Perth, A Quick Birthday Escape


Why Perth? Iya ini juga jadi pertanyaan saya sih waktu itu hahaha. Alasannya terlalu shallow emang. Karena dapat visa Australia 3 tahun sampai tahun depan dan baru dipake sekali, jadi sebelum habis pengennya dimanfaatin lagi haha. So then I just booked the flight and hotel (don’t worry, it’s an affordable ones 😁) WITHOUT itinerary.

Tips: kalau beli tiket pesawat, cari yang semurah mungkin, atau kalau harga sama mendingan cari yang benefitnya lebih. Dalam kasus saya, tiket yang paling ok itu lewat Bali dan pulangnya stay dua hari di Bali karena harga di 2 hari berikutnya jauh lebih murah, bahkan bila dibandingkan dengan harga hotel 2 malam di Bali 😁

Was it worth it to visit Perth? Coba baca cerita saya dulu ya. Kotanya tidak terlalu ramai dengan turis, banyak sudut-sudut kota yang kece, udaranya bersih dan dingin (iyalah lagi winter 😁), transportasi mudah, dan penduduknya ramah. Kekurangannya cuma satu, agak sulit menemukan tempat makan yang enak. Yes, I’m talking about Asian Food. Bandingkan dengan Sydney atau Melbourne yang bertaburan restoran Asia yang enak dan murah 😁.

Jadi ke mana saja waktu di Perth? Perlu saya jelaskan kalau trip ini adalah birthday trip, tujuannya hanya untuk refreshing dan tidak ada tempat khusus yang saya rencanakan, semuanya on the spot, yang penting mudah didatangi, bisa makan enak 😁, dan keren difoto (penting banget ya hahaha).

Setelah makan pagi, saya keluar dari hotel dan jalan kaki menuju Elizabeth Quay. Niatnya mau ngopi-ngopi di pinggir pantai. Maklum, dinginnya winter di Perth itu pas, gak terlalu dingin seperti di Sydney atau Melbourne, jadi enak buat nongkrong ngopi outdoor. Sambil jalan ke sana, saya melewati beberapa rangkaian pertokoan (iya, sambil liat-liat siapa tahu ada yang menarik untuk dibeli haha), dan tiba-tiba saya sudah berada di sebuah lorong pertokoan yang cakep banget. Suasananya mirip di Eropa dengan bangunan-bangunan bergaya kastil tua mirip di film Harry Potter. Pas googling, ternyata tempat itu adalah salah satu tempat paling terkenal di Perth, namanya London Court yang umurnya sudah 80 tahun lebih. Jadi belanja? Nggaklah, gak level. Kemahalan ahahahaha. Mau ngopi di sini tapi gak ada yang outdoor tempat ngopinya. Jadi ya lanjut aja abis foto-foto hehe.

Elizabeth Quay adalah sebuah kompleks perkantoran dengan gedung-gedung bertingkat mirip di SCBD Jakarta, tapi letaknya di pinggir pantai. Walaupun saya menyebutnya pantai, sebenarnya ini adalah semacam danau atau sungai besar, bukan laut. Namanya Swan River. Lingkungannya menyenangkan, udaranya sejuk dan segar (yaiyalah lagi winter), gak ada macet, dan sepi. Ada 3 landmark yang menonjol di sekitar Elizabeth Quay, yaitu Spanda, semacam patung berbentuk lengkungan-lengkungan yang makin tinggi, Elizabeth Quay Bridge, dan Swan Bell Tower yang menjadi ikon kota Perth.

Jadi gak ngopi-ngopinya? Jadi dong, dan ternyata anginnya dingin sekali, jadi selain kopi perlu makanan juga (ahahaha alasaaan).

Setelah itu saya melanjutkan perjalanan keliling kota. Menyusuri pinggir sungai, mengunjungi St. Mary Cathedral, dan Blue Boat House. Jalan kaki juga? Maunya sih, apa daya kaki sudah renta jadi terpaksa naik bis 😁.

Tips: selalu cari alternatif transportasi termurah, kalau perlu cari one day pass biar gak repot beli-beli tiket. Di Perth harga DayRider-nya AUD 12.8, bisa dipakai seharian setelah jam 9 pagi. Kalau weekend beli aja FamilyRider, harganya AUD 12.8 tapi bisa dipakai barengan oleh maksimal 7 orang.

Pada saat mengunjungi Blue Boat House, awalnya sudah terbayang hasil foto yang keren, selfie yang kece, tapi gak pernah mengira bahwa untuk mendapatkan itu semua harus antri. Satu, antriannya panjang, dua, kalo kita foto harus pede ditonton banyak orang di antrian berikutnya. The pressure was real 😂😂😂. Jadi, ya foto dari jauh aja trus lanjut jalan lagi.

Kebetulan di seberang Blue Boat House ada hutan kecil yang setelah dilihat di peta tersambung dengan King’s Park dan Botanical Garden, sebuah taman seluas 400 hektar yang berujung di Elizabeth Quay. Jadi saya memutuskan untuk trekking melalui hutan, mengelilingi King’s Park, dan berjalan kaki lagi kembali ke hotel lewat Elizabeth Quay. Totalnya sekitar 13 km. Tapi karena udaranya segar, dingin, dan King’s Park benar-benar indah, perjalanan terasa menyenangkan.

Hari kedua, saya memutuskan untuk keluar dari Perth menuju Fremantle, kebetulan hari ini adalah akhir pekan, jadi bisa sekalian mengunjungi Fremantle Market yang memang hanya buka di akhir pekan. Eh ternyata bisnya lewat lagi di Blue Boat House, dan karena gerimis, maka tidak ada antrian, bahkan tidak ada orang yang ada di situ. Saya turun dan kebetulan sekali gerimis berhenti, jadi saya beruntung ‘memiliki’ tempat itu hanya untuk diri saya sendiri selama beberapa menit, sebelum orang-orang kembali datang dan antri foto hahaha.

