Menilai Kinerja Dengan Melihat Dimensi Yang Berbeda
Pernahkah Anda membayangkan sebuah panggung perfilman di mana akting natural seorang aktor anak-anak dinilai langsung dalam satu takaran yang sama dengan legenda hidup sekelas Christine Hakim atau Meriam Bellina?
Debatnya pasti panjang dan melelahkan dan saya tidak akan masuk ke perdebatan karena saya tidak punya kapabilitas di industri tersebut. Tapi saya punya pemikiran bahwa dinamika serupa sering terjadi secara senyap di ruang-ruang kerja, lewat penilaian seorang atasan.
Sebagai pemimpin, saya sering kali diingatkan bahwa menjatuhkan penilaian secara umum tidak boleh sekadar melihat hasil instan di permukaan. Sering kali, kita dipaksa untuk membandingkan dua kutub yang sama sekali berbeda: si senior yang sudah berpengalaman bertahun-tahun versus si pendatang baru yang terlihat cemerlang karena gebrakan orisinalnya.
Penilaian atasan yang pukul rata tanpa konteks jam terbang ini sering kali meninggalkan dilema bagi kedua belah pihak:
- Dari Sudut Pandang Si Senior: Mereka yang sudah berpengalaman bertahun-tahun sering kali merasa lelah secara mental. Bagi mereka, menjaga konsistensi, meredam masalah sebelum membesar, dan memastikan operasional berjalan stabil adalah kerja senyap yang melelahkan. Tidak ada yang melihat hasil kerja tersebut karena memang stabilitas lebih sering tidak terlihat namun terasa. Ketika atasan lebih mudah terkesan oleh “efek kejut” dari pendatang baru, si senior merasa dedikasi jangka panjangnya tak lagi terlihat.
- Dari Sudut Pandang Si Pendatang Baru: Di sisi lain, si anak baru yang energik juga berada di posisi canggung. Mereka datang membawa ide-ide segar. Namun, ketika atasan terlalu memuji gebrakan mereka tanpa konteks jam terbang, hal ini justru menciptakan jarak. Si pendatang baru kerap merasa sungkan, terbebani ekspektasi berlebih, atau bahkan disalahpahami oleh rekan-rekan setimnya yang mungkin jauh lebih senior.
Sebagai atasan, saya belajar bahwa menilai bawahan menuntut keadilan yang lebih dalam dari sekadar melihat performance sesaat. Kinerja yang tampak gemilang hari ini belum tentu teruji ketika badai yang sebenarnya datang menghantam.
Di sinilah pengalaman berbicara. Ketika perusahaan menghadapi krisis besar, di mana tekanan berada di puncak dan keputusan harus diambil dalam hitungan detik, gebrakan kreatif saja tidak cukup. Pengalaman bertahun-tahun lah yang membentuk intuisi, ketenangan mental, dan insting mitigasi risiko yang menyelamatkan kapal dari situasi kritis. Senior yang terlihat “tenang, biasa saja, just average” saat operasional normal, sering kali menjadi jangkar paling kokoh saat situasi genting melanda.
Menyamaratakan standar penilaian tanpa melihat titik awal dan dimensi kerja seseorang adalah cara paling cepat mengikis motivasi tim. Atasan yang adil tentu paham: Anda tidak bisa membandingkan ketahanan seorang kapten kapal tua yang menjaga kapal dari badai bertahun-tahun, dengan aksi heroik seorang kru muda yang baru pertama kali meredakan gelombang kecil.
Keduanya sama-sama penting bagi laju perusahaan, tetapi peran dan beban mereka jelas ada di dimensi yang berbeda. Dan dua dimensi ini harus diperhatikan dalam proses penilaian.
Jadi, sebelum berikutnya kita memberikan penilaian, ada baiknya menarik napas sejenak dan merenung: Apakah kita sedang terpesona pada kilau sesaat, atau kita benar-benar menghargai pengalaman yang kelak menyelamatkan kita di tengah krisis?
