Tawuran, Potret Suram Pelajar


Tawuran, Potret Suram Pelajar
(written: Friday, September 23, 2011)

Beberapa hari yang lalu kita mendengar beberapa kali terjadi tawuran. Siswa SMA di bilangan Mahakam Jakarta, mahasiswa di Salemba, dan terakhir mahasiswa di Lampung. Sebelum itu juga ada tawuran mahasiswa di Makasar. Semua tawuran itu selalu membawa korban, bahkan kalo ngga salah ada yang sampai meninggal dunia. Inikah potret suram pelajar jaman sekarang?

Tawuran antar pekajar ini sudah ada sejak jaman dulu. Apa yang salah? Bukankah di sekolah tidak pernah diajarkan untuk berkelahi/bermusuhan? Bukankah di sekolah selalu diajarkan pendidikan moral? Benarkah pemicu tawuran bukan berasal dari sekolah? Belum tentu. Gue cenderung berpikir bahwa awal dari tawuran berasal dari dalam sekolah sendiri.

Kalo tawuran antar sekolah, antar kampus, antar fakultas, antar jurusan, bahkan tawuran antar kampung terjadi, sebenarnya 99% tidak terkait langsung dengan masalah awalnya. Hanya satu atau dua orang saja yang terlibat konflik di awal. Sisanya terlibat lebih karena alasan solidaritas, bela temen, bela kehormatan korps, dll. Duel satu lawan satu? Wah itu cuma ada di jaman purba. Jaman sekarang kalo berantem ngajak2 temen :p

Apakah solidaritas itu salah? Ngga juga. Tapi cara menempatkan solidaritas itu yang salah. Solidaritas tidak berdiri sendiri. Solidaritas harus berjalan bersama-sama dengan kehormatan pribadi. Dan pengeroyokan bukan termasuk bagian dari kehormatan pribadi. Apa bangganya coba kalau menang tapi maen keroyokan? Ngga ada. Yang ada malah aib yang nempel sampai kapanpun.

Solidaritas selalu dikaitkan dengan kehormatan korps, kehormatan kelompok. Rasa persatuan yang demikian kuat. Kebanggaan yang sudah mengakar terhadap kelompok dimana dia bergabung. Salah? Ngga juga. Ngga ada yang salah dengan persatuan, kehormatan, dan kebanggaan. Lagi-lagi penempatannya yang salah. Atas nama persatuan, kehormatan, kebanggan, seringkali pembelaan terhadap suatu kesalahan dilakukan dengan membuta. Perundingan dengan cara-cara yang terpelajar sudah ngga digunakan lagi.

Kemaren gue sempet ngetwit bahwa tawuran merupakan impact buruk dari MOS, MAPRAS, OPSPEK, dll. Ini juga terkait dengan apa yang gue tulis di awal postingan ini. Awal tawuran berasal dari dalam sekolah sendiri. Bukan kurikulum pendidikannya, tapi justru di luar pendidikan formalnya. Ya di ajang ‘perkenalan’ siswa/mahasiswa baru itu. Selain jadi ajang ‘balas dendam’ atas kelakuan kakak kelas dulu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mempersatukan siswa/mahasiswa baru tersebut, menanamkan rasa kebanggan atas sekolah/kampus/fakultas/jurusan ybs, dan mendoktrin untuk menjaga kehormatan kelompok. Sayangnya, kadang para senior ‘lupa’ untuk mengajarkan bagaimana untuk menjaga kehormatan dan menunjukkan kebanggaan, dengan cara-cara yang terpelajar.

Jaman SMA gue dulu ngga pernah terjadi tawuran. Karena memang ngga ada MOS. Tapi jaman kuliah, tawuran antar jurusan lumayan sering. Walaupun ngga besar2an, tapi lumayan sering terjadi. Kebetulan gue anak teknik. Jadi opspek-nya sangat keras. Ditambah lagi satu angkatan di jurusan gue 150 orang cowok semua. Dalam proses opspek tersebut ditanamkan kebanggan atas jurusan, kehormatan yang harus dijaga, dan solidaritas yang harus dijunjung tinggi. Bahkan sang senior sudah mendoktrin siapa yang dianggap ‘musuh’ jurusan sejak pertama acara diadakan. Otomatis seiring dengan meningkatnya kebanggan atas jurusan, meningkat pula kebencian atas ‘musuh’ jurusan. Akhirnya beberapa kali terjadi tawuran dengan jurusan ‘musuh’ tersebut.

Tipikal manusia pada umumnya, akan bersatu menghadapi ‘musuh’ yang sama. Jadi di dalam jurusan sering juga bentrok antar angkatan. Namun kalau melawan jurusan lain, semua angkatan kompak bersatu. Kalau melawan fakultas lain, jurusan2 yang bermusuhan pun bisa bersatu. Apalagi kalau melawan kampus lain. Seluruh fakultas bisa kompak luar biasa dan melupakan perseteruan internal.

Inilah yang menjadi concern gue. Proses pembinaan siswa/mahasiswa baru inilah yang harus diperbaiki. Kehormatan pribadi juga harus ditekankan dalam proses pembentukan mereka. Harus diajarkan bahwa melakukan pengeroyokan, main hakim sendiri, perusakan fasilitas umum, dan tindak anarkis bisa merusak kehormatan pribadi, dan pastinya juga kehormatan kelompok. Penanaman kehormatan dan kebanggaan juga harus dipisahkan dari pembentukan arogansi kelompok. Karena arogansi kelompok akan mengarahkan pada ‘penjajahan’ terhadap kelompok lain.

Disamping itu pasti masih ada penyebab2 lain terjadinya tawuran. Namun kalau pribadi-pribadi sudah terbentuk baik, pasti tawuran bisa dihindarkan. Ini pendapat gue.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s