Akhir Penantian


Akhir Penantian
(written: Saturday, May 12, 2012)

Kedatangan pesawat pertama dari Sydney baru saja diumumkan. Aku melihat jam di dinding. Jam 5 pagi. Sudah sejak tadi aku menunggu di lobby bandara itu.

Sengaja aku datang hari ini untuk menemui Santi. Seolah-olah ada yang menyuruhku, tiba-tiba aku ingin sekali bertemu dengan gadis itu. Aku membayangkan akhirnya kami akan bertemu lagi. Setelah ratusan hari kuhabiskan dengan kerinduan yang memenuhi dinding hati. Berbincang, berbagi cerita, berbagi kisah hidup, dan berbagi harapan adalah hal-hal yang selalu kurindukan. Aku tahu aku pernah jatuh cinta pada gadis itu, dan masih menyimpan cintaku sampai sekarang.

Santi tinggal di Sydney sejak 3 tahun yang lalu. Dia disana untuk melanjutkan sekolahnya menempuh tingkat lebih tinggi, mengambil gelar masternya. Sebenarnya sejak tahun lalu dia sudah selesai dan mendapatkan gelar master, namun sekolahnya memberikan tawaran untuk mengajar sambil meneruskan ke jenjang S3 secara gratis. Tawaran itu terlalu menarik untuk ditolak.

Dalam kurun 3 tahun, Santi hanya sekali pulang ke Jakarta, saat adik perempuannya menikah tahun lalu. Namun sayangnya aku tak tega menemuinya saat itu. Jadwalnya padat dengan acara keluarga, dan berkumpul dengan teman-temannya. Ditambah lagi disibukkan perihal pengurusan ijin kerja di kedutaan yang cukup menyita waktunya selama di Jakarta. Saat itu aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan pernah mengganggunya lagi.

Menemuinya kembali berarti akan membuka kembali kenangan kami, dan aku tahu hal itu akan membuat gadis itu bersedih kembali. Namun rasa rinduku tak terbendung lagi. Ingin sekali aku ingin melihatnya, meski hanya sebentar saja. Sudah kurencanakan untuk menemuinya di bandara, dan Santi tak tahu rencana ini, namun Santi pasti akan mengerti.

Dengan tak sabar aku melihat ke arah penumpang yang meluber keluar dari pintu kedatangan. Kuperhatikan satu demi satu wajah para penumpang. Namun sampai penumpang terakhir keluar dari pintu, tak juga kulihat sosok Santi.

Ah, hari masih panjang, bisa jadi Santi menggunakan pesawat terakhir. Tak apa, akan tetap kutunggu. Aku kembali ke lobby dan menunggu. Kembali aku tenggelam dalam lamunan panjangku. Ingatanku kembali ke waktu pertama kali aku bertemu Santi. Di airport itu juga. 5 tahun yang lalu

“Permisi, mas. Saya boleh numpang nge-charge handphone disini?”

Sebuah suara mengagetkanku. Waktu itu aku sedang menunggu Ibu yang akan pulang dari Surabaya. Buru-buru kucabut kabel charger dari stop kontak.

“Silakan, Mbak. Saya juga sudah selesai kok”

Gadis itu menatapku penuh terimakasih dan segera menempatkan chargernya di stop kontak.

“Lagi nunggu juga, Mbak?”

Gadis itu memandangku lagi sekilas dan menjawab singkat.

“Iya”

Kupandangi gadis itu sepintas. Cantik. Bahkan kesedihan di wajahnya tak mampu menutupi kecantikan itu. Rambutnya dipotong pendek sebatas bawah telinga. Kacamata bergagang putih diletakkannya di atas kepalanya.

“Saya lagi nunggu ibu saya, Mbak. Dia dari Surabaya”

Gadis itu cuma tersenyum kecil lalu kembali sibuk menekuni ponselnya, tidak menanggapi perkataanku. Akupun terdiam dan meneruskan lamunanku.

“Flight jam berapa memangnya?”

