Senang dan Kenyang di Palembang – 1


Gue datang ke Palembang sebenarnya tanpa rencana. Dadakan aja. Kebetulan punya tiket gratis sekali jalan dan voucher menginap 2 malam di Hotel Santika. Jadi setelah upacara adat pemakaman nenek di Medan yang melelahkan secara mental sejak Selasa hingga Jumat, gue memutuskan untuk refreshing di akhir pekan sambil memanfaatkan hadiah-hadiah tadi sebelum kadaluwarsa. Kenapa Palembang? Karena penasaran. Tahun 2015 gue pernah ke Palembang dalam rangka dinas kantor tapi sayangnya nyampe pagi di Palembang trus langsung pulang ke Jakarta siangnya. Jadi blom sempat menikmati Palembang. Menurut gue kali ini adalah saat yang pas untuk exploring Palembang.  


Tiba di Palembang Jumat malam. Setelah cek in di hotel gue melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh siapa saja yang mengunjungi Palembang. Yak, cari pempek hahaha. Kebetulan di depan hotel ada restoran yang cukup terkenal dengan oleh-oleh pempeknya. Gue langsung ke sana gak pake mandi dulu segala. Karena gue penggemar pempek kulit, maka gue langsung pesan……semua jenis pempek hahaha. Entah kenapa tapi rasanya memang jauh lebih enak dari pempek yang gue makan di Jakarta. Konon kuncinya adalah kuah cukanya. Oya, pempek terbuat dari bermacam-macam ikan. Yang common adalah ikan belida, tapi harganya mahal. Yang lebih terjangkau adalah ikan gabus atau ikan tengiri. Rasanya sih gak terlalu beda jauh. Untung gue gak kalap, jadi pesan secukupnya aja, karena…….disambung dengan patin pindang! Duh, enaknya jadi bikin pengen ke sana lagi πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Eh maafkan fotonya yang gak terlalu menarik karwna keburu diacak-acak hahaha.


Seperti biasa gue gak bikin itinerary. Jadi Sabtu pagi (menjelang siang) gue langsung keluar hotel dan ambil taksi untuk keliling kota. Kenapa taksi? Palembang itu panasnya minta ampun, jadi males banget kalo harus panas-panasan keliling kota naik turun kendaraan umum yang ganti-ganti. Lagian kan ini buat refreshing 😝. Niat awalnya sih cuma ke Jembatan Ampera trus foto-foto di situ baru nanti dari situ nyegat taksi ke tujuan selanjutnya. Tapi si sopir taksi nawarin untuk nemenin keliling kota, yah dasar gue pemalas, abis nanya perkiraan argo gue langsung iyain aja. Itung-itung sewa mobil + sopir. And that was good decision. Si sopir taksi (yang bawel banget itu) ternyata bisa sekalian merangkap guide. Dia yang ngasi masukan gue harus ke mana aja seharian itu plus beberapa cerita tambahan soal Palembang. 

 

Tujuan pertama adalah ke kawasan benteng yang berada di tepi sungai Musi dan gak jauh dari Jembatan Ampera. Di kawasan ini ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi dengan sekali parkir. Pertama gue ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin 2. Museumnya gak terlalu besar tapi gue seneng banget karena display tertata rapi dan menarik. Bangunannya sendiri menyimpan sejarah panjang. Dibangun sekitar 300 tahun lalu, awalnya bangunan ini adalah sebuah Istana yang disebut Keraton Kuto Lamo. Kemudian berpindah fungsi menjadi rumah untuk seorang komisaris Belanda, lalu berubah fungsi lagi menjadi markas tentara Jepang, lalu menjadi pangkalan militer TNI-AD, dan akhirnya kembali ke pemerintah daerah dan digunakan sebagai museum. Di dalam museum terdapat berbagai jenis benda bersejarah yang menggambarkan sejarah Palembang di masa lalu berupa benda-benda arkeologi, sejarah etnografi, biologi, riwayat kesenian & benda-benda seni dan juga sejarah mata uang yang pernah digunakan. Oya, walaupun siang hari, tapi karena saat itu sama sekali gak ada pengunjung selain gue, suasananya agak creepy. Bayangin aja, sunyi sekali tanpa suara apapun kecuali derak lantai kayu yang gue injak, ditambah penerangan agak suram, dan dikelilingi benda-benda tua, jadi gue agak cepet-cepet di dalam hehehe. 

