Weton


Weton
(written: April 25 – May 25, 2012, collaboration with @dear_connie)

“Kenapa sulit sekali bagimu untuk menerima cintaku?”

“Aku takut kau meninggalkanku.”

“Aku berjanji tak akan pernah meningggalkanmu, sayang.”

Itu perbincangan kita setahun yang lalu. Sebelum akhirnya aku menerimamu menjadi pendampingku. Enam bulan sesudahnya kita akhirnya menikah. Dan persis seperti perkiraanku, akhirnya kau meninggalkanku juga sebulan lalu.

Aku tahu itu bukan salahmu. Tapi tetap saja, kau yang meninggalkanku. Ini yang membuatku berat menerimamu dulu. Tapi kau tetap berkeras. Kau bahkan berjanji di depan keluarga kita untuk tetap bersamaku, menjagaku di sisa hidupku, membahagiakanku.

Ah, aku selalu merasa bersalah menerimamu cintamu dulu itu. Bersalah padamu, bersalah pada keluargamu, dan bersalah pada diriku sendiri. Aku tahu ini bukan ‘baik-baiksaja’ seperti katamu. Dan tidak akan pernah ‘baik-baik saja’. Dulu kau yang memaksa. Saat itu aku tak bisa membohongi hatiku, cinta telah membutakanku. Dan kini kembali hatiku harus melalui jalur yang sama. Mencair, menghangat, terluka, lalu membeku lagi. Bodoh…

Bukan bermaksud mengungkit kenangan lama. Tapi ketika itu sebenarnya aku sudah hampir dinikahi oleh pria lainnya. Dan kamu tahu itu. Mungkin ini yang disebut “karma”, karena aku meninggalkannya untukmu. Mana ada perempuan yang tahan dicintai dan diperhatikan sebegitu luar biasanya, seperti yang kau lakukan kepadaku dulu? Pacarku dulu hanya seorang lelaki biasa yang tidak tahu bagaimana caranya memperlakukan perempuan sepertiku. Dia bahkan berkesan dingin dan tak peduli. Dia sekali pun tak pernah mengucapkan selamat pagi melalui SMS seperti yang kamu lakukan.

Dan aku perempuan. Aku butuh diperhatikan. Dan kamu memberikannya. Aku menerimanya, meskipun aku sempat meragu – sampai akhirnya aku pun jatuh hati padamu. Luar biasa. Kamu tetap luar biasa, sayang. Dengan cintamu, kamu luar biasa. Begitu pun dengan caramu menyakiti. Kamu memang manusia paling luar biasa yang ku kenal.

Malam itu, di rumah petak kita yang besarnya tak lebih dari kamar mandi di rumah orangtuaku dulu, aku menantimu pulang dari kerja. Aku mengenakan daster batik warna hijau pupus yang baru saja aku beli di pasar dekat rumah. Tempe dan tahu goreng telah siap di meja makan. Juga telur penyet kesukaanmu. Malam ini aku punya kejutan untukmu. Aku sudah menyimpannya sejak kemarin dan siang ini aku baru mendapat kepastian. Kau akan segera melihat anakmu 29 minggu lagi. Aku sudah tak sabar untuk melihat wajahmu saat mendengarnya.

Terdengar ketukan di pintu. Aku bergegas ke pintu untuk menyambutmu. Namun ternyata bukan kamu yang ada di depan pintu, melainkan dua orang laki-laki berseragam polisi. Mendadak tanganku terasa dingin. Aku mencoba berpikir pasti semua baik-baik saja, namun jauh di dalam hatiku aku tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres denganmu. Wajah mereka sudah menjelaskan semuanya.

Duniaku rasanya berhenti berputar. Gelap mengelilingiku seketika itu juga. Saat aku sadar tetangga sudah berkerumun di ruang tamuku. Kulihat Ibuku duduk sambil memegang tanganku dan memandangku iba. Saat itulah aku tahu bahwa aku tidak sedang bermimpi. Dan perlahan air mataku mengucur deras.

Seperti melayang rasanya saat aku dipapah ke mobil menuju ke rumah sakit. Perjalanan yang kuharap tak akan berakhir karena aku tahu saat mobil itu tiba di rumah sakit saat itulah aku harus berhenti berharap. Ajaib, air mataku berhenti tepat saat aku melihatmu terbaring tepat di hadapanku. Bukan rasa sedih yang menderaku saat itu. Namun rasa marah dan kecewa. Kau telah mengingkari janjimu. Kau meninggalkanku. Berita bahagia yang kusiapkan sebagai kejutan untukmu bahkan tak akan pernah kau dengar lagi. Anakmu ini tak akan pernah lagi melihat ayahnya.

Di sebelah Ibuku kulihat laki-laki itu berdiri, laki-laki yang kutinggalkan demi dirimu waktu itu. Dia terus memandangku. Entah iba entah puas. Aku yakin Ibuku yang memberitahu dia. Ibu memang tak pernah sepenuhnya menyetujui pernikahan kita. Dia tetap berpikir keputusanku menerimamu adalah keputusan paling salah yang pernah kulakukan seumur hidupku.

“Wita, kenapa kamu keras kepala begitu sih? Kenapa kamu tetap memaksa untuk menikah dengan Angga?“

“Kenapa memangnya, Bu? Apa salahnya? Aku mencintainya, dan aku yang akan menjalani ini kan, Bu?”

