Pre-school. Is It Necessary?


Pre-school. Is It Necessary?
(written: Wednesday, July 17, 2013)

Minggu ini anak sekolah mulai masuk setelah libur panjang. Semangat memenuhi jiwa para orangtua dan (sebagian) anak-anak mereka. Saya sempat terlibat diskusi yang sebenarnya tidak terlalu penting tapi cukup menarik. Jadi ceritanya adik saya waktu itu mengatakan rencananya untuk memasukkan anaknya ke pre-school beberapa bulan lagi. Padahal umur anaknya baru 2 tahun. Hal ini mengingatkan saya akan pembicaraan saya beberapa kali dengan beberapa teman mengenai hal yang sama. Pertanyaan saya adalah: apakah benar-benar perlu untuk menyekolahkan anak di usia yang masih sedemikian muda.

Reaksi yang saya dapatkan selalu sama. Kata mereka saya tidak tahu rasanya jadi orangtua karena saya belum punya anak (padahal saya hanya bertanya dan tidak menyalahkan siapa-siapa). Reaksi normal yang dipicu rasa bersalah karena melakukan sesuatu yang (menurut saya) tidak logis pada anaknya. Sementara alasan yang saya dapatkan bermacam-macam, diantaranya:

1. Jaman sekarang masuk TK saja sudah ada tes bermacam-macam, jadi mengikuti pre-school itu adalah untuk mendapatkan ‘ilmu’ yang menjadi bahan tes masuk TK yang (katanya) bergengsi tersebut.

2. Jaman sekarang sudah jarang anak-anak bermain bersama teman-temannya seperti jaman dulu, jadi ikut pre-school itu fungsinya untuk belajar bersosialisasi

3. Jaman sekarang sudah jadi trend untuk mengikuti pre-school, jadi kalau tidak ikut trend nanti dikira tidak perhatian sama anak.

4. Guru di pre-school lebih tau cara mendidik anak yang benar dibandingkan orang tua.

Saya tidak habis pikir mengapa ada TK yang mensyaratkan tes macam-macam untuk seorang anak yang ingin mendaftar. Apakah TK tersebut sedemikian bergengsinya sampai-sampai semua orangtua ingin anaknya masuk ke TK tersebut dan sekolah akhirnya harus mengadakan seleksi karena kapasitas terbatas? Kalau SD-SMP-SMA bergengsi saya masih bisa menerima, itupun bergengsi karena kualitas. Tapi kalau TK kok rasanya tidak masuk akal. Bukankah TK seharusnya menjadi tempat untuk pendidikan awal yang sifatnya masih bermain sekaligus belajar? Pendidikan yang seharusnya belum terlalu ‘serius’, sehingga kualitas tidak terlalu signifikan untuk dibandingkan. Mengapa harus ada istilah ‘bergengsi’ atau ‘tidak bergengsi’? Dan lebih heran lagi kenapa orang tua terkesan ‘memaksakan’ anaknya masuk TK tersebut hanya karena bergengsi? Dengan makin bergengsinya sekolah, maka tes juga akan semakin sulit (banyak saingan), dan otomatis tuntutan orangtua juga makin tinggi terhadap anak agar lulus tes masuk TK. Nah, akhirnya si anak juga yang jadi korban karena tertekan sejak pre-school. Tempat yang ‘katanya’ hanya untuk main-main malah berubah menjadi tempat belajar ‘serius’ agar lulus masuk TK bergengsi.

Anak-anak jarang bermain, jadi butuh tempat untuk bersosialisasi. Ini juga agak aneh. Kalau anak-anak jarang bermain dengan teman-temannya, ya ajaklah bermain bersama teman-temannya, baik tetangga, saudara, dll. Ajak anak ke mall, ke pasar, ke rumah saudara, reuni sekolah, dll. Sehingga mereka bisa belajar bersosialisasi. Tidak perlu dengan membayar mahal di pre-school. Lagipula dulu pun kita belum boleh bermain keluar bersama teman-teman di umur 2 tahun. Jadi alasan bersosialisasi sangatlah dibuat-buat.