Tiba-tiba gadis itu bertanya lagi. Perempuan memang dimana-mana sama saja. Tadi diajak bicara terlihat tidak berminat. Setelah didiamkan malah mengajak bicara.

“Harusnya sih jam 2, tapi tadi katanya berangkatnya delay sampai 2 jam. Sekarang baru jam 12.30. Maklum kalau sampai terlambat bisa marah-marah nanti. Jadi sekarang saya harus nunggu tiga setengah jam hahahaha”

Aku tertawa sendiri. Gadis itu ikut tersenyum lebar, namun hanya sesaat.

“Kamu sendiri nunggu flight jam berapa?”

“Jam 11 tadi”

“Delay juga?”

“Ngga kok”

“Lho kok bisa?”

Dia tertawa. Akhirnya dia bercerita. Ternyata dia tadinya menunggu pacarnya, yang tiba pukul 11 siang. Namun kedatangan gadis itu bukanlah untuk menjemput pacarnya itu, melainkan untuk meminta penjelasan karena pacarnya itu telah memutuskannya lewat telepon beberapa hari sebelumnya tanpa alasan yang jelas.

Dan saat pacarnya itu tiba di Jakarta, semua terbuka dengan jelas. Pacarnya tiba dengan perempuan lain. Mereka bertengkar hebat. Dan disinilah gadis itu akhirnya merenungi perjalanan cintanya yang baru saja berakhir.

Anehnya, gadis itu justru tertawa lega setelah bercerita panjang lebar kepadaku, laki-laki asing yang baru saja ditemuinya di ruang tunggu bandara. Katanya, dia tidak perlu merasa malu karena toh tidak akan bertemu lagi nantinya.

Dia salah. Saat aku pulang dari bandara bersama Ibuku sore itu, kami telah berkenalan dan bertukar nomor telepon. Saat itulah kutahu namanya Santi. Sejak itu kami rajin bertemu sekedar untuk bertukar kabar atau berbagi cerita. Beberapa bulan kemudian kami resmi pacaran. Terasa begitu mudah. Memang, karena siapapun akan sangat mudah mencintainya. Dia cantik, pintar, dan menyenangkan.

Kedatangan pesawat kedua telah diumumkan. Aku melihat ke arah kerumunan penjemput yang serentak berdiri menuju ke pintu keluar. Aku hanya melihat sejenak ke arah pintu keluar. Toh pesawat baru saja mendarat. Penumpang masih harus antri di pemeriksaan imigrasi, lalu masih harus antri lagi menunggu bagasi. Masih sekitar 30 menit lagi sebelum para penumpang mulai keluar. Seorang anak kecil berhenti dan menatap ke arahku. Aku tersenyum padanya sebelum ibunya menariknya buru-buru menuju pintu keluar penumpang.

30 menit kemudian para penumpang mulai mengalir keluar dari pintu kedatangan. Para penjemput berkerumun di depan pintu. Kebanyakan penjemput dari hotel atau calo taksi, baik resmi maupun gelap. Sedikit sekali keluarga yang terlihat menjemput. Aku hanya memandang dari ruang tunggu. Aku memang tak berharap Santi akan melihatku. Aku tahu jika dia sampai melihatku maka kesedihan akan kembali menyiksanya. Ternyata sampai penumpang terakhir keluar dari pintu, Santi tak juga terlihat. Aku kembali tenggelam ke dalam lamunanku.

“Aku ingin melanjutkan sekolahku, Dim”

Melanjutkan sekolah adalah impiannya. Dia adalah perempuan yang ambisius. Latar belakang keluarganya yang berpendidikan tinggi telah membuatnya terbentk seperti demikian. Tak ada yang salah memang, hanya saja aku takut waktunya akan banyak tersita oleh sekolahnya dan akhirnya aku akan menjadi nomor dua di hidupnya.

“Mau sekolah kemana?”

“Belum tahu. Aku sudah research via internet dan mengirimkan formulir pendaftaran ke beberapa universitas yang bagus.”