Fremantle Market adalah sebuah pasar traditional yang berusia lebih dari 120 tahun. Isinya sih lebih banyak buat tourism, gak ada yang jual daging/ikan segala. Yang dijual makanan, souvenir, kaos, dll. Oh ada sayur dan buah-buahan segar ding. Dan seperti biasa, kapan lagi dapat cherry segar dengan harga murah, ya ngeborong laaah 😁. Oya, di sekitar pasar ada banyak restoran dan coffee shop yang kece buat nongkrong 😁

Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi di Fremantle ini. Dari Contemporary Art Gallery yang banyak benda seni aneh (baca: art), berjalan kaki menyusuri pantai ke South Mole Lighthouse, hingga mengunjungi Roundhouse.

Pada saat berjalan ke arah Roundhouse, ada satu jalan yang gedung-gedung dan pinggiran jalannya dicoret-coret pake cat kuning. Saya pikir kurang kerjaan sekali orang-orang Fremantle ini. Pas sampai di ujung jalan dan berbalik, eh ternyata coretan-coretan tadi adalah sebuah optical illusion yang dilihat dari jauh seperti membentuk lorong. Karya seni tersebut adalah karya Felice Varini yang dikenal dengan sebutan Arcs D’Ellipses. Googling aja karyanya yang lain.

Roundhouse adalah bangunan tertua di Australia Barat, yang berusia hampir 200 tahun. Dulunya sih penjara, tapi sekarang sudah jadi obyek wisata yang ramai dikunjungi di Fremantle.

Hari ketiga, saya kembali keliling kota. Tujuan pertama adalah naik bis secara random, trus berhentinya random juga, karena penasaran pengen ngerasain Red Rooster, restoran ayam yang plangnya ada di mana-mana di Perth ahahaha gak jauh-jauh dari makanan lah pokoknya.

Sambil makan saya sekalian googling. Ternyata tidak jauh dari situ ada kincir angin tua, akhirnya diputuskan untuk mengunjunginya. Nama tempatnya adalah The Old Mill. Kincir tua berusia hampir 200 tahun ini memang kurang dikenal, jadi jarang sekai dikunjungi turis. Jangankan turis, si ibu penjaga yang baik hati ini pun baru tau keberadaan kincir ini setelah hampir 40 tahun tinggal di Perth. Walaupun sudah tua dan tidak digunakan lagi, namun kondisinya masih terawat dengan baik. Oya, masuknya gratis lho, dan dapat kartu pos gratis dari si ibu.

Karena bingung mau ke mana lagi, saya browsing lagi dan memutuskan untuk sekaian saja pergi ke pantai yang letaknya agak keluar dari kota Perth. Konon matahari terbenam di pantai ini indah sekali. Namanya Cottesloe Beach. Perjalanan makan waktu kira-kira 45 menit naik bis. Tiba di pantai kira-kira jam 3 sore, masih banyak waktu sebelum matahari mulai terbenam.

Pantai ini sungguh menyenangkan, pemandangannya indah, walaupun matahari bersinar tapi udara tetap dingin (yaiyalah namanya juga winter hahaha). Di sepanjang pantai dibangun jalur pedestrian bagi pemakai sepeda dan pejalan kaki. Dan jika ingin ke pantai harus turun melalui beberapa jalur khusus. Menjelang sore pantai memang terlihat lebih ramai, ada yang sekedar berjalan-jalan menikmati pemandangan, ada yang berolahraga lari, ada yang bermain dengan anjing-anjingnya, dan ada yang bersiap-siap mengambil foto matahari terbenam. Dan saat matahari mulai terbenam, saya harus mengakui bahwa pemandangan di pantai ini adalah salah satu yang paling indah yang pernah saya lihat.

Hari terakhir, setelah check out dari hotel, saya masih sempat keliling kota menikmati mural yang bertebaran di seluruh kota, mengunjungi Hyde Park dan beberapa bangunan tua yang menarik di tengah kota sebelum sore harinya saya menuju bandara dan terbang ke Bali.

So was it worth it to visit Perth? Oh iya banget. Sebaiknya kamu memasukkan kota ini sebagai kota yang harus dikunjungi di musim dingin (Juli-Agustus). Cheers…

6 comments

  1. Bernard ini jalan-jalan sendiri? Trus bisa dapetin foto yang kayak di Blue Boat House itu bagaimana caranya kalau sendirian? Yang belakangnya bokeh-bokeh gitu loh. Hahahaha. Karena kalau pakai tripod kan mesti disetting dl trus cari fokus, cari fokusnya gimana kalau kitanya lagi di belakang kamera? Hahaha. Pertanyaan gw teknikal banget ya.

    But truly, thank you for the writing! Visa Aussie gw sampai 2020 dan emang kepikiran mau ke mana lagi di Aussie abis Syd n Melb. Kepikiran mau ke Perth tapi kok kayaknya kalau nggak fokus soal wine, si Perth ini biasa aja. Eh ternyata banyak yang cakep cakep juga. Hehehe.

    Like

      1. Owalaaaaa.. Pantesin. Hihihi.

        Iya, banyak winery gitu di Perth, temanku yang aku tanyain soal Perth paling banyak ngomong soal winery ini. Hihihi.

        Like

  2. Ini apply visanya langsung di kedutaan ya bang? Atau memanfaatkan pengajuan online? Penasaran sama negara-benua ini.

    Foto-fotonya cakep dan aku juga kaget pas liat Arcs D’Ellipses. Jadi penasaran dan googling. TFS btw.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s