Trend? This is so silly. Demi sekedar mengikuti trend orang tua rela ‘mengorbankan’ waktu bermain anak? Teman saya mengatakan bahwa pre-school itu dibuat se-menyenangkan mungkin buat si anak. Jadi terserah anaknya, kalau mau ya masuk sekolah, kalau sedang tidak mau ya di rumah saja. Really? Menurut saya kok tidak seideal itu kenyataannya. Most cases si anak tidak mau sekolah. Lalu dipaksa. Kenapa harus dipaksa? Karena sudah terlanjur bayar mahal, sayang kalau bolos. Bener gak?

Yang namanya guru pasti lebih menguasai cara mendidik anak yang benar. Di sekolah. Kalau memang tujuan pre-school itu untuk main-main saja, ya kenapa tidak orang tuanya saja yang mendidik di rumah. Masak sekedar menyanyi, mendongeng, mewarnai, orang tuanya tidak bisa? Oh, mungkin bukannya tidak bisa, tetapi tidak mau tepatnya.

Menurut saya, usia 4 tahun itu adalah usia termuda untuk mulai bersekolah. Di bawah itu rasanya masih terlalu dini. Pendidikan yang diterimanya haruslah pendidikan di rumah. Dari orangtuanya. Bukannya diserahkan ke orang lain (baca: guru) untuk dididik. Mungkin ini akan terasa pedas, tapi menurut saya banyak orangtua jaman sekarang cenderung melemparkan tanggungjawab. Alasannya pun macam-macam, namun yang terutama adalah: sibuk. Kedua orangtua bekerja dari pagi sampai malam, mencari uang, yang ‘katanya’ demi anak. Tapi apakah mereka sadar bahwa yang dibutuhkan anak bukan hanya uang. Tapi waktu dan perhatian. Apalagi bagi anak yang masih sangat kecil.

Sebagai orang tua kita selalu berkilah bahwa semua yang kita lakukan adalah demi kebahagiaan anak. Really? Yakin? Bukannya demi kebahagiaan si orang tua sendiri?

Buat saya, pre-school adalah market baru yang sengaja dibuat oleh sekolah-sekolah jaman sekarang. Seperti halnya conditioner. Jaman dulu kita hanya menggunakan shampoo, dan tidak pernah menggunakan conditioner. Ada masalah? Tentu tidak ada. Namun sejak conditioner diperkenalkan hingga sekarang, kita merasa ‘harus’ menggunakan conditioner setelah keramas menggunakan shampoo. Demikian juga dengan pre-school. Dulu jaman kita kecil rasanya tingkatan paling bawah untuk sekolah adalah TK. Tanpa ada pre-school. Dan kondisinya baik-baik saja. Sekarang setelah pre-school diperkenalkan, kita jadi ikut-ikutan merasa ‘harus’ menggunakannya. Jika tidak ada yang dikorbankan ya tidak ada masalah, tapi jika ini sudah mengorbankan masa kecil si anak, rasanya perlu dipikirkan ulang.

Ini hanya sekedar opini dari ‘orang yang belum tahu rasanya jadi orangtua’. The choice is yours.

5 comments

  1. Hi, salam kenal ya…
    Well, I forgot how I found your site but to this to answer your journal which is, Preschool, is it necessary? A lil insight to your questions, hehehe…
    Years ago, aku pernah mengajar di beberapa kindergartens. Usia murid-murid di kindergarten ini bervariasi dari usia 1,5 – 5,5 / 6 tahun. Ok, memang terkesan agak ekstrem ya anak usia 1,5 tahun sudah dimasukkan ke TK, tapi sekolah untuk anak seusia mereka ini lebih mirip dengan day care, tempat penitipan anak, tapi kalau day care kan seharian dan dibawah pengawasan dokter anak dan baby sitter.
    Nah, apa saja sih yang dipelajari oleh anak-anak itu selama di sekolah mereka itu. Well, anak2 dibawah usia 3 tahun itu masuk kedalam kelompok toddlers/preschoolers, mereka disana belajar mengembangkan gerak motorik kasar dan motorik halus mereka. Motorik kasar lebih kepada gerakan sehari-hari mereka saat bermain dan gerak juga bersosialisasi. Yes, even kids yang masih usia batita (bawah tiga tahun) seperti mereka pun perlu bersosialisasi, hahaha… Dulu, salah satu muridku kalau dirumah suka sekali mencubit, semua orang dicubiti, mama, papa, abang, baby sitter dan bahkan guru private-nya, yaitu aku 😀 tapi disekolah dia nggak pernah mencubit, dia baik sama teman2nya dan mau bermain dengan baik, weird huh? 😀 Lalu motorik halus adalah bagaimana mereka menggerakkan bagian tubuh mereka yang paling esensial utk kemajuan mereka, misalnya how to hold a pencil, learning to trace numbers and alphabets (menebalkan huruf dan angka), lalu mulai belajar mewarnai dan menempel (di usia ini menggunting masih jatah gurunya, (hehehe… Lap ingus murid dan nemenin mereka ke toilet smp ketemu baby sitter juga jatah gurunya, huhuhu *curhat* 😀 ). Lalu perlahan-lahan mereka mulai mengenal angka dan belajar berhitung.
    Kalau di TK (usia 4-6 tahun) mereka belajar yang lebih berat, belajar berhitung, menjumlahkan, baca tulis dan belajar menulis indah dan tegak bersambung.

