Aku Heran


Aku Heran
(written: Monday, August 6th, 2007)

Aku heran, masih saja ada sepeda motor yang tidak pakai lampu kalau malam, padahal mereka tahu itu berbahaya bagi dirinya dan orang lain.

Aku heran, masih saja ada perang, padahal mereka tahu perang akan membunuh banyak orang, menghasilkan banyak janda, dan menambah jumlah yatim piatu.

Aku heran, para calon gubernur berjanji untuk menghilangkan banjir, menghilangkan macet, mengurangi pengangguran, mengurangi kemiskinan, padahal kalau mereka memang bisa, mengapa harus menunggu sampai jadi gubernur?

Aku heran, masih banyak orang yang rela jadi pengemis, padahal mereka masih mampu bekerja dengan halal.

Aku heran, masih banyak juga penebangan hutan secara liar, pembakaran hutan sembarangan, apakah mereka tidak pernah mendengar tentang global warming?

Aku heran, masih banyak yang mau ‘makan’ uang haram hasil korupsi, padahal mereka tahu betapa banyak yang tidak bisa makan karenanya.

Aku heran, masih banyak orang yang mementingkan ‘kemasan’ dibanding ‘isi’, padahal mereka tahu ‘isi’ jauh lebih berharga dari ‘kemasan’

Aku heran, masih saja ada orang yang membunuh dan menyakiti orang lain atas nama agama, padahal mereka seharusnya tahu bahwa agama justru melarang orang menyakiti sesamanya.

Aku heran, masih banyak yang memandang rendah orang lain hanya karena mereka memiliki kekurangan, padahal mereka tahu tidak ada yang sempurna di dunia.

Aku heran, masih banyak orang yang menyia-nyiakan apa yang dimilikinya, padahal mereka tahu orang lain bersedia membayar berapapun untuk mendapatkannya.

Aku heran, masih banyak orang takut mati, padahal mereka tahu mau sekarang atau nanti, toh mereka tetap akan mati.

Aku heran, masih banyak orang yang takut mati karena alasan belum siap, namun mereka tidak pernah mulai mempersiapkannya.

Aku heran, masih banyak orang mengeluh tidak bahagia, padahal mereka tahu kebahagiaan itu hanya mereka yang bisa menciptakannya.

Aku heran, masih banyak orang yang begitu mendewakan uang, padahal mereka tahu uang tidak akan pernah bisa membeli segalanya.

Aku heran, masih banyak orang yang tidak pernah menghargai perasaan orang lain, padahal mereka ingin orang menghargai perasaan mereka.

Aku heran, mengapa status masih dianggap begitu penting oleh orang, padahal mereka tahu status tidak menjamin kebahagiaan.

Aku heran masih banyak orang yang hidup untuk bekerja, padahal mereka tahu bahwa justru mereka bekerja untuk hidup.

AKu heran, mengapa kebaikan selalu dianggap investasi, dan mengharap mendapatkan return berkali lipat, padahal mereka tahu tanpa berhitungpun mereka sudah mendapatkan balasannya sepanjang hidup mereka.

Aku heran, mengapa aku masih saja heran, padahal aku tahu hal itu terjadi setiap hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s