“Kapan rencananya?”

“Ya tergantung kapan dapat panggilan. Kenapa sih? Kok cemberut gitu? Ngga suka ya?”

“Ngga apa-apa kok.”

“Tenang aja, Dim. Kan masih belum pasti. Lagian kalo jadi juga paling lama 2 tahun kok. Dan jaman sekarang kan kita masih bisa ngobrol tiap hari via webcam. Atau kau bisa ikut kalo mau. Jangan marah gitu, dong. Serem liatnya”

Aku tidak marah. Hanya saja aku sudah punya rencana lain untuk kami berdua.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Ruang tunggu masih saja ramai dengan para penjemput. Pendingin ruangan sepertinya sudah tidak mampu lagi mendinginkan ruang tunggu ini. Sudah terlalu banyak orang di dalam sini. Aku melihat ke papan elektronik besar di dinding yang menunjukkan jadwal kedatangan pesawat. Kedatangan pesawat dari Sydney berikutnya masih 1 jam lagi. Kulihat ada informasi keterlambatan di sisi kanan jadwal. Tak apa. Aku punya banyak waktu. Aku akan menunggunya sampai dia tiba. Sementara penumpang dari berbagai tujuan silih berganti melintasi pintu kedatangan, ingatanku kembali terbang ke masa lalu.

“Aku diterima, Dim. Setelah semuanya beres, bulan depan aku berangkat ke Sydney”

Aku hanya diam sambil memandanginya.

“Jangan marah dong, Dim. Kan aku sudah bilang ini hanya dua tahun. Kita masih bisa ngobrol tiap hari.”

Aku tidak marah. Aku tidak akan pernah marah padanya. Aku terlalu mencintainya. Aku hanya kesal pada diriku sendiri karena tak mampu mengendalikan perasaan kecewa ini.

“Aku ngga marah, malah aku ikut senang kok, sayang”

“Tapi kenapa harus cemberut gitu sih?”

Aku tahu ini egois. Tapi aku mau dia tahu apa yang hendak kutawarkan padanya. Aku berhak mendapatkan pertimbangannya. Dan dia harus tahu bahwa dia punya pilihan lain.

“Ibuku akan melamarmu ke orangtuamu minggu depan, San. Aku tahu ini kesannya mendadak, tapi kau tahu aku mencintaimu dan kita sudah membicarakan ini.”

“Tapi kenapa sekarang, Dim? Apa kau tidak mau menunggu sampai aku kembali ke Jakarta nanti?”

“Sekarang terserah kau, San. Apakah menurutmu Ibuku harus membatalkan rencananya atau dia tetap akan datang ke rumahmu minggu depan? Kau yang menentukan.”

“Ok, kita menikah, dan kau akan ikut aku ke Sydney. Gampang, kan?”

“Kau tahu aku punya pekerjaan yang tak mungkin kutinggalkan, kan? Jadi aku minta maaf kalau kau harus memilih.”

Pesawat sudah mendarat dan penumpang juga sudah mulai keluar. Dan seperti tadi, para penjemput segera berkerumun di dekat pintu keluar penumpang. Penjemput dari hotel atau perusahaan terlihat mengacungkan kertas atau papan bertuliskan nama penumpang yang dijemput sambil menyebutkan nama. Beberapa nama asing terdengar lucu saat disebutkan oleh lidah lokal para penjemput. Untuk kesekian kali mataku meneliti tiap penumpang yang melewati pintu. Namun lagi-lagi tak kutemui sosok Santi disana. Masih ada 2 penerbangan lagi hari ini. Aku kembali ke tempat dudukku.

Santi meneleponku pagi-pagi sekali.

“Dim, ada yang harus kita bicarakan. Kau bisa kesini sekarang ngga? Ini penting sekali”

Suaranya terdengar datar.

“Kau sudah mengambil keputusan?”

“Itu kita bicarakan nanti. Datanglah segera kesini. Ada yang lebih penting yang harus segera kita putuskan”

“Menurutmu apa yang lebih penting bagiku sekarang selain jawabanmu, San?”

