Taking A Breath – Part 2: HOLYLAND


Baca persiapan perjalanan ini di sini

The Flight, The Airport, The Transit

Karena kami menggunakan jadwal penerbangan dini hari, maka malam sebelumnya kami sudah siap di bandara Soekarno-Hatta. Kami menggunakan Qatar Airlines yang mengharuskan kami transit di Dhoha. Tepat jam 00.25 pesawat take off. Pesawat yang kami gunakan adalah Boeing 777-300 yang masih baru. Pengaturan tempat duduk yang nyaman, pelayanan yang profesional, dan makanan yang cukup enak membuat saya puas. Kebetulan penerbangan hari itu relatif kosong, sehingga saya bisa pindah ke tempat duduk lain dengan posisi kaki yang bisa selonjor, sehingga bisa tidur dengan lebih nyaman.

Penerbangan ke Dhoha memakan waktu sekitar 8 jam, disusul dengan transit di bandara Dhoha selama hampir 8 jam, sebelum melanjutkan penerbangan ke Amman selama 3 jam. Ada perbedaan waktu sekitar 4 jam antara Jakarta – Dhoha, dan perbedaan waktu 5 jam antara Jakarta – Amman.

Sebenarnya bandara Dhoha tempat kami transit ini adalah bandara lama. Saat ini sedang dibangun bandara baru. Namun walaupun lama, kondisi bandara masih sangat baik. Ada silent room yang gelap, dengan kursi-kursi panjang dan melengkung, yang sangat nyaman digunakan untuk tidur. Ada duty free shop yang menjual segala jenis produk, ada kafetaria yang menjual banyak jenis makanan, semua toilet dalam kondisi bersih dan terawat, dan yang paling penting ada free wifi di setiap sudut bandara :))

Free wifi ini juga tersedia di bandara Amman (Queen Alia International Airport). Namun bandaranya kecil sekali. Duty free shop juga sekedarnya. Yang jelas, di bandara ini panas sekali (baca: gerah). Padahal di luar bandara masih cukup dingin. Sepertinya pengatur suhu ruangan diatur agak tinggi supaya hangat.

Tips: manfaatkan silent room saat transit. Usahakan tidur cukup sehingga stamina terjaga selama tour. Jika memungkinkan jangan bawa banyak tentengan supaya tidak repot menjaganya saat tidur.

The Border

Karena tidak ada penerbangan yang langsung dari Indonesia ke Israel, maka biasanya tour akan diawali di Amman, Yordania. Ada yang ke Petra dulu baru menyeberang ke Israel, ada yang langsung menyeberang. Saya ikut group tour yang kedua.

Dari bandara kami dijemput bus dan dibawa ke perbatasan Yordania-Israel. Proses di wilayah perbatasan dibagi dua. Pertama proses imigrasi di wilayah Yordania, lalu bis melaju melewati daerah tak bertuan sejauh kira-kira 2 km, lalu kedua adalah pemeriksaan imigrasi di wilayah Israel.

Proses imigrasi di wilayah Yordania cukup mudah. Kami semua tinggal di bis, sementara tour leader saja yang turun dan membawa seluruh paspor ke kantor imigrasi. Biasanya selalu ada beberapa koper yang ditunjuk secara random untuk dicek lewat x-ray. Kadang-kadang si pemilik koper dipanggil untuk membuka kopernya. Proses tidak terlalu menyeramkan karena petugas di wilayah perbatasan yang membawa senjata tidak terlalu banyak.

Kantor imigrasi di wilayah Israel jauh lebih ‘menyeramkan’. Banyak petugas bersenjata lengkap lalu lalang. Prosesnya pun lebih rumit. Pertama tiba, seluruh rombongan harus turun dari bis beserta seluruh barang-barangnya. Lalu satu persatu harus membawa paspor dan barangnya masing-masing ke bagian pemeriksaan barang. Setelah memasukkan barang ke mesin x-ray, kita harus membawa paspor untuk pemeriksaan pertama. Setelah itu kita harus membawa lagi paspor kita ke pemeriksaan kedua, dimana kita diharuskan masuk satu-satu melewati mesin pemeriksa. Di sini ada beberapa orang yang ditunjuk secara random untuk diperiksa tangan dan badannya apakah ada residu narkoba dan mesiu. Setelah itu kita masuk ke pemeriksaan paspor di imigrasi satu-satu. Petugasnya cuma dua. Di sini kita diberi visa masuk ke Israel. Karena tidak ada hubungan diplomatik antara Indonesia-Israel, sejak beberapa tahun lalu diberlakukan kebijakan bahwa visa tidak ditempel di paspor, melainkan diberi kertas terpisah. Tanda persetujuan masuk Israel di imigrasi juga tidak distempel di paspor, melainkan di kertas visa tersebut. Kebijakan ini dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari karena paspor kita berstempel Israel. Setelah mendapat visa, masih ada sekali lagi pemeriksaan paspor sebelum mengambil barang dan masuk lagi ke bis. Total 5 kali pemeriksaan paspor dan membutuhkan waktu hampir 3 jam.

