Cirebon Getaway – Part 2


Pagi-pagi banget mbak-mbak berdua udah bangunin gue untuk…….sesi pemotretan. Errrr…tapi ok lah. Demi perjuangan untuk jadi pemenang, kita bertiga panas-panasan di pinggir kolam renang. Seru banget. Mikirin set pemotretan, cari-cari angle yang sesuai, pilih-pilih properti, yoga pose, sampe bikin scenario, semua dilakukan oleh Katami dan Katiti. Gue tinggal nurut aja sama mereka. You’re awesome, guys *ketjoep

Eh tiba-tiba ada yang nyamperin dan negor dengan ramah. Ternyata beliau adalah salah satu teman yang sudah lama kenal di twitter tapi baru sempet ketemuan pas gue ke Cirebon ini. Namanya Kakchik. Dan yang lebih seru, Kakchik akan nemenin kita jalan-jalan muterin Cirebon seharian ini. Yeaaayyy…
Jadi setelah sarapan di restoran hotel yang berada tepat di samping kolam renang, kami langsung mandi, check-out dan siap untuk melanjutkan perjalanan. Btw, sarapannya enak dan lengkap, ada nasi jamblang segala hahaha.


Pagi menjelang siang gue berencana mengunjungi beberapa keraton di kota Cirebon. Sebenarnya ada 3 keraton, tapi berhubung Keraton Kanoman hari ini sulit untuk dikunjungi karena berada di dekat pasar dan makan waktu yang cukup lama untuk mencapainya, maka gue hanya mengunjungi 2 keraton saja, yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kacirebonan. Keraton Kasepuhan berusia lebih dari 500 tahun dan Keraton Kacirebonan berusia lebih dari 200 tahun. Kedua keraton ini posisinya sama-sama memanjang dari utara ke selatan dan bangunannya memiliki gaya campuran antara Sunda, Jawa, Islam, Cina, dan Belanda.

Keraton Kasepuhan adalah keraton terbesar di Cirebon. Bagian luarnya dibatasi dengan pagar bata merah yang mengelilingi batas keraton. Bangunan utama Keraton berwarna putih yang di depannya terdapat patung sepasang macan putih yang merupakan lambang keluarga besar kerajaan. Dulunya bangunan utama ini dibuka untuk umum, namun karena ada pengalaman buruk dengan beberapa pengunjung, akhirnya yang dibuka hanya bagian depan saja. Di dalam area Keraton juga terdapat museum yang berisi barang-barang kuno termasuk gamelan kuno dan kereta kencana bernama Singa Barong yang dulu pernah digunakan oleh Sunan Gunung Jati. Barang-barang tersebut saat ini sebagian besar sudah tidak digunakan lagi, dan hanya dikeluarkan setahun sekali untuk ‘dimandikan‘ pada saat perayaan 1 Syawal.



Setelah itu kami mengunjungi Keraton Kacirebonan. Sebenarnya ada hal menarik yang ingin gue datangi di sini. Dari yang gue baca di internet, di dalam Keraton ini terdapat sanggar tari yang mengembangkan tari topeng Cirebon yang terkenal. Namun sayangnya saat kami berkunjung, Keraton terlihat sangat sepi dan tidak ada penjaganya. Sehingga kami hanya berkeliling selintas dan berfoto di depan gerbangnya yang sungguh fotogenik.



Setelah itu gue mengunjungi Goa Sunyaragi. Dari luar tempat ini terlihat gersang dan berbatu-batu. Ditambah dengan cuaca Cirebon yang sangat panas siang itu, membuat gue agak males sebenarnya masuk ke dalam. Tapi setelah gue memaksakan diri masuk ke dalam, semakin terasa bahwa tempat ini menarik dan menyimpan sejarah panjang. Dalam Bahasa Sansekerta, Sunya artinya sunyi dan Ragi artinya raga. Berusia lebh dari 300 tahun, bentuk bangunan-bangunannya mirip candi tapi susunan batunya gak beraturan. Di dalamnya juga terdapat banyak gua yang dibangun dari batu-batu. Konon tempat ini dulunya digunakan oleh para Sultan Cirebon untuk beristirahat dan bermeditasi. Oya, Goa Sunyaragi ini dulunya dikelilingi oleh danau dan merupakan bagian dari Keraton Kasepuhan.




Udah siang, perut laper, daripada cranky mendingan makan dulu ya kan. Gue pengen nyobain Empal Gentong yang terkenal itu. Kita mampir di Empal Gentong H. Apud. Empal gentong adalah makanan khas Cirebon semacam soto daging. Selain Empal Gentong, ternyata ada pilihan lain yaitu Empal Asem. Kita pesen dua-duanya doong. Tambah sate pulak. Diet? Apaan tuh hahahaha. Oya, namanya juga kontes, foto-foto harus doong. Liat aja kelakuan gue dan temen-temen demi foto yang keren dan kekinian hahahaha.

Sebelum pulang ke Jakarta, gue mampir dulu ke desa Trusmi yang dipenuhi oleh para perajin batik khas Cirebon. Kebetulan tantenya Kakchik punya toko batik, namanya Batik Ninik Ihsan, jadi kita ke sana aja. Awalnya cuma mau mampir liat-liat karena penasaran, dan kalo ada yang cocok sekalian belanja oleh-oleh batik. Tapi ternyata gue dapat pengalaman lebih. Kebetulan di bagian belakang showroom batik masih ada karyawan yang melakukan proses pembuatan batik, jadi beruntung sekali gue bisa liat langsung pembuatan batik. Dan lebih menyenangkan lagi, gue bisa ngerasain langsung salah satu proses pembuatan batiknya. Pegang canting, pegang kain batik, dan ngerasain panasnya lilin yang digunakan. Di sini gue jadi lebih paham kenapa harga batik tulis itu jauh lebih mahal dibandingkan batik cap. Proses pembuatannya panjang, rumit dan melelahkan. Satu lembar kain batik bisa diselesaikan dalam waktu 3-6 bulan. Pengalaman ini membuat gue makin menghargai profesi pembuat batik tulis ini. Setelah melihat proses pembuatan batik, kita mampir lagi ke showroom di depan dong. Kan mau beli. Ternyata semuanya bagus. Tapi yang gue mau malah yang mahal-mahal. Berada di dalam showroom dikelilingi kain-kain batik yang kece-kece itu bikin sakit hati. Pengen punya tapi gak mampu bayar hahaha. Oya, sedikit tips dari pemilik toko batik ini, jika kita kesulitan menentukan pilihan motif batik, selalu pilih motif Mega Mendung yang merupakan motif khas Cirebon. Pilihan yang gak pernah salah deh. Duh, ada satu penyesalan nih, gak sempet foto bareng si Ibu yang punya toko. Kan beliau terkenal banget di Cirebon. Apalagi baru-baru ini baca berita online ternyata Bu Irina Jokowi mampir juga ke Batik Ninik Ikhsan.





Tadinya niat pulang gak terlalu sore biar gak terlalu malam nyampe Jakarta, tapi demi ngelus-ngelus batik doang (maklum gak mampu beli huhuhu syedih) akhirnya sekitar jam 5 sore baru balik ke Jakarta. Next time pasti gue balik lagi, blom puas wisata kulinernya hehehe.

Thanks ya Katami, Katiti, Kakchik buat pengalaman jalan-jalan bareng yang seru. Lain kali harus diulang, tapi khusus buat makan-makan doang hahaha.

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s