Wanita Yang Naik Kelas


Wanita Yang Naik Kelas
(Written: Friday, June 7, 2013)

Sebelum baca sampai habis, tolong diingat bahwa ini pendapat pribadi. Dilatarbelakangi kehidupan saya sejak kecil yang sangat bahagia dengan kondisi yang ada.

Saat ini ’emansipasi’ yang konon dimulai sejak jaman Ibu Kartini sudah terlihat hasilnya. Sukses? Sejujurnya saya juga tidak yakin. Jika ukuran kesuksesan adalah posisi wanita sejajar dengan pria, maka saat ini hal tersebut sudah dianggap lebih dari sukses. Jaman sekarang wanita bisa jadi apapun yang mereka inginkan, bisa mendapatkan apapun yang mereka butuhkan. Bahkan bukan hanya sejajar, namun di beberapa hal melebihi kaum pria. Termasuk keistimewaan dan fasilitas khusus yang memang diperlukan (cuti haid, cuti melahirkan, ruang menyusui, dll).

Di Indonesia, jangankan hanya menempati posisi penting di perusahaan, wanita bahkan sudah bisa menjadi Presiden (walaupun tidak satu periode penuh). Para wanita yang saya kenal sebagian sudah menjelma menjadi urat nadi di sebuah perusahaan sehingga perusahaan tersebut bahkan menjadi bergantung pada mereka. Apakah mereka mampu? Sangat mampu. Apakah itu yang mereka inginkan? Mungkin. Selamanya? Nah, ini yang ingin saya ceritakan.

Saya dibesarkan di keluarga yang ibunya tidak bekerja. Yang dimaksud tidak bekerja disini adalah bukan pekerja kantoran. Ibu saya adalah ibu rumah tangga. Yang mencari nafkah adalah ayah saya. Ibu saya ‘hanya’ bekerja sebagai ibu rumah tangga. Mengelola uang yang dicari ayah saya. Mengelola kebutuhan rumah tangga dari mengatur makan sehari-hari, membeli perlengkapan rumah, mengatur urusan sekolah anak-anak, sampai membayar semua cicilan. Saat saya dan saudara-saudara saya bangun pagi, ibu sudah siap dengan baju seragam, sarapan, dan bekal buat sekolah. Saat pulang sekolah, ibu sudah siap dengan makan siang dan menemani tidur siang. Malamnya ibu sudah siap dengan makan malam, menemani belajar dan mengerjakan PR, lalu menyuruh tidur. Dari bangun tidur sampai tidur lagi sosok ibu selalu ada di dekat saya.

Kebiasaan berdekatan dengan ibu membuat kami anak-anaknya secara tidak langsung menerapkan dalam kehidupan kami setelah dewasa. Istri abang saya tidak bekerja. Adik perempuan saya berhenti bekerja setelah menikah. Adik perempuan saya satu lagi berhenti bekerja setelah memiliki anak dan memulai usaha rumahan. Kelak jika saya menikah saya juga ingin istri saya tidak bekerja. Alam bawah sadar kami memerintahkan kami untuk mengulang masa kecil kami ke anak-anak kami.

Katakanlah saya berpikiran tradisional, konservatif, atau apapun itu. Tapi saya menikmati masa kecil saya. Dan saya masih berpendapat bahwa peran orangtua masih sangat diperlukan dalam pembentukan dasar watak dan kejiwaan seorang anak. Jaman sekarang, alasan utama wanita bekerja (selain emansipasi) adalah mencari nafkah. Kebutuhan hidup meningkat jadi wanita merasa bertanggungjawab untuk membantu mencari tambahan penghasilan bagi keluarga. Di postingan sebelumnya saya sudah bercerita bahwa penghasilan ayah saya dulu juga tidak seberapa. Justru ibu ‘bekerja keras’ untuk mengaturnya. Dan bisa. Mengapa sekarang itu malah jadi alasan?

Saat kedua orangtua bekerja mencari nafkah, bagaimana nasib sang anak? Biasanya dirawat babysitter, dititipkan ke daycare, atau dititipkan ke nenek/kakeknya. Walaupun berpengalaman, babysitter tetaplah orang lain. Kita tidak tahu apa yang dilakukannya saat kita tidak ada. Demikian pula dengan daycare, seprofesional apapun itu. Bagaimana dengan orangtua kita? Bukankah mereka telah ‘sukses’ membesarkan kita? Jangan salah. Mereka bisa ‘keras’ dan ‘disiplin’ pada anaknya dulu, tapi tidak demikian kepada cucunya. Mereka terlalu sayang pada cucunya, sehingga akan cenderung memanjakan dan menuruti apa kemauan cucunya tersebut. Dan ini tidak baik bagi perkembangan anak. Bagi saya, merawat anak sehari-hari adalah tetap tanggung jawab orangtuanya.

