Jakarta dan Macet


Jakarta dan Macet
(written: September 7, 2012)

Kemarin saya ikut seminar di German Center yang membahas mengenai kemacetan di Jakarta. Judulnya serem, Jakarta’s Armageddon. Pembicaranya bule (pengamat dan konsultan dunia otomotif), yang datang juga 80% expatriate yang rata-rata sudah lama tinggal di Jakarta (bahkan ada yang sudah lebih dari 20 tahun), namun diskusi berlangsung sangat lancar dan menarik. Yang paling menonjol sih makanannya yang enak-enak banget hahahaha. Tapi itu nanti aja dibahas, sekarang saya mau share sedikit mengenai materi seminarnya.

Dalam seminar itu dibahas mengenai beberapa problem utama mengapa kemacetan terjadi di Jakarta dan membahas kemungkinan solusinya juga.

Yang pertama dan paling disorot adalah jumlah mobil yang sangat banyak di Jakarta. Dan pembahasannya kurang lebih sama dengan yang pernah saya tulis beberapa bulan lalu (baca disini)

Lalu masalah yang kedua adalah polusi yang luar biasa parah. Ini juga jadi penyebab kenapa orang lebih senang menggunakan mobil pribadi. Bagaimana orang mau menggunakan kendaraan umum jika mereka sampai sesak nafas terkena sisa pembakaran mobil-mobil yang lalu lalang di jalanan. Harusnya pemerintah sudah mulai menerapkan standar bahan bakar setara Euro 5 seperti halnya negara-negara tetangga lainnya. Aturan mengenai kendaraan yang beremisi tinggi juga harus diperketat. Ada yang membuat saya malu kemarin. Salah satu peserta seminar (expat juga) menceritakan bahwa dia pernah melihat sebuah kendaraan keluar dari tempat pengecekan tingkat emisi, masih tetap berasap hitam, namun sudah ada sticker bebas emisi. Setelah mencari tahu, ternyata dia bayar hanya untuk mendapatkan sticker/sertifikat bebas emisi. Kesimpulannya, bukan hanya metodenya, tapi juga mentalitasnya yang harus dibenahi. Oya, proyek pembuatan mobil listrik secara massal juga seharusnya bisa segera dimulai.

Masalah berikutnya adalah harga bahan bakar yang menurut pembicara masih terlalu rendah. Hal tersebut makin membuat orang dengan mudahnya ‘menghambur-hamburkan’ BBM untuk kendaraan pribadinya. Namun ini sepertinya sudah mulai disadari pemerintah, sehingga sudah ada rencana untuk mengurangi subsidi secara bertahap sampai tahun 2025. Yang penting untuk dilakukan adalah pengawasan mengenai pemindahan alokasi subsidi tersebut, sehingga rakyat percaya dan mau menerima pengurangan subsidi. Jika tidak, maka pengurangan subsidi tersebut tetap akan ditentang oleh masyarakat luas.

Kemudian ada juga masalah klasik, yaitu jumlah jalan yang kurang. Ini juga sudah mulai disadari oleh pemerintah. Rencananya pemerintah akan membangun banyak jalan tol dan non tol di seluruh Jakarta. Totalnya sekitar 70 km (Pasar Minggu-Casablanca, Ulujami-Tanah Abang, Kemayoran-Kampung Melayu, dll). Tapi entah sampai kapan. Itu juga masih tergantung dari penyelesaian proses pembebasan jalan yang juga menjadi masalah selama ini.

Yang terakhir adalah transportasi umum yang sangat tidak bersahabat. Jika transportasi umum kondisinya tidak nyaman, berhenti semaunya, beremisi tinggi, dan tidak aman (copet, pengamen, dll), orang-orang akan malas menggunakannya dan memilih menggunakan kendaraan pribadi (termasuk motor). Untuk itu perlu dilakukan pembenahan, walaupun secara bertahap. Yang sudah berjalan adalah Bus TransJakarta. Dan pemerintah masih akan terus menambah rutenya. Namun yang sangat disayangkan adalah pelaksanaannya. Saya tidak tahu bagaimana metodenya namun agak aneh jika penumpang sampai mengantri sekian banyak di halte, sementara bus TJ tidak kunjung datang. Dan saat bus datang, bisa sekaligus sampai 5 bis. Sepertinya ada yang salah dengan manajemen jadwal di bus TJ ini. Belum lagi perawatannya. Bus belum berumur 5 tahun sudah sering mogok, terbakar, sehingga jumlah bus yang beroperasi terus berkurang. Ini juga harus diperhatikan. Selain bus TJ, pemkot juga sudah memulai pembangunan MRT tahap I (Lebak Bulus-Bundaran HI) dan juga merencanakan pembangunan Elevated Bus Rapid Transit yang akan memanfaatkan infrastruktur monorail yang pembangunannya berhenti beberapa tahun lalu. Jika ini dibenahi, maka orang-orang akan lebih memilih menggunakan transportasi umum ini.

Kondisi Bangkok tahun 1990-an sama dengan kondisi Jakarta saat ini. Kalau Bangkok bisa mengurangi tingkat kemacetan menjadi jauh lebih baik, mengapa Jakarta tidak bisa? Ingat, penjualan mobil di Thailand masih lebih tinggi dibandingkan di Indonesia, dengan jumlah penduduk yang lebih sedikit.

Remember, it’s not just about getting somewhere, it’s about doing it in style!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s