    To sum up my blabs, menurutku semuanya kembali lagi kepada setiap orang tua mengenai keputusan menyekolahkan anak mereka di usia yang masih dini, seperti 2-3 tahun. Apa sih tujuan dan motivasi mereka? Ok, toddlers/preschoolers memang tidak sekolah setiap hari, biasanya hanya 3 kali dalam seminggu. Biasanya mereka berharap anak-anak mereka sudah siap untuk memasuki sekolah formal (baca: SD) dengan cara mendaftarkan mereka utk bersekolah dari usia sedini mungkin.
    Tau nggak kalau sekarang ini guru-guru SD kelas 1 tidak akan mau menerima murid yang belum bisa baca tulis dan simple math seperti penjumlahan dan pengurangan? Karena mgkn sudah bkn merupakan tanggung jawab mereka untuk mengajarkan hal2 spt itu lagi. Dan para ortu bagaimana? They freak out when they know about this thing, karena itu sebisa mungkin mereka berharap anak2 mereka sudah mampu dan bisa mengikuti dengan baik dengan cara memasukkan anak2nya bersekolah dari sedini mungkin. Salah satu muridku dulu usianya sdh 6 tahun lewat bbrp bulan dan harus mendaftar ke SD tapi ditolak karena menulis namanya sendiri saja dia nggak bisa, begitu jg dengan berhitung, pdhal anak ini indo Italy gantengnya nggak nahan tapi sayangnya dia nakal dan malas sekolah, sementara gurunya (baca: saya sendiri) sampai deg2an pusing tiap papanya yang ganteng pisan ituh datang tanya perkembangan anaknya 😀
    Anyway, long story short, kalau menurut aku sih ortu juga tetap punya porsi tanggung jawab yang besar utk pendidikan anak2nya. Dirumah mereka harus mengajari anak2nya mengeja, penjumlahan, pengurangan dan bahkan perkalian, ini bagian dalam membangun ikatan antara ortu dan anak, dulu sih emak aku yang ngajarin diluar jam sekolah.
    Lalu bagaimana dengan ortu2 yang males? Ya masukin aja anak2nya ke preschool atau TK trus les-in Kumon atau aritmatika, selesai deh, hehehe…
    Oh, tentang anak2 preschool dan TK yg harus di test sebelum masuk? Nggak semua sekolah seperti itu, kok 😉

    Oh, fyi… Preschool dan TK jaman sekarang admission and tuition fee-nya can hit 15-20 juta rupiah per kid 😀 tapi sometimes worth dengan pendidikan yang didapat si anak.
    Tapi sayangnya guru-gurunya gajinya kecil-kecil, huhuhu… *lah curhaaattt* hahaha…

    Anyway… Sekian dan terima kasih, semoga berkenan membaca replyan dari seorang guru gadungan yang panjangnya menyaingi jurnalnya sendiri 😀

