Malam Terakhir di Plaka


Aku membayar minumanku, meraih gelasnya, dan berjalan memutar meja kasir menuju ke luar kafe. Meja favoritku memang berada di luar, karena dari sana aku bisa memandang langsung ke arah Lapangan Monastiraki. Serombongan anak muda terlihat sedang mengerumuni musisi jalanan yang memainkan lagu-lagu kekinian di pinggir alun-alun. Jalanan tampak ramai oleh turis asing yang menikmati suasana Minggu sore di pusat kota Athena, rutinitas yang kulakukan selama hampir sebulan terakhir.

Angin dingin berembus, membuatku sedikit menggigil. Aku menggenggam gelas berisi cokelat panas, berusaha mengalirkan kehangatan melalui jari-jariku. Tiba-tiba, seseorang menarik kursi di sebelahku dengan perlahan, membuatku otomatis menoleh dan menengadah. Aku tak mampu menyembunyikan rasa terkejutku. Hampir saja aku melompat dari kursi.

“Ternyata benar kau bersembunyi di sini.”

“Buat apa kau ke sini?” tanyaku sambil merogoh saku jaket untuk mengeluarkan sebungkus rokok dan korek api.

“Mencarimu. Jangan pura-pura nggak tahu,” jawabnya lembut.

Aku mengambil sebatang rokok, menyalakannya, lalu menghirupnya dalam-dalam sebelum mengembuskan asapnya dan terbatuk beberapa kali.

“Sejak kapan kau mulai merokok lagi?” katanya sambil bergeser mendekat. “Kau nggak pernah berubah. Selalu lari saat menemui masalah.”

“Bukan urusanmu,” jawabku ketus, lalu meraih gelas dan menyesap cokelat panasku yang mulai mendingin.

“Urusan kita belum selesai. Sampai kapan kau akan menghilang dan memilih bersembunyi di sini?”

“Aku nggak bersembunyi. Buktinya kau bisa menemukanku,” jawabku sembari mematikan rokok di asbak. Jika aku terbatuk-batuk lagi, aku akan terlihat konyol di depannya.

“Aku akan selalu bisa menemukanmu. Masak kau nggak pernah sadar itu?” katanya lagi, menatap tajam ke dalam kedua mataku.

“Kau tak seharusnya ke sini menemuiku. Aku sudah membuat kesalahan. Biarkan aku di sini untuk menebusnya…”

Ia tersenyum tipis.

“Nggak apa-apa. Toh aku juga nggak sibuk. Kupikir, kenapa nggak sekalian saja ikut menghilang bersamamu?”

Aku menghabiskan sisa cokelat panas dan berdiri. Ia buru-buru ikut bangkit. Aku melangkah meninggalkan area kafe. Setelah menimbang-nimbang sejenak, aku berbelok ke kiri dan menyusuri lorong kecil. Di sisi kiri berdiri reruntuhan kuil kuno, pemandangan yang jamak ditemui di setiap sudut kota tua Athena ini. Di sisi kanan, deretan toko suvenir memajang berbagai motif karpet tradisional di terasnya. Aku memutuskan menyeberang. Kulihat ia masih setia mengekoriku. Aku lantas berhenti dan menunggunya mendekat.

“Sebenarnya apa maumu?”

“Nggak ada. Aku cuma ingin tahu kapan kau akan pulang ke Jakarta.”

Aku mendengus pelan dan kembali berjalan. Ia menyamai langkahku. Di depan, sekelompok orang tampak mengerumuni seorang gitaris jalanan. Tertarik oleh suasana, aku ikut bergabung dalam kerumunan dan bertepuk tangan mengikuti irama musik. Musisi jalanan di sini memang cukup berkualitas; beberapa bahkan menjual CD rekaman independen mereka, jauh lebih berbobot dibanding musisi instan yang hanya mengandalkan penampilan fisik.

Sekitar lima belas menit aku terhanyut dalam pertunjukan jalanan itu. Saat lagu usai, orang-orang bertepuk tangan sambil melemparkan sejumlah koin ke dalam kotak instrumen. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Aku nggak akan ke mana-mana sampai aku mendapatkan jawaban,” bisiknya tepat di dekat telingaku.

Aku menggelengkan kepala dan kembali berjalan. Angin malam yang berembus pelan terasa menusuk tulang. Aku merapatkan kancing jaket dan menaikkan tudungnya untuk menghalau hawa dingin. Kulihat ia kembali melangkah di sampingku. Langit semakin gelap. Aku mempercepat langkah menuju Plaka.

Bar dan restoran di sepanjang jalan mulai menyalakan lampu temaram begitu aku tiba di sana. Cahayanya berpendar lembut, menciptakan atmosfer yang hangat. Aku melangkah masuk ke dalam sebuah bar langganan. Karena cukup sering datang ke sini, para pelayan langsung mengenaliku dan mengarahkanku ke tempat favorit: meja di pojok, tepat di sebelah jendela kaca besar dengan latar reruntuhan kuno. Pemanas ruangan sudah dinyalakan, sedikit mengurangi gigitan udara malam.

Aku memanggil pelayan dan memesan menu biasa: seporsi chicken salad dan Ouzo, minuman beralkohol khas Yunani.

“Ini caramu menghukum diri sendiri? Dengan rokok dan alkohol?” komentarnya sambil duduk di sebelahku.

“Cuaca di luar terlalu dingin. Aku membutuhkannya untuk menghangatkan tubuh.”

“Kalau nggak tahan dingin, pulanglah.”

“Aku berencana menetap di sini.”