Saya tidak mengatakan bahwa hal tersebut hanya tanggung jawab sang istri. Tapi paling tidak harus dilakukan oleh salah satu. Harus ada pembagian fungsi. Pertanyaan saya, apakah kaum wanita mau menerima jika pasangannya tinggal di rumah dan merawat anak sementara mereka bekerja mencari nafkah? Jika pertanyaan serupa diajukan pada pria, kebanyakan akan menjawab bersedia jika pasangannya di rumah merawat anak. Namun tidak demikian bagi wanita.

Bagi pria, pekerjaan merupakan ‘harga diri’. Sedangkan bagi wanita, suaminya adalah ‘harga diri’ mereka. Jika mau jujur, mereka akan merasa malu jika suaminya tidak bekerja. Kalau harus memilih, dalam kasus ini memang sebaiknya kembali ke kebiasaan masa lalu, dimana pria bekerja mencari nafkah dan wanita merawat anak di rumah dibandingkan sebaliknya.

Jangan salah. Ini bukan pendapat saya sendiri. Dalam pembicaraan dengan teman-teman wanita saya yang saat ini bekerja, kebanyakan mereka juga menyadari hal ini. Alasan utama mereka bekerja adalah membantu mencari nafkah. Mereka sudah punya rencana untuk ‘naik kelas’ (ini istilah yang mereka gunakan) menjadi ibu rumah tangga. Mengapa menggunakan istilah ‘naik kelas’? Karena mereka berpendapat bahwa profesi ibu rumah tangga itu memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi dan posisi yang sangat mulia. Jika mereka memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga maka seolah-olah mereka mendapatkan ‘promosi’ ke posisi yang lebih tinggi.

Sekali lagi, yang saya maksudkan bekerja disini adalah bekerja di luar rumah. Banyak wanita yang sukses bekerja di rumah sambil menjadi ibu rumah tangga. Dan sekali lagi, pendapat saya ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang masa kecil saya.

Jadi, kapan anda ‘naik kelas’? Good luck 🙂

10 comments

  1. Saktenane aku setujuu bgt dg opini bang bernard. Tapi, kenapa aku juga bekerja pada orang lain? Lagi2 alasannya adalah, membantu suami memenuhi kebutuhan RT :D, dan karena kami belum punya momongan, jadi sangat perlu banget buat aku pribadi punya komunitas yg bisa membuat aku ‘fresh’…jadi ibu RT sebenarnya adalah mimpiku dari kecil. Karena aku dibesarkan oleh keluarga yg Ibu saya bekerja. Senang, di jaman super moderat ini bang bernard masih berpikiran ‘konvensional’. Wish u find the correct one soonest.

    Like

  2. Kehidupan keluarga saya sama kaya cerita diatas, dan saya setuju dengan itu. Terlebih lagi, saya setuju dengan paragraf di tengah yang menjelaskan bahwa peran orangtua tidak bisa digantikan oleh apapun.
    Begitu pula ketika saya kuliah psikologi, saya diajarkan bagaimana pola pengasuhan kepada anak yang seharusnya dilakukan orang tua sendiri sebagai panduan atau model yang baik. Touch dari orang tua lah yang seharusnya banyak mempengaruhi kehidupan anak.
    Tulisan yang bagus, izin reblog ya 🙂

    Like

  3. saya setuju banget sama postingan ini. emansipasi boleh boleh ajah tapi jangan lupa dengan kodrat wanitanya (hamil-mengasuh anak-melayani suami dll)

    saya juga termasuk orang yang diasuh sendiri oleh ibu saya. saya juga punya saudara yg kedua orang tuanya bekerja, dan saya bisa melihat perbedaan di antara kami. saya beruntung. hehehehehe.

    “buah jatuh tidak jauh dari pohonya” —-> quote tersebut kalo boleh saya definisikan sendiri, jika anak tidak berbeda jauh dari orang tuanya, bukan karena hereditas tapi lebih karena modelling. karena orang tua adalah role model bagi anak-anaknya. 😀

    Like

  4. Saya juga saya juga..sekarang saya masih bekerja sebagai karyawan. Jika nanti saya telah menikah dan punya anak, saya tetep ingin bekerja, tapi bekerja dari rumah atau punya usaha yang bisa saya atur jam kerjanya. Jadi saya tetap bisa mengatur kebutuhan rumah dan berkarya juga.

    Terima kasih sharingnya..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s