Rinduku Padamu


Rinduku Padamu
(written: Tuesday, January 24, 2012)

Selamat pagi kotaku tercinta,

Rasanya aku rindu suasana pagi disana. Saat burung-burung masih berkicau menemaniku membuka mata. Saat sinar matahari pagi masih sempat menembus jendela kamar sebelum aku berangkat bekerja. Dan saat semua orang masih saling menyapa ramah di perjalanan ke kantor.

Disini burung-burung pun tak lagi mau berkicau. Mungkin mereka tak bahagia. Disini aku harus berangkat bekerja sebelum matahari bersinar, agar tak terlambat tiba di kantor. Macetnya sudah mulai membunuhku pelan-pelan. Disini orang sudah tak lagi saling menyapa. Bahkan mengangguk pun tidak. Entahlah, mungkin sudah terlalu banyak yang dipikirkan.

Apa kabar kotaku tercinta,

Rasanya aku semakin rindu padamu. Nasi pecel berlauk tempe goreng di tikungan pasar itu sudah lama tak pernah kunikmati pelan-pelan. Tapi lidahku masih mengingat nikmat kecapannya. Dan warung kerak ketan bakar di depan stasun itu, masihkah ada disana? Mudah-mudahan belum tergusur oleh perumahan-perumahan baru yang banyak dibangun. Ah, aku jadi teringat teman-temanku. Kami dulu sering berkumpul disana, menikmati malam minggu dengan sepiring kerak ketan bakar, segelas kopi tubruk, dan segudang cerita.

Disini sudah semakin sulit mencari kehangatan seperti dulu itu. Sekarang aku banyak menghabiskan waktu makan di restoran-restoran cepat saji. Yah, memang aku butuh cepat. Waktuku tak banyak. Pekerjaan semakin menyita kehidupanku. Dan tentu tak akan pernah ada yang bisa mengalahkan kegembiraan berkumpul di warung depan stasiun itu. Kedai-kedai kopi mahal inilah yang sekarang menjadi tempatku menghabiskan waktu luang. Itupun jika aku bisa menghilang sejenak dari rutinitas pekerjaanku.

Kotaku tercinta,

Penggalan-penggalan kehidupanku dulu sudah kumulai disana. Bahkan ari-ari yang menyertai kehadiranku ke dunia ini telah menyatu denganmu. Dan sedikit banyak, engkaulah yang membentukku hingga jadi seperti sekarang. Sudah belasan tahun aku meninggalkanmu. Kudengar kau sudah berubah banyak. Kehangatan kotamu telah terobek oleh dinding-dinding mal yang dingin membeku. Keheningan malammu telah ternodai oleh dentuman musik café dan diskotik. Kepolosan orang-orangmu telah terusik oleh budaya kota besar yang mengerikan. Kuharap masih ada bagian dari dirimu yang tetap bertahan. Menungguku.

Ya, kelak setelah aku menyelesaikan tugasku, aku akan kembali ke pelukanmu. Jadi, tunggu aku ya.

– madiun, tempat dimana aku meninggalkan sebagian hatiku untuk kelak kuambil kembali –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s