Penyiar radio = brand ambassador?


Penyiar Radio = Brand Ambassador?
(written: Thursday, February 17, 2011)

Denger pesan sponsor a.k.a iklan yang diselipkan di sela2 perbincangan penyiar radio, kadang2 ketawa sendiri. Kreatif sih. Jadi mereka bisa tiba2 membelokkan percakapan ke arah iklan itu. Membacakan script iklan ditambah pujian2 (mungkin ada di script juga) yang mempromosikan suatu produk. Menurut gue, ini salah satu bentuk kreatifitas di dunia periklanan.

Telah disadari bahwa saat ini penyiar radio sudah menjadi salah satu profesi yang termasuk ‘selebriti’ di Indonesia (baca: Jakarta). Kemajuan teknologi yang memungkinkan siaran radio dinikmati secara live dengan streaming (termasuk gambar), membuat perubahan besar di dunia kepenyiaran. Penyiar radio bukan lagi hanya mengandalkan suara indah mendayu2. Namun juga harus memiliki wajah/penampilan yang menarik. Sehingga mau tak mau akhirnya para penyiar itu memiliki penggemar sendiri layaknya selebriti.

Tampaknya hal tersebut disadari oleh para pelaku industri periklanan. Dengan memanfaatkan kepopuleran si penyiar, mereka mencoba menyisipkan muatan2 iklan ke tengah2 siaran. Harapannya, jika si penyiar meng-‘endorse’ suatu produk, maka hal tersebut akan dipercaya oleh para pendengar sekaligus penggemarnya, dan akhirnya mampu menarik pendengar untuk menggunakan produk tersebut. Jadi, para penyiar seolah2 menjadi ‘brand ambassador’ bagi produk tersebut.

Namun ada kelemahan dari metode iklan seperti ini. Si penyiar hanya ‘seolah2’ jadi brand ambassador. Mereka tidak dibayar khusus untuk tugas itu, jadinya mereka hanya menjalankan tugas sesuai script saja. Produk apapun yang diiklankan, mereka harus promosikan di acaranya. Celakanya, beberapa produk yg berkompetisi langsung, menggunakan penyiar dan acara yg sama untuk berpromosi. Karenanya, harus dibagi pembacaannya di segmen yg berbeda. Hal ini menyebabkan kebingungan bagi pendengar.

Contohnya, iklan mobil A dan B (produknya berkompetisi langsung di kelas yg sama). Di satu segmen si penyiar memuji2 keunggulan mobil A dan ‘menganjurkan’ pendengar untuk membeli mobil A tersebut. Di segmen berikutnya, si penyiar ganti memuji2 mobil B dengan poin keunggulan yg sama, dan tetap ‘menganjurkan’ pendengar membeli mobil B. Nah, kesan yg didapat si pendengar adalah penyiarnya plin plan.

Suatu saat pernah gue ngetwit soal ini dengan mention salah satu radio terkenal di Jakarta. Eh tanggapan penyiarnya gak mutu. Dikira gue nyerang pribadi si penyiar padahal gue mempertanyakan metode promosinya. Hadeuh…

Anyway, metode promosi memang kian berkembang. Asal diantisipasi aja efek negatifnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s