“Kenapa?”

Aku memandangnya sekilas, lalu menggeleng pelan.

“Kau pasti sudah tahu jawabannya. Kenapa masih bertanya?”

“Karena aku ingin mendengarnya langsung darimu.”

“Untuk apa?”

“Untuk ketenangan kita berdua.”

“Apapun jawabanku, tak akan ada lagi ketenangan untukku. Semua orang sudah membenciku,” suaraku mulai bergetar.

Pelayan datang mengantarkan pesanan. Langsung kuhabiskan Ouzo dalam sekali tenggak. Kurasakan kerongkonganku terbakar, tetapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin melupakan semuanya, meski cuma untuk sesaat. Perlahan, kehangatan mulai menjalar di tubuhku.

Ia menggelengkan kepala melihat caraku minum.

“Jangan lakukan ini. Mereka nggak seperti yang kausangka. Mereka cuma butuh waktu.”

“Aku juga butuh waktu. Mungkin seumur hidupku,” suaraku meninggi, membuat beberapa pelayan melirik ke arah kami dan berbisik-bisik. Tapi aku tak peduli lagi.

“Mereka sudah menyadari bahwa kecelakaan itu bukan salahmu. Sekarang mereka mencarimu. Pulanglah.”

“Mungkin mereka sudah memaafkanku. Tapi, apakah kau tahu kalau aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri?”

Tangisku akhirnya pecah. Para pelayan mulai memerhatikan secara terang-terangan. Aku buru-buru menyusut air mata menggunakan tisu di atas meja. Aku membuka dompet, menarik beberapa lembar uang, dan melemparkannya begitu saja ke meja tanpa menyentuh makananku. Aku berdiri dan melangkah keluar bar.

“Kau mau selamanya terjebak di sini? Nggak masalah. Aku akan menemanimu.”

“Untuk apa? Kau bahkan tidak nyata…”

“Supaya kau tahu bahwa aku sudah memaafkanmu, jadi kau bisa belajar memaafkan dirimu sendiri.”

Kepalaku berdenyut kencang, menghadirkan kembali bayangan kelam kecelakaan malam itu, kejadian yang tidak meninggalkan bekas fisik di tubuhku, tetapi telah merenggut nyawanya.

Langkah kakiku terhenti di trotoar berbatu kawasan Plaka yang basah oleh sisa embun malam. Angin dingin dari arah Akropolis menyapu wajahku, tapi rasa panas di dada jauh lebih mendominasi. Aku berbalik, menatap kosong ke ruang kosong di sampingku, ke arah sosok yang sejak tadi setia berjalan di sisinya, meski orang lain hanya melihatku berjalan seorang diri.

“Sampai kapan aku harus terus menyiksanya… menyiksa bayanganmu?” suaraku tercekat, nyaris berbisik di antara bisingnya turis dan alunan musik dari bar-bar sekitaran.

Ia berdiri di bawah temaram lampu jalan antik bergaya neo-klasik. Senyumnya yang dulu begitu akrab kini terlihat begitu tenang, seolah beban berat yang menghimpit dadaku selama berbulan-bulan tidak ikut membelenggunya.

“Selama kau terus berlari dari kenyataan,” jawabnya lembut, melangkah mendekat tanpa suara. 

“Kau datang ke Athena untuk mencari pelarian. Mencari tempat di mana tidak ada yang mengenal namamu, tidak ada yang mengingatkanmu pada malam tragis itu. Tapi kau membawa serta penjara itu di dalam kepalamu.”

Aku memejamkan mata erat-erat. Bayangan malam nahas di Jakarta itu berputar kembali dalam benakku. Suara derit ban, hantaman keras, dan keheningan panjang yang merenggut nyawanya dalam sekejap. Selama ini, rasa bersalah itu berakar begitu kuat hingga aku merasa setiap detik sisa hidupku adalah sebuah dosa jika dinikmati. Keputusan untuk menerima penugasan atau menyepi ke luar negeri hanyalah topeng dari pelarian pengecut.

“Mereka di Jakarta sudah memaafkanmu. Keluargamu, rekan-rekan kerjamu… bahkan duniaku yang terhenti,” bisiknya lagi, tangannya terulur seolah hendak menyentuh bahuku, meski aku tahu jemari itu hanya akan menembus udara dingin.

“Sekarang, giliranmu yang harus berdamai dengan takdir. Maafkan diriku yang tiada, dan lebih penting lagi, maafkan dirimu yang masih bertahan.”

Aku menarik napas panjang, membiarkan udara malam Athena mengisi paru-paruku untuk terakhir kalinya sebagai seorang pelarian. Air mata yang sempat tertahan akhirnya tuntas tumpah, larut bersama dinginnya malam di kaki bukit Parthenon. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kepalaku yang tadinya berdenyut hebat perlahan terasa ringan. Aku membuka mata. Lorong Plaka itu tetap sama, toko-toko suvenir, lampu-lampu temaram, dan keramaian turis yang lalu-lalang. Namun, sosok di sebelahku kini telah memudar, menyatu dengan hembusan angin malam yang berbisik lembut di antara reruntuhan sejarah kota tua.

Aku menatap layar ponselku yang gelap. Ada puluhan pesan yang belum sempat kubuka dari Jakarta, dari istriku, dari tim kantor, dari orang-orang yang selama ini aku hindari. 

Aku menyeka sisa air mata di wajahku, membalikkan badan, dan mulai melangkah pasti menuju arah hotel tempat koperku berada.

Besok pagi, aku akan pulang.

Leave a Reply