Gaji Oh Gaji


Gaji oh Gaji
(Written: Sunday, June 23, 2013)

Suatu ketika teman saya bertanya, apakah gaji adalah motivasi utama saya bekerja saat ini?

Saat mendapatkan suatu tawaran pekerjaan, yang pertama saya lihat memang bukan gaji, melainkan jenis pekerjaan dan lingkungan pekerjaannya. Namun pada saat menerima tawaran pekerjaan tersebut, gaji menjadi faktor yang paling saya pertimbangkan.

Menurut saya, ada beberapa level yang menyangkut gaji pada suatu pekerjaan, dan itu berbeda untuk tiap orang.

Level pertama adalah orang yang menerima pekerjaan apapun tanpa melihat berapa gaji yang didapatkan. Saya pernah ada di level ini, yaitu pertama kali bekerja pada saat lulus kuliah. Saat itu saya membutuhkan pekerjaan (baca: butuh uang), sehingga saya ikuti hampir semua panggilan interview pekerjaan tanpa melihat/melakukan survey mengenai berapa gaji yang akan saya dapatkan. Istilahnya saya merasa belum pantas ‘menetapkan harga’ untuk diri saya. Namun tentu pada saat mendapatkan beberapa tawaran pada saat yang bersamaan, saya akan memilih yang gajinya paling besar.

Level kedua adalah orang yang mulai memperhitungkan gaji yang akan didapat pada saat menerima suatu pekerjaan. Ini adalah level dengan range sangat luas, tentu karena tiap orang punya standar yang berbeda jika menyangkut taraf hidup. Saat ini saya ada di level ini. Saya merasa memiliki pengalaman dan skill yang cukup berarti untuk ‘dijual’, sementara saya masih merasa taraf hidup saya belum cukup untuk disebut mapan. Jadi, gaji masih utama untuk saya.

Jika ada suatu perusahaan yang menawarkan pekerjaan kepada saya, tentu saya akan melihat berapa besar tawarannya. Bukan berarti matre, saya hanya merasa memiliki pengalaman dan skill yang cukup pantas untuk ‘dihargai’ di level tertentu jika perusahaan tersebut ingin saya bergabung. Ini cukup wajar, karena pengalaman dan skill tersebut kelak akan membantu perusahaan tersebut untuk mencapai tujuannya. Dan tentu itu juga wajar untuk menarik saya dari ‘zona nyaman’ ke ‘zona kerja keras lagi’.

Level berikutnya adalah orang yang sebenarnya sudah memiliki passive income, dan bekerja pada suatu perusahaan hanya untuk mendapatkan pengalaman atau mencari ‘rasa aman’ jika ternyata usahanya tidak menghasilkan seperti yang diharapkan. Pada level ini orang sudah bekerja pada suatu perusahaan dengan sangat nyaman. Istilahnya, tanpa resiko. Kalau performance dianggap jelek ya keluar, cari lagi. Gaji bukan masalah, toh sudah punya passive income yang cukup. Lumayan, dapat asuransi kesehatan gratis, dan pengalaman berbisnis.

Level berikutnya lagi adalah level paling tinggi. Yaitu sudah memiliki perusahaan sendiri yang mapan, sudah mampu membayar orang, dan sudah mampu melakukan charity ke banyak orang. Kalaupun menerima suatu tawaran pekerjaan, biasanya sekedar mengisi waktu atau dengan tujuan ‘berbagi’, misalnya menjadi konsultan, dosen, atau motivator. Gaji bukan lagi segalanya. Bahkan bersedia tanpa dibayar untuk beberapa pekerjaan. Ini adalah level yang menjadi mimpi saya.

Jadi sekali lagi, jika ditanya apakah saat ini gaji adalah motivasi yang paling utama bagi saya dalam bekerja, saya akan menjawab YA 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s