Pembalasan


Pembalasan
(written: Friday, October 14, 2011)

“Aku cinta kamu, ngga peduli apa kata orang”
Itu yang selalu diucapkannya padaku. Aku tahu itu tulus. Tapi tetap saja ada yang mengganjal di sudut hatiku.

Aku bertemu dengannya hampir setahun yang lalu. Teman-temanku mengenalkannya padaku. Mereka bilang dia sedang mencari istri. Tentu saja aku tak pernah berharap banyak. Usiaku genap 40 tahun bulan depan. Sementara dia baru 25 tahun. Perbedaan kami terlalu jauh.

Aku memang belum menikah. Bukan, alasannya bukan karena patah hati. Bukan juga karena karir, walaupun posisiku cukup bagus di kantor. Aku punya alasanku sendiri.

Dia cukup baik. Ramah. Masih lugu dan agak pendiam, agak berbeda dengan anak-anak muda lain yang pernah kukenal. Mungkin karena pekerjaannya. Oya, dia seorang anggota TNI. Tapi tidak seperti bayanganku sebelumnya tentang anggota TNI, dia lembut sekali. Dan sedikit pemalu tampaknya. Terus terang aku tertarik. Sebagai lulusan Akmil, pangkatnya cukup lumayan. Ketika aku bertanya mengapa belum menikah, jawabannya sama seperti alasanku tadi. Belum ada yang cocok.

Wawasannya juga cukup luas. Sehingga pembicaraan kami selalu menyenangkan. Pekerjaanku sebagai public relation dan pekerjaannya sebagai anggota TNI ternyata bukan halangan untuk berdiskusi panjang lebar. Dan ini cukup mengherankan bagiku. Biasanya aku tak semudah ini tertarik pada pria. Namun ada sesuatu padanya yang menarik hatiku.

Kami jarang bertemu. Itu karena dia sering bertugas ke daerah sampai beberapa lama. Tapi kami cukup intens berhubungan melalui telepon.

Pernah sekali dia bertemu dengan ibuku saat mengantarku pulang. Komentar ibuku pendek saja.
“Apa kamu yakin cintanya akan sama besar 20 tahun lagi?”
Terus terang memang aku belum yakin. 10 tahun lagi saja, aku sudah 50 tahun, sementara dia baru 35 tahun. Tapi aku belum mau berpikir terlalu jauh kesana. Aku tak berharap apapun.

Suatu hari dia mengajakku bertemu. Kedengarannya serius sekali. Ternyata dia mengajakku menikah tahun depan. Aku sudah menduganya. Tapi tetap saja aku merasa aneh mendengar ajakannya itu. Aku tak langsung menerima atau menolaknya.

Aku memberi penjelasan padanya tentang banyak hal. Tentang anggapan orang karena perbedaan umur kami yang begitu jauh. Tentang resiko umurku jika ingin punya anak. Tentang keinginanku untuk tetap bekerja dan tak bisa berpindah-pindah tempat mengikutinya. Tentang kewajibanku merawat ibuku yang sudah tua. Tentang orangtuanya yang belum kukenal, yang mungkin akan menentang. Dan jawabannya cuma satu, dia bersedia menerima semua resikonya. Dia benar-benar jatuh cinta padaku. Ah, dasar anak muda.

Hari ini dia mengajakku menemui kedua orangtuanya di Bandung. Dia ingin mengenalkanku pada mereka. Ah aku sudah siap jika mereka menolak rencana kami. Tapi perasaanku tak menentu. Ada kegundahan yang menggangguku jauh di dalam hatiku. Entah kenapa. Dan tepat saat aku berdiri di depan orang tuanya, kegundahan itu mengkristal menjadi sebuah kekagetan yang sepertinya terlihat jelas di wajahku. Kepalaku berputar-putar saat ayahnya berkata, “Jadi ini pilihan kamu?”

Ya. Pria itu. Pria yang telah menghancurkan hidupku 25 tahun lalu. Pria yang membuatku terpaksa membuang anakku sebelum dia bertumbuh. Pria yang membuat ayahku mengakhiri hidupnya karena malu. Pria yang membuat sisa hidupku kulalui dengan penyesalan dan dendam.

Dan tiba-tiba sebuah ide pembalasan terlintas di benakku….

Aku memandang tajam tepat ke matanya dan berkata, “Ya, dan kami sudah memutuskan untuk menikah segera…”

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s