Tips: sabar dan jangan panik kalau kena random. Ikuti saja prosesnya.

The Food

Menurut saya, makanan di Israel lebih cenderung mirip dengan makanan di Arab. Beraroma rempah-rempah yang cukup kuat. Namun walaupun sama-sama di Israel, bagi saya makanan di Tiberias jauh lebih enak dibandingkan makanan di Yerusalem. Baik di hotel maupun di restoran di tengah kota. Kebetulan makan pagi dan malam selalu disediakan pihak hotel, sementara makan siang berganti-ganti tempat sesuai lokasi kunjungan.

Selama kunjungan, hanya dua kali saya merasakan makanan yang pas di lidah dan membuat saya makan banyak seperti ‘kesurupan’ hahaha. Yang pertama adalah di daerah dataran tinggi Haifa, di sebuah restoran Jepang (baca: Asia). Menu makanannya adalah asian food. Sup sayuran, tumis jamur dan daging, chicken roll, dll, dan yang penting nasinya enak. Rasanya cukup mirip dengan makanan ‘biasa’.

Lalu yang kedua adalah di sebuah restoran yang menyediakan masalah Indonesia di kota kecil Betlehem. Menu makanannya soto ayam, ayam goreng, fillet ikan goreng, dan rendang. Tentu dengan nasi pulen. Rasa makanannya cukup ‘indonesia’. Bahkan ada sebagian peserta yang membungkus nasi dan dibawa ke hotel untuk makan malam.

Di hotel di Tiberias, menu makanannya selalu ada ikan. Bahkan ada beberapa menu ikan dalam sekali waktu makan. Maklum, hotel kami berada tepat di tepi danau Galilea yang terkenal sebagai penghasil ikan di Israel. Menu ikan favorit saya adalah ikan mentah yang dibumbui air jeruk, garam dan daun-daun semacam mint. Mirip sashimi tapi rasanya agak asin. Menu selain ikan menurut saya sangat tidak enak (kecuali scramble egg saat sarapan). Untung ada ‘penyelamat’, yaitu sambal sachet belibis, sambal terasi sachet, dan kecap sambal sachet yang sengaja saya bawa dari rumah. Jadi rasa makanan lebih bisa diterima lidah. Beberapa orang bahkan membawa mie instant dari tanah air.

Berbeda dengan di Tiberias, di Yerusalem agak sulit untuk membawa makanan sendiri. Peraturan menyebutkan bahwa makanan dari luar dilarang keras untuk dibawa ke dalam ruang makan. Mengapa demikian? Di Yerusalem peraturan Yahudi sangat ketat. Seperti sudah diketahui, ada banyak makanan yang dianggap tidak halal menurut Yahudi. Dan ini keras sekali. Jika ada yang ketahuan membawa makanan dari luar, piringnya langsung diambil dan kabarnya piring itu dibuang, tidak digunakan lagi. Pihak restoran takut jika ada pelanggan Yahudi yang melihat dan menganggap restoran itu tidak halal lagi, maka mereka tidak akan datang lagi ke restoran tersebut. Oleh karena itu, biasanya sering terlihat seorang Rabbi Yahudi berkeliling di dalam restoran untuk melakukan pengontrolan. Jika kita mau mengeluarkan makanan yang dibawa sendiri, maka harus hati-hati jangan sampai ketahuan.

Tips: buat mie goreng instant di kamar dengan menggunakan pemanas air yang tersedia untuk dibawa ke dalam bis. Jadi saat ke restoran tidak perlu makan banyak, cukup salad atau cereal saja, nanti baru ‘makan besar’ di bis. Oya, jangan lupa bawa sambal, kecap pedas, atau abon.

The Tour

Karena memang tujuan perjalanan ini adalah untuk ziarah, maka tempat-tempat yang dikunjungi adalah tempat-tempat ziarah. Tempat-tempat yang diceritakan di dalam kitab suci. Tempat-tempat yang ada dalam perjalanan Yesus Kristus dan orang-orang suci.