Suaraku terdengar pedih sekali. Telingaku pun bisa menangkap kegetiran disana.

“Tentu saja ada yang lebih penting. Kita harus menentukan tanggal pernikahan kita segera. Soalnya nanti semua gedung keburu penuh. Makanya cepat kesini, ayahku ingin bertemu denganmu.”

Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna perkataannya

“Benarkah, San? Lalu bagaimana dengan sekolahmu di Sydney?”

“Aku akan mengirim email untuk membatalkannya nanti siang. Kau lebih penting buatku, Dim”

Lalu dia tertawa. Tawa paling indah yang pernah kudengar seumur hidupku. Aku tak mampu berkata-kata lagi. Segera kuambil kunci mobil dan menuju ke rumahnya dengan hati berbunga-bunga.

Kembali terdengar pengumuman kedatangan pesawat dari Sydney. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 16.30. Ruang tunggu ini semakin ramai dan semakin terasa gerah. Kulihat ada beberapa orang sedang menelepon. Mungkin memastikan kedatangan penumpang yang akan dijemput. Tak lama kemudian terlihat penumpang mulai mengalir melewati pintu keluar.

Tubuhku membeku saat kulihat Santi berjalan membawa kopornya melewati pintu keluar. Tak bisa kulukiskan perasaan yang sedang kualami saat ini. Tubuhnya kurus dan wajahnya dingin. Oh, tampaknya dia belum berhenti menyiksa dirinya sendiri. Sejenak dia berhenti dan berpaling ke arahku.

Sesaat, ya cuma sesaat, karena tiba-tiba terdengar suara ledakan kuat di dekat pintu keluar. Kemudian disusul dengan teriakan-teriakan ketakutan dan suara orang berlari kesana kemari. Ruangan terasa panas dan gelap oleh asap yang menyelimuti ruang kedatangan. Saat asap mulai menipis, terlihat tubuh-tubuh bergelimpangan. Debu dan darah berceceran dimana-mana.

Di ujung sana kulihat Santi berdiri sendirian, memandang tepat ke arahku. Kemudian dia berjalan mendekat. Senyumnya terkembang. Gaun pernikahan itu tampak indah sekali di tubuhnya. Dia cantik sekali. Jauh lebih cantik dari saat gadis itu menangis di pemakamanku hampir tiga tahun yang lalu. Wajahnya terlihat bercahaya. Oh aku rindu sekali padanya

Aku mengeluarkan mobilku dari garasi dengan kebahagiaan yang penuh menyelimuti seluruh tubuhku. Di kepalaku hanya terbayang senyumnya yang menawan. Aku ingin cepat-cepat bertemu dengannya dan memeluknya.

Kebahagiaan itu membuatku buta. Aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi sehingga tak lagi melihat sebuah truk melintas saat aku keluar kompleks perumahanku.

Mobilku hancur tak berbentuk hingga butuh bantuan pemadam kebakaran untuk mengeluarkan jasadku dari dalam mobil. Aku dimakamkan hari itu juga.

Santi histeris saat mendengar kejadian itu. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri karena merasa bersalah telah menyuruhku cepat-cepat ke rumahnya. Orangtuanya dan ibuku berusaha menenangkannya, namun tak juga berhasil. Di pemakaman dia terus histeris hingga ayahnya terpaksa meminta tolong seorang dokter kenalannya untuk memberikan suntikan penenang.

Setelah beberapa hari tak mau keluar kamar, akhirnya Santi memutuskan untuk meneruskan niatnya melanjutkan sekolah ke Sydney. Dia berangkat beberapa minggu kemudian dan setelah lulus dia memutuskan untuk menetap di Sydney untuk menghilangkan segala kenangannya tentangku.

Santi meraih tanganku. Aku tersenyum bahagia. Akhirnya kami kembali bersama. Di kejauhan terdengar suara sirine polisi dan ambulans mendekat.

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s