    Mauliate godang *guru gadungan undur diri*

    Like

  2. Hi, salam kenal ya…
    Well, I forgot how I found this site but this to answer your journal, Preschool, is it necessary? A lil insight to your questions, hehehe…
    Years ago, aku pernah mengajar di beberapa kindergartens. Usia murid-murid di kindergarten ini bervariasi dari usia 1,5 – 5,5 / 6 tahun. Ok, memang terkesan agak ekstrem ya anak usia 1,5 tahun sudah dimasukkan ke TK, tapi TK untuk anak seusia mereka ini lebih mirip dengan day care, tempat penitipan anak, tapi kalau day care kan seharian dan dibawah pengawasan dokter anak.
    Nah, apa saja sih yang dipelajari oleh anak-anak itu selama di sekolah mereka itu. Well, anak2 dibawah usia 3 tahun itu masuk kedalam kelompok toddlers/preschoolers, mereka disana belajar mengembangkan gerak motorik kasar dan motorik halus mereka. Motorik kasar lebih kepada gerakan sehari-hari mereka saat bermain dan gerak juga bersosialisasi. Yes, even kids yang masih usia batita (bawah tiga tahun) seperti mereka pun perlu bersosialisasi, hahaha… Dulu, salah satu muridku kalau dirumahnya suka sekali mencubit, semua orang dicubiti, mama, papa, abang, baby sitter dan bahkan guru private-nya, yaitu aku 😀 tapi disekolah dia nggak pernah mencubit, dia baik sama teman2nya dan mau bermain dengan baik, weird huh? 😀 Lalu motorik halus adalah bagaimana mereka menggerakkan bagian tubuh mereka yang paling esensial utk kemajuan mereka, misalnya how to hold a pencil, learning to trace numbers and alphabets (menebalkan huruf dan angka), lalu mulai belajar mewarnai dan menempel (di usia ini menggunting masih jatah gurunya, juga mengelap ingus mereka dan juga menemani ke toilet sampai ketemu baby sitter-nya, hehehe…). Lalu perlahan-lahan mereka mulai mengenal angka dan belajar berhitung.
    Kalau di TK (usia 4-6 tahun) mereka belajar yang lebih berat, belajar berhitung, menjumlahkan, baca tulis dan belajar menulis indah dan tegak bersambung.

    To sum up my blabs, hehehe… Menurutku semuanya kembali lagi kepada setiap orang tua mengenai keputusan menyekolahkan anak mereka di usia yang masih dini, seperti 2-3 tahun. Apa sih tujuan dan motivasi mereka? Ok, toddlers/preschoolers memang tidak sekolah setiap hari, biasanya hanya 3 kali dalam seminggu. Biasanya mereka berharap anak-anak mereka sudah siap untuk memasuki sekolah formal (baca: SD) dengan cara mendaftarkan mereka utk bersekolah dari usia sedini mungkin.
    Tau nggak kalau sekarang ini guru-guru SD kelas 1 tidak akan mau menerima murid yang belum bisa baca tulis dan simple math seperti penjumlahan dan pengurangan? Karena mgkn sudah bkn merupakan tanggung jawab mereka untuk mengajarkan hal2 spt itu lagi. Dan para ortu bagaimana? They freak out when they know about this thing, karena itu sebisa mungkin mereka berharap anak2 mereka sudah mampu dan bisa mengikuti dengan baik dengan cara memasukkan anak2nya bersekolah dari sedini mungkin.
    Kalau buatku sih ortu juga tetap punya tanggung jawab yang besar utk pendidikan anak2nya. Dirumah mereka harus mengajari anak2nya mengeja, penjumlahan, pengurangan dan bahkan perkalian, ini bagian dalam membangun ikatan antara ortu dan anak, dulu sih emak aku yang ngajarin diluar jam sekolah.
    Lalu bagaimana dengan ortu2 yang males? Ya masukin aja anak2nya ke preschool atau TK trus les-in Kumon atau aritmatika, selesai deh, hehehe…
    Oh, tentang anak2 preschool dan TK yg harus di test sebelum masuk? Nggak semua sekolah seperti itu, kok 😉

    Oh, fyi… Preschool dan TK jaman sekarang admission and tuition fee-nya can hit 15-20 juta rupiah per kid 😀 tapi sometimes worth dengan pendidikan yang didapat si anak.
    Tapi sayangnya guru-gurunya gajinya kecil-kecil, huhuhu… *lah curhaaattt* hahaha…

    Anyway… Sekian dan terima kasih, semoga berkenan membaca replyan dari seorang guru gadungan yang panjangnya menyaingi jurnalnya sendiri 😀

    Mauliate godang *guru gadungan undur diri*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s