“Ibu kan sudah berkali-kali bilang padamu. Ibu bukannya tidak suka padanya. Dia anak baik. Dan Ibu percaya dia mencintaimu dengan tulus. Masalahnya cuma satu, weton kalian itu tidak cocok”

“Ya ampun, Bu. Ini sudah tahun 2011, dan Ibu masih saja percaya sama yang namanya weton?”

“Wita, percayalah sama Ibu sekali ini saja. Apa sih kurangnya Antok? Dia juga mencintaimu, nak. Tapi kalau kamu tidak mau menikah dengan Antok, paling tidak carilah laki-laki lain yang wetonnya cocok denganmu. Jangan dengan Angga. Pernikahan kalian akan segera berubah jadi bencana nantinya”

“Sudahlah, Bu. Kalau Ibu merestui, tidak akan terjadi apa-apa dengan kami. Percayalah, Bu. Kalaupun ada, biarlah saya yang tanggung resikonya nanti.”

Dan akhirnya kita menikah. Antok, laki-laki itu pun segera menghilang dari hidupku. Aku tidak tahu kalau ternyata dia masih berhubungan dengan Ibuku.

Keesokan harinya saat pemakamanmu, airmataku sudah benar-benar mengering. Pikiranku penuh dengan pertanyaan mengapa ini terjadi. Inikah bencana yang ditakutkan Ibuku akan terjadi karena weton kita tidak cocok? Inikah cara semesta menghukumku karena meninggalkan Antok demi kamu? Atau ini caramu untuk lari dari tanggung jawabmu atas anakmu? Entahlah.

Kulihat Antok datang dan berdiri di samping Ibuku. Dia menemuiku segera setelah acara berakhir. Anehnya, di matanya tak kutemui rasa puas atau dendam. Hanya rasa kasihan yang terpancar disana. Dan aku terus mengatakan pada diriku sendiri, bukan cinta yang kulihat. Hanya simpati. Sampai dia memelukku. Tangisku pecah saat itu. Entah mengapa. Mungkin karena aku bingung memikirkan nasib anakku. Mungkin karena aku bingung memikirkan nasibku sendiri. Mungkin karena aku marah entah kepada siapa. Dan mungkin karena kelegaan bahwa Antok tidak marah padaku.

Setelah itu kami berbicara panjang lebar. Ternyata dia masih menyimpan cintanya untukku. Aku mendengarkan ceritanya sepanjang malam. Betapa dia terluka saat aku meninggalkannya. Bagaimana dia tenggelam dalam pekerjaannya hanya agar bisa melupakan aku. Dan betapa kagetnya dia saat mendengar kematianmu yang tragis itu dari Ibuku. Dia memutuskan untuk datang dan memberi dukungan kepadaku.

“Kenapa, mas?“

“Apanya yang kenapa, Wita?“

“Kenapa kamu masih mau datang menemuiku. Aku sudah menyakitimu, mas“

“Kamu tidak pernah menyakitiku, Wita. Kalau kamu benar-benar mencintai dia, memang tidak seharusnya kamu bersamaku. Kalau aku merasa sakit, itu salahku sendiri. Aku tidak mungkin menahanmu waktu itu. Kalau kamu bertahan denganku, kamu tak akan bahagia. Aku tak pernah mau menjadi penghalang kebahagiaanmu, Wit“

Aku terharu mendengarnya. Dan dalam kondisi yang sangat rapuh seperti ini, terharu mudah berubah menjadi simpati, dan simpati berubah menjadi menjadi cinta. Entah darimana datangnya. Aku merasa mudah untuk mencintainya. Perhatiannya begitu tulus. Memang dia tidak berubah. Romantisme tak pernah menghampiri hidupnya. Tapi sekarang aku tahu, cintanya benar-benar nyata. Apalagi setelah dia tahu tentang anakmu, cintanya tidak berkurang. Dan dia mau menerima anak itu, merawatnya seperti anaknya sendiri. Bahkan kelak setelah kami akhirnya menikah, dia rela tidak memiliki anak lagi hanya agar perhatiannya tidak berkurang pada anak kita.

Kau tahu aku tak akan pernah melupakanmu, tapi aku bahagia bersamanya sekarang. Mungkin karena weton kami cocok. Ibuku yang bilang begitu. Sekarang aku percaya padanya. Kami akan segera menikah bulan depan.

Epilog

“Aku sudah melakukan tugasku. Bagaimana dengan tugasmu?“

“Beres. Dia sudah bersedia menikah secepatnya“

“Bagus. Dia tidak curiga?“

“Entahlah. Sepertinya tidak. Tapi ada yang ingin aku ketahui sejak lama“

“Apa?“

“Mengapa kau tetap membunuhnya? Kau cukup membayarnya, dan dia akan dengan senang hati meninggalkan Wita. Bukankah begitu perjanjiannya?“

“Seharusnya begitu. Tapi dia sepertinya mulai benar-benar jatuh cinta pada Wita. Dia mengatakan padaku bahwa dia bermaksud membatalkan perjanjian dan tidak akan meninggalkan Wita“

“Oh, untunglah kalau begitu“

“Dan kau, jangan pernah menyalahi perjanjian kita. Kau harus merawat anakku dan cucuku itu dengan baik. Aku sudah melakukan banyak hal untuk mendapatkannya“

“Oh, jangan kuatir. Kau tahu aku benar-benar mencintainya. Dan tentu saja aku akan merawat anak itu seperti anakku sendiri, toh aku tidak akan bisa punya anak. Untuk itulah kita membayar Angga, kan?“

“Baiklah, mudah-mudahan apa yang kita lakukan ini benar. Kita sama-sama mencintai Wita, kan?“

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s