Learn From the Best


Learn From the Best
(written: Friday, February 18, 2012)

“Maafkan aku Nin, tapi kita gak bisa sama2 lagi, terlalu banyak perbedaan antara kita. Hubungan ini tak bisa dipertahankan lagi”

Kata2 itu masih terngiang di telingaku sampai kini. Itu kata-kata terakhirnya sebelum kami berpisah. Derai tangisku, kata-kataku, semua tak ada gunanya lagi. Dia hanya menunduk diam sebelum akhirnya meninggalkanku sendiri di kafe itu. Tangisku memang berhenti malam itu juga. Tapi hatiku masih berdarah sampai saat ini. Apalagi setelah aku mengetahui bahwa dia meninggalkanku demi wanita lain, dan bercerita ke semua teman kami bahwa ini semua salahku.

Itu 2 tahun yang lalu. Aku tak akan pernah melupakannya. Tapi sekarang semuanya sudah berbeda. Dunia kembali berputar. Dan kisah akhirnya bergulir kembali. Dimulai sejak beberapa bulan yang lalu.

Setahun setelah kami berpisah aku mulai membuka diri. Aku berusaha bangkit dari keterpurukanku saat itu. Dan aku mulai kembali memasuki duniaku yang dulu. Kembali berkumpul bersama teman-temanku. Kembali ke rutinitasku. Bekerja dan bergaul dengan banyak orang. Aku juga kembali rutin mengunjungi kafe tempat kami dulu sering bertemu.

Beberapa bulan yang lalu tiba-tiba sosoknya yang tak pernah hilang dari ingatanku masuk ke dalam kafe saat aku sedang sendiri menikmati makan malamku. Dia terlihat kurus dan wajahnya muram. Ia memandangku sekilas lalu menunduk dan berlalu.

Hari-hari selanjutnya makin sering kulihat dirinya mampir ke kafe itu dan mulai berani melempar senyum padaku. Lama kelamaan aku mulai mau membalas senyuman itu sampai suatu hari dia datang menghampiriku.

“Hey, kamu apa kabar?”

“Baik. Kamu?”

Dia mengangguk sambil tersenyum lebar. Lalu dia mengambil kursi dan bergabung denganku. Segera saja kami terlibat dalam percakapan panjang penuh keakraban. Seperti layaknya dua teman lama yang baru bertemu kembali. Tanpa menunggu lama aku mulai menyadari bahwa pesonanya tak lagi memikatku. Pesona yang dulu pernah membuatku menjatuhkan hati padanya, dan pesona yang membuat wanita lain tertarik padanya, pesona yang membuatnya meninggalkanku, pesona yang akhirnya membuat hatiku berdarah. Ah, sulit sekali membayangkan aku pernah jatuh cinta pada lelaki ini.

Pertemuan pertama diikuti dengan pertemuan kedua dan pertemuan-pertemuan berikutnya. Dan akhirnya kami kembali melakukan rutinitas pertemuan di kafe itu. Obrolan demi obrolan mengalir hangat. Kepintarannya untuk menemukan topik pembicaraan tak berubah sejak dulu. Begitu juga humor-humornya yang selalu segar. Namun kali ini aku sama sekali tak tertarik kepadanya lebih dari seorang teman. Justru sebaliknya. Sepertinya dia yang terlihat sangat keras berusaha memikatku.

Lalu dia mengajakku makan malam di salah satu restoran mewah di Jakarta. Setelah makan dia mengajakku berbicara serius dan memintaku kembali padanya. Aku cuma tersenyum. Aku mengatakan bahwa ini masih terlalu cepat dan aku tidak bisa menjanjikan apapun padanya. Sepanjang perjalanan pulang dia terus memohon namun aku tetap pada pendirianku. Akhirnya dia terdiam dan menyerah. Aku hanya tersenyum tipis saat turun dari dalam mobil.

Sejak saat itu dia terus berusaha mengejarku. Beberapa kali saat aku terpaksa membatalkan janji dengannya karena ada urusan mendadak, dia menungguku di depan rumahku sampai malam. Ibuku pernah menegurku gara-gara ini. Bahkan pernah dia sengaja menunggu aku di lobby kantor saat aku harus menyelesaikan pekerjaanku hingga larut malam. Namun hatiku tak juga tergerak untuk menerimanya.

Hingga suatu hari, saat aku merasa sudah tiba waktunya, aku mengajaknya makan berdua di kafe itu. Setelah makan seperti biasa kami mengobrol dan aku menunggu saat yang tepat untuk berbicara. Akhirnya setelah kurasa cukup lama kami mengobrol, aku akhirnya mengatakan padanya bahwa kami harus mengakhiri semua ini. Aku tak pernah tertarik untuk kembali padanya. Dan dia hanya akan membuang waktunya dengan mengejarku terus. Awalnya dia hanya terdiam, lalu dia mulai berbicara panjang lebar mengenai masa depan kami berdua yang menurutnya sangat cerah, sampai akhirnya dia hampir menangis memohon padaku. Aku tak juga bergeming.

Mulai keesokan harinya aku berhenti menemuinya. Aku benar-benar menghindarinya. Untuk sementara aku tinggal di rumah saudaraku sehingga tak perlu menemuinya saat dia nekat datang ke rumah. Sementara teman-teman kantorku membantuku untuk menghindarinya. Beberapa kali aku melihatnya sedang menungguku di lobby. Beberapa kali aku melihatnya sedang duduk di dalam kafe saat aku melintas, berharap aku akan muncul. Tapi aku tetap tak mempedulikannya.

Kata teman-temanku dia terlihat semakin kurus dan pucat. Namun hatiku tak tergerak juga. Hey, bahkan aku mulai menikmatinya. Inikah kenikmatan yang dia rasakan saat menghancurkan hatiku dulu? Perlahan aku meraba bungkusan kecil berwarna putih yang selalu kukantongi setahun terakhir ini. Benda yang dulu juga pernah dipakainya untuk memikatku.

*terinspirasi dari Learn From The Best ~ Whitney Houston

4 comments

  1. Gaya menulis yang menarik. Penceritaannya mengalir dan mudah dicerna. Aku suka permainan emosi ‘balas-dendam’nya. Konsistensi pemilihan kata cafe atau Kafe aja yang sedikit mengganggu. Tetep nulis yak 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s