Aku Rindu Padanya


Aku Rindu Padanya
(written: Monday, October 17, 2011)

20111024-091720.jpg

Ayah yang kuingat bukanlah ayah kandungku. Ibu yang memberitahuku pada saat aku lulus SMA. Terkejut, tentu. Namun yang kutahu, sejak aku bisa mengenal sosok ayah, dialah ayahku. Dia bukan ayah yang luar biasa. Bukan. Dia hanya ayah biasa yang menyayangi anaknya tanpa batas. Rela memasakkan nasi goreng yang dibungkus telur dadar tiap pagi sebagai bekalku ke sekolah. Mengajakku naik sepeda motornya memutari kompleks rumah tiap pagi. Setia membacakan cerita yang sama untukku tiap malam hingga aku terlelap. Selalu membawakan gorengan tiap pulang kantor. Dan selalu membantuku menyelesaikan tugas prakarya dari sekolah sementara aku tertidur pulas di sofa.

Sejak Ibu memberitahuku tentang ayah kandungku, hatiku dipenuhi rasa penasaran. Aku ingin menemuinya. Aku ingin tahu mengapa dia meninggalkanku. Tapi aku tak pernah menemukannya. Dan tiba-tiba saja ayahku yang sekarang berubah menjadi makhluk asing di hadapanku. Sikapnya tetap sama, baik dan lembut. Namun sekarang bagiku dia tak lebih dari orang asing yang kebetulan menikahi Ibuku. Dan tanpa sadar aku semakin menjauhinya.

Walaupun satu kota, tapi dengan alasan sibuk kuliah aku minta ke Ibuku untuk kos. Dengan demikian aku tak perlu sering bertemu dengannya. Jika kebetulan aku pulang ke rumah, aku lebih banyak mengurung diri di kamar. Suatu ketika dia pernah masuk ke kamarku sekedar untuk mengajakku ngobrol. Aku langsung pura-pura mengantuk dan berhasil membuatnya meninggalkanku. Pernah juga dia datang ke kosku pulang kantor hanya mengantarkan gorengan. Dia bilang dia kangen makan gorengan bertiga di teras rumah. Aku cuma mengucapkan terima kasih dengan kaku dan kembali menenggelamkan diri dalam tugas-tugas. Dan dia akhirnya pulang dengan raut wajah kecewa.

Ibuku bukannya tak tahu. Pernah dia menegur sikapku itu. Tapi aku tetap tak peduli. Bagiku dia tetap orang asing di mataku. Walaupun demikian, ayah tetap rajin meneleponku dan mengantarkan gorengan ke kosku. Puncaknya saat wisuda aku mengatakan kepada Ibu bahwa aku tak ingin ayah hadir. Saat dia tahu dia marah sekali sampai darah tingginya kumat dan akhirnya terkena stroke.

Aku menyesal sekali. Aku tahu dia tak bersalah. Aku yang salah. Saat melihatnya terbaring lemah, semua kenangan masa kecilku seakan diputar di depan mataku. Segala kebaikannya yang kuingat terasa semakin menusuk jantungku.

Dia tak lagi marah. Melihatku menangis di samping pembaringannya membuatnya ikut menangis. Ia memang tak bisa lagi berkata-kata, namun tatapan matanya tetap menyiratkan kasihnya yang luar biasa padaku. Akhirnya dia pergi dalam pelukanku.

Saat pemakamannya aku melihat seorang pria berdiri di antara pelayat. Dia menghampiriku dan memperkenalkan dirinya. Dia ayah kandungku. Ternyata ayahku telah berusaha keras mencarinya demi untuk membahagiakanku. Dan rencananya adalah memberi kejutan padaku di hari wisudaku. Tapi karena kebodohanku aku justru bertemu dengannya di sini.

Hari ini, 5 tahun kemudian, aku bersama calon suamiku berdiri di sisi nisannya. Kami minta ijin padanya untuk menikah minggu depan. Ah, aku rindu sekali padanya….

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s