. Jadi kami memutuskan makan di restoran setempat yang kebetulan buka. Kebetulan? Iya. Jadi begini ceritanya.

Santorini ini adalah salah satu tempat liburan utama di Yunani yang memang hanya ramai pada saat musim liburan, yaitu sekitar bulan April-September. Karena saya kesana masih di bulan Februari yang masuk low season, maka suasana tidak terlalu ramai. Di Santorini sebenarnya banyak restoran, toko, kafe, dan bar. Namun sebagian besar tutup di low season, dan baru buka nanti di peak season. Nah, kehidupan di Santorini sendiri memang benar-benar santai. Jadi toko/restoran biasanya baru buka jam 9 pagi, lalu tutup untuk istirahat sekitar jam 1 siang, dan kembali buka jam 5 sore sampai jam 9 malam. Jadi memang seperti saya sebutkan tadi, kebetulan sekali kami menemukan restoran yang buka sebelum jam 5 sore.

Rata-rata restoran lokal dikelola langsung oleh pemiliknya. Seperti restoran yang kami datangi ini dikelola oleh seorang pria tua dan anak perempuannya. Mereka yang langsung menerima pesanan, menyiapkan makanan, menghidangkan, sampai menerima pembayaran. Pelayanannya ramah sekali. Mereka menyapa dengan ramah, menjelaskan definisi makanan yang akan kami pesan dalam bahasa Inggris, dan bahkan mengajak ngobrol dengan sangat ramah. The food was delicious, and the wine was awesome. FYI, Santorini terkenal dengan industri wine di Yunani.

Sekitar jam 5.30 suasana masih terang, namun kami mulai berjalan ke arah tebing. Sebenarnya jalur pejalan kaki sepanjang tebing ini menyambung ke halaman hotel kami di Fira. Namun butuh waktu sekitar 3-4 jam untuk mencapai Oia dari Fira. Kalau ada waktu, hiking sepanjang jalur Fira-Oia ini sangat recommended. Ada dua spot sunset yang saya incar. Pertama adalah spot di depan gereja kubah biru yang fotonya telah berhasil membius saya 12 tahun lalu. Dan yang kedua adalah spot yang paling populer di kalangan wisatawan yang terletak di ujung Oia.

Sekitar jam 5.45 saya tiba di lokasi pertama. Matahari belum terlalu turun namun justru pas untuk posisi foto di depan gereja. Beruntung langit cerah tanpa mendung, sehingga tanpa menunggu lama saya berhasil mendapatkan foto impian saya.

Setelah itu kami bergegas menuju ke lokasi kedua untuk mengejar sunset. Saat tiba di sana, saya cukup terkejut. Perkiraan saya karena ini low season seharusnya tidak banyak wisatawan, namun ternyata saya salah. Di lokasi yang tidak terlalu luas itu ada sekitar 40-50 orang wisatawan yang juga sedang berburu sunset. Saya membayangkan jika ini peak season mungkin akan ada ratusan orang yang berkumpul di tempat itu, berdesak-desakan berburu sunset. Berebutan. Another blessing for me 🙂

Saat itu juga kebetulan ada dua orang wisatawan (Spanish?) yang bermain gitar dengan sangat indah. Mereka menghibur para pemburu sunset sambil menyanyikan lagu-lagu romantis. Beberapa pasangan terlihat berpelukan dan sesekali berciuman dengan latar belakang sunset dan kota Oia yang indah. Believe me, it’s a magical moment over the sunset! Di satu sisi pagar banyak pasangan yang mengunci gembok bertuliskan nama mereka berdua dan membuang kuncinya ke laut. Mereka percaya cinta mereka akan terikat selamanya dengan Oia jadi saksinya. Romantic, huh? :p

20140323-130057.jpg20140323-130108.jpg20140323-130123.jpg20140323-130137.jpg20140323-130150.jpg

Setelah sunset berlalu dan malam mulai datang, sekitar jam 7 kami bermaksud kembali ke Fira. Namun ternyata bus masih lama dan tidak ada taksi lewat. Jadi kami berjalan kaki terus ke arah Fira. Di tengah jalan ada taksi lewat ke arah Oia dan mempersilakan kami naik. Kata sopirnya ada yang order lewat telpon di Oia dan dia mempersilakan kami untuk bergabung. Namun ternyata saat tiba di Oia, si pemesan mengurungkan niatnya dan memilih untuk memesan taksi lain saja. Mungkin takut melihat tampang kami berdua hahaha.

Sampai di Fira kami berkeliling sebentar di kota sambil sekalian mencari makan malam. Akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran lokal lagi. Sang pemilik langsung melayani kami. Dia memberikan rekomendasi beberapa makanan lokal untuk kami pesan. Oya, siangnya saya makan pork steak di Oia, jadi malam ini saya mau coba yang lain. Teman saya mencoba mousaka, yaitu semacam lasagna yang berisi daging, terong, sayuran, dan keju. Sementara saya kembali mencoba hidangan pork tapi dimasak berbeda. Sebenarnya ada satu lagi makanan khas Yunani, namanya souvlaki. Penampilannya mirip sate daging. Yang cukup mengagetkan, setelah selesai makan kami diberi wine oleh pemiliknya. Gratis! Katanya dia buat sendiri. Well, I think I’m gonna fall in love with Greek people here. Humble, friendly, dan very generous. Setelah makan kami kembali ke hotel dan packing.

Keesokan harinya setelah sarapan kami check out dari hotel. Namun karena jadwal penerbangan kami ke Athena adalah jam 11 siang sementara jarak dari hotel ke bandara tidak terlalu jauh, maka sisa pagi itu masih sempat kami habiskan dengan membeli beberapa souvenir di toko-toko sekitar hotel. Jam 9.45 kami menuju bandara dengan menggunakan taksi. Dan jam 11 pesawat berangkat ke Athena.

I really love you, Santorini. I love your sea. I love your food. I love your wine. I love your sunset. I love your people. And definitely, I will come back one day. This is a promise I make to you.

Ευχαριστούμε, Τα λέμε ξανά

*foto-foto lain bisa dilihat di instagram saya: @BANGBERNARD

>

20140323-132440.jpg

20140323-132452.jpg

12 comments

  1. Mas Bernard, sy rencana tiba di Athens, jam 15:00 dan mau direct ke Santorini. Apakah proses imigrasi, bagasi di Athens cepat sehingga cukup waktu kalau sy naik pesawat jam 17:00 ?

    Like

    1. Halo Sisca. Prosesnya sih relatif cepat. Tapi kalau pindah penerbangan, saya kuatir agak terburu-buru kalau hanya 2 jam. Itu blom hitung resiko delay. Mendingan cari flight yang lebih malam ke Santorini atau cari penerbangan yang lebih awal tibanya di Athens.

      Have fun! 🙂

      Like

  2. ban bernard mw tanya donk lokasi busnya dibandara dimana yah ? apakah busnya banyak yg ke fira dan ada wkt2nya ? trs naek bus dari bandara ke fira brp lama yah kira2 ? mohon infonya yah. Terima kasih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s