 

Kemudian gue jalan ke arah sungai Musi untuk melihat Benteng Kuto Besak. Benteng kuno ini umurnya kurang lebih sama dengan bangunan Museum tadi. Dan awalnya juga berfungsi sebagai istana/keraton. Sayangnya benteng ini masih berfungsi sebagai markas Kodam Sriwijaya, jadi cuma bisa dilihat dari luar aja. 

Setelah itu gue jalan ke arah belakang museum untuk mengunjungi Monumen Perjuangan Rakyat atau Monpera. Monumen ini dibangun tahun 1988 untuk mengenang perjuangan melawan penjajah di Palembang tahun 1947 yang dikenal dengan perang 5 hari 5 malam. Walaupun instagramable dari luar, namun buat gue yang lebih menarik adalah bagian dalamnya. Total ada 8 lantai yang harus dinaiki tanpa lift untuk sampai ke puncak monumen. Di tiap lantai terdapat banyak dokumen bersejarah termasuk foto-foto, lukisan perjuangan, beberapa patung, koleksi senjata, dan juga mata uang. Di lantai 8 kita bisa naik lagi ke atap monumen untuk menyaksikan pemandangan 360 derajat kota Palembang. Oya, karena sepi dan penerangan agak suram (dan gue penakut), suasana di tiap lantai juga creepy. Mending bawa temen deh kalo ke sini hehehe.

 

Tepat di seberang Monpera terdapat Masjid Agung Palembang. Di sini gue cuma foto-foto sebentar karena….you know….panasnya minta ampun. Kelak saat gue berada di sisi lain masjid, baru terlihat exterior yang sangat indah. Nyesel juga gak muterin masjid dan hanya foto-foto dari satu sisi aja.


Pas gue di daerah benteng Kuto Besak tadi, gue melihat di seberang ada Kampung Kapitan. Menurut sopir taksi gue, Kampung Kapitan adalah kampung tua tempat di mana pendatang Cina pertama kali menetap di Palembang. Jadi gue minta diantar ke sana. Ternyata cuma tinggal beberapa rumah tua berarsitektur Melayu-Cina yang masih ada di sini. Oya, di Kampung Kapitan ini sendiri sudah dikembangkan menjadi tempat makan dan nongkrong yang ramai di malam hari. Belakangan gue tau di sekitar sini ada juga kampung tua lain. Next time lah.

 

Setelah itu gue minta diantar ke Masjid Cheng Ho. Seperti sudah diketahui, budaya Cina cukup kental dirasakan oleh masyarakat setempat. Dulu Laksamana Cheng Ho dari daratan Tiongkok datang berkunjung dan ikut berjasa menyebarkan agama Islam di bumi Sriwijaya. Masjid Cheng Ho ini dibangun tahun 2003 dan baru diresmikan tahun 2006. Bangunan masjid terlihat berarsitektur Cina, Arab, dan Melayu. Nuansa Cina terlihat sangat jelas di kedua menara yang berbentuk mirip pagoda berwarna merah dan hijau.

 

Ngomong-ngomong keliling-keliling gak kerasa udah siang. Laperrr. Gue mau nyobain pempek lagi. Tapi pempek biasa kan udah tadi malam, jadi gue mau yang beda. Makanya gue mampir di Pempek Saga Sudi Mampir, tempatnya pas di depan kantor walikota Palembang. Bedanya apa? Kalo pempek biasanya digoreng, maka pempek di sini dipanggang. Atas rekomendasi mbaknya, gue pesen Lenggang Panggang. Pempek isi telor yang dipanggang. Rasanya cukup enak, walaupun gue tetep aja #TeamPempekDigoreng hahaha.

 

Pssst…sopir taksi gue ini informatif banget. Sampe segala rumah public figure macam Helmi Yahya, Alex Noerdin sama satu artis yang gue gak pernah kenal namanya juga dikasitau hahaha.

Anyway nanti gue lanjutin cerita jalan-jalan gue di Palembang di sini ya...

 

 

Museum Sultan Mahmud Badaruddin 2

Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30113

Tiket masuk: Rp. 5.000,-

 

Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera)

Jl. Merdeka No. 1, 19 Ilir, Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30113

Tiket masuk: Rp. 5.000,-

 

Masjid Cheng Ho

15 Ulu, Seberang Ulu I, Palembang City, South Sumatra 30267
Pempek Saga Sudi Mampir

Jl. Merdeka, 22 Ilir, Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30113

Harga per orang: +/- Rp. 30.000,-

12 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s