Semua tempat memiliki kisah masing-masing yang sangat menarik. Namun hanya beberapa tempat saja yang berkesan untuk saya. Berikut ini adalah tempat-tempat tersebut:

Church of Nativity
Ini adalah gereja yang dibangun di atas tempat yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Yesus. Gereja ini berada di kota Betlehem yang masuk daerah kekuasaan Palestina. Saat masuk ke dalam gereja dan mencium tempat yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Yesus, entah kenapa tiba-tiba saya menangis sesenggukan dan tidak bisa berhenti sampai beberapa saat. Beberapa ibu anggota rombongan juga ikut menangis dan memberikan tissue pada saya. Kalau ditanya kenapa, saya sulit menjelaskannya. Mungkin karena sepanjang hidup saya menerima banyak pelajaran tentang Kristus dan tiba-tiba saya berdiri di tempat di mana semuanya bermula. Jadi saya merasa terharu.

Golgota
Di sini adalah daerah tempat Yesus disalibkan, mati, dikuburkan, dan bangkit kembali. Ada beberapa gereja yang dibangun di sini. Ada gereja Katolik Roma, gereja Ortodoks, gereja Armenian, dll. Sebelum ke tempat ini, rombongan berkumpul di bawah, di gereja tempat Yesus dihadapkan pada Pontius Pilatus. Kemudian kami melakukan ritual Via Dolorosa atau Jalan Salib, yaitu perjalanan ke Golgota mengikuti jalan yang pernah dilalui Yesus dulu. Ada 14 perhentian di Via Dolorosa ini, dan seluruh anggota rombongan bergantian memanggul salib kayu yang disediakan. Karena termasuk muda, saya mendapatkan jatah memanggul salib dari perhentian 6 ke perhentian 7 yang jalannya menanjak. Via Dolorosa ini melalui pasar Yerusalem yang penuh dengan pedagang dan turis.

Church of Pater Noster
Gereja ini didirikan di tempat yang dipercaya sebagai tempat Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami. Di sepanjang dinding gereja terdapat Doa Bapa Kami yang ditulis dalam berbagai bahasa. Terdapat juga Doa Bapa Kami dalam bahasa Indonesia, Jawa, Batak, Sunda, Dayak, dll. Gereja ini berdekatan dengan gereja tempat kenaikan Yesus Kristus setelah kebangkitanNya.

Danau Galilea
Danau ini adalah tempat Yesus pertama kali memanggil murid-muridnya. Karena ombaknya yang besar, banyak yang menyebutnya laut (sea of Galilee). Selama di Tiberias rombongan kami tinggal di hotel di tepi danau Galilea ini. Pada hari pertama, kami melakukan perjalanan menyeberangi danau dengan menggunakan perahu kayu yang didesain mirip dengan perahu pada jaman Yesus, hanya saja dibuat lebih besar. Pemandangan danau di pagi hari sangat indah dengan dermaga tua dan burung-burung beterbangan di langit yang biru tanpa awan. Ada yang menarik selama perjalanan menggunakan perahu tersebut. Perjalanan dilakukan sekitar 1 jam. Di awal perjalanan ada upacara kecil penaikan bendera merah putih diiringi lagu Indonesia Raya, baru dilanjutkan dengan misa. Saya baru tahu, walaupun tidak ada hubungan diplomatik, namun tidak ada larangan menaikkan bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di situ.

Laut Mati
Laut Mati ini sebenarnya adalah sebuah danau. Namun karena kandungan garam dan mineralnya sangat tinggi (bahkan lebih tinggi dari laut), maka danau ini disebut laut. Danau ini berada di titik terendah di dunia (+/- 400 m di bawah permukaan laut). Tingginya kadar garam di laut mati menyebabkan densitas air meningkat. Densitas yang tinggi ini menyebabkan kita bisa mengapung dengan mudah di atas air. Mineral-mineral yang terkandung dalam lumpur endapan laut mati ini dipercaya bisa menyehatkan dan mempercantik kulit. Jadi saat berada di laut mati, tak lupa saya ikut mengoleskan lumpur ke seluruh tubuh termasuk muka. Oya, karena kadar garam yang tinggi, biasanya luka sekecil apapun yang tadinya tidak terasa, akan terlihat dan terasa perih.

20140323-083244.jpg

Tembok Ratapan
Bagi bangsa Yahudi, Tembok Ratapan adalah tempat suci yang digunakan untuk berdoa dan beribadah. Walaupun begitu, tempat ini tetap dibuka untuk umum (turis). Tempat berdoa untuk pria dan wanita dibuat terpisah, sehingga pengunjung yang masuk juga harus terpisah. Untuk pria harus menggunakan tutup kepala (topi, sorban, kopiah, dll). Bagi yang tidak memakai tutup kepala, di pintu masuk disediakan kipa, tutup kepala khas Yahudi. Tembok Ratapan ini letaknya di kota tua Yerusalem, bersebelahan dengan Masjid Al Aqsa. Namun sayangnya kami tidak diijinkan masuk karena bukan muslim.

