Surat Wasiat Penuh Cinta


Surat Wasiat Penuh Cinta
(written: Thursday, January 19, 2012)

Anak-anakku tersayang,

Saat kalian membaca surat ini Ayah sudah tidak ada lagi. Ayah tidak tahu apakah kalian sedang menangis sedih atau sedang tertawa bahagia. Ayah harap yang pertama. Ayah tahu kalian lebih dekat pada almarhum ibu kalian dan tidak terlalu dekat dengan ayah sejak kecil, tapi kalian tetap anak ayah. Dan ayah berharap kalian mencintai ayah sebesar ayah mencintai kalian.

Anak-anakku tersayang,

Tidak banyak yang bisa ayah tinggalkan. Hanya beberapa benda kenangan yang sangat berharga bagi ayah. Dan walaupun rasanya itu tidak cukup banyak untuk menunjukkan rasa cinta ayah pada kalian, tapi ayah merasa kalian harus tahu dan mendapatkan sesuatu dari ayah. Untuk itulah ayah menuliskan surat ini. Mudah-mudahan ayah cukup adil pada kalian.

Untuk anakku Toni,

Kau adalah anak paling besar. Kaulah yang paling lama kenal dengan ayah. Ayah rasa kau berhak mendapatkan sepeda ayah. Kau tahu, sepeda itulah yang telah menghidupi kita sejak awal. Dengan sepeda itu dulu ayah bisa bekerja mencari nafkah setiap hari. Sepeda itu adalah barang milik ayah yang paling berharga. Kau harus merawatnya baik-baik. Setiap kali melihatnya, kau harus selalu ingat awal perjuangan ayah dulu. Dan kau harus meneruskannya, nak. Beri contoh yang baik untuk adik-adikmu. Kau adalah pemimpin mereka sekarang.

Untuk anakku Soni,

Kau anak ayah yang paling pintar di sekolah. Ayah selalu bangga padamu tiap kali menerima raport di sekolahmu. Kau yang paling berhak menerima pulpen kesayangan ayah. Kau tahu, pulpen itu telah membantu ayah bertahun-tahun, dan menemani ayah sejak awal. Simpanlah, nak, dan ingatlah bahwa tangan ayah selalu memegang pulpen itu setiap hari. Kelak, ketika kau harus memutuskan suatu hal yang penting, ingatlah bahwa banyak keputusan ayah dilakukan bersama pulpen itu. Ayah harap itu bisa menyemangatimu, nak.

Untuk anakku Diana,

Kau anak perempuan ayah satu-satunya. Kau tahu kadang-kadang ayah pikir ayah menyayangimu lebih dari yang lain. Tapi ayah tak pernah bisa menunjukkannya. Ayah menyesal kita tak bisa dekat satu sama lain seperti ayah-ayah lain dengan anak perempuannya. Maafkan ayah, nak. Untukmu ayah tinggalkan buku harian ayah. Ayah harap kau bisa mengenal ayah lebih dekat melalui buku harian itu. Kau bisa tahu betapa ayah sangat menyayangimu. Oya, kaulah sekarang yang bertugas untuk mengurus kakak-kakakmu. Ingatkan mereka saat mereka lupa. Bangkitkan mereka saat mereka terjatuh.

Anak-anakku tersayang,

Barang-barang yang ayah tinggalkan untuk kalian itu memang tidak banyak, namun itu adalah barang-barang yang paling berharga. Barang-barang yang paling ayah sayangi. Seperti kalian. Rasanya barang-barang paling sarat kenangan dalam hidup ayah itulah yang paling pantas untuk kalian. Biarkan barang-barang yang lainnya seperti rumah, villa, dan mobil menjadi milik ibu tiri kalian. Barang-barang itu tak ada harganya. Tak ada gunanya bagi kalian. Dan jika kalian rindu pada ayah, ayah harap warisan ayah untuk kalian itu dapat sedikit mengurangi rasa rindu itu. Ayah sungguh sayang pada kalian, nak.

Peluk cium ayah menyertai kalian selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s