Sungai Yordan
Sungai Yordan adalah sungai tempat Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Sungainya ya sungai biasa, namun sekarang telah dibangun menjadi tempat wisata rohani di sekitarnya. Di sepanjang dinding bangunan terdapat ayat tentang pembaptisan Yesus yang ditulis dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia dan beberapa bahasa daerah di Indonesia (Batak, Jawa, Papua, Sunda, Betawi, dll), mirip di Gereja Bapa Kami. Di sungai Yordan ini ada tradisi pembaharuan janji baptis. Jadi semacam dibaptis ulang. Kebetulan saya ikut rombongan yang mengikuti tradisi baptis percik. Namun di sekitar kami banyak yang menjalankan tradisi baptis selam, lengkap dengan jubah putih yang bisa disewa/dibeli di tempat ini.

Selain 7 lokasi di atas, masih banyak lagi lokasi menarik yang kami kunjungi, seperti tempat Yesus naik ke surga (yang dijadikan masjid), gereja tempat Yesus menampakkan diri bersama Elia di gunung Tabor, gereja tempat Maria menerima wahyu tentang kehamilannya, gereja tempat Yesus berdoa di taman Getsemani, gereja tempat Yesus mengajarkan 8 sabda bahagia, gereja tempat mujizat 5 roti dan 2 ikan, gereja tempat mujizat pertama Yesus mengubah air menjadi anggur di Kana, makam Raja Daud, gereja tempat para gembala menerima berita kelahiran Yesus, Qumran (lokasi tempat penemuan kitab nabi-nabi perjanjian lama), dan gunung Nebo tempat Musa wafat tanpa memasuki tanah perjanjian.

Karena ini juga merupakan perjalanan ibadah, maka tiap hari diadakan misa, termasuk misa pembaruan janji pernikahan bagi beberapa pasangan suami istri di gereja Kana, tempat mujizat pertama Yesus mengubah air menjadi anggur.

Tips: rajin latihan kaki sebelum berangkat karena selama tour banyak berjalan kaki. Oya, konsumsi vitamin C biar stamina terjaga, maklum jadwalnya padat sekali.

Interesting Things

– Di kampung Kana, tempat dimana Yesus mengubah air menjadi anggur sekarang mayoritas muslim, tapi mereka baik-baik saja hidup berdampingan dengan penduduk beragama lain

– Saat tiba di Yerusalem, kebetulan hari Sabat (Sabtu). Konon di hari Sabat kaum Yahudi tidak boleh menyalakan api, dan memencet tombol lift sama artinya dengan menyalakan api (memercikkan listrik), karenanya disediakan satu lift di hotel yang otomatis berhenti tiap lantai tanpa harus memencet tombol.

– Di Israel dan Yordania, zaitun (olive) adalah salah satu hasil bumi utama. Sehingga Yordania dan Israel menjadi salah satu penghasil minyak zaitun terbesar di dunia. Pohon zaitun bisa berusia hingga ratusan tahun. Bahkan di sisa taman Getsemani ada satu pohon zaitun yang konon sudah ada sejak jaman Yesus, yang artinya sudah berusian sekitar 2000 tahun.

– Saat berwisata di Yerusalem, sebenarnya itu bukan kota yang dulu ada pada jaman Yesus. Yerusalem yang dulu adanya satu/dua tingkat di bawah kota yang sekarang ada. Sehingga jika kita datang ke salah satu obyek ziarah/wisata, biasanya ada sebagian lantai yang terbuka atau diberi kaca, yang menunjukkan kota yang asli yang ada di bawah.

– Seluruh tempat wisata/ziarah di Israel tertara dengan rapi dan bersih. Pemerintah memang benar-benar menaruh perhatian penuh pada industri wisata ziarah ini. Bahkan pada akhir tour, masing-masing anggota rombongan mendapatkan sertifikat ziarah dan diangkat menjadi duta wisata Israel (karena dianggap akan menyebarkan cerita baik mengenai kunjungannya ke Israel). Untuk itu pemerintah merawat seluruh obyek wisata ziarah dengan baik.

– Di Israel ini selain penganut Judaisme (Yahudi), banyak juga penganut Katolik, Kristen, Ortodox, dan Islam. Demikian juga di Palestina. Bahkan banyak pedagang muslim menjual souvenir Kristen dan sebaliknya. Harusnya orang-orang di Indonesia mengerti bahwa perang yang terjadi di sini bukan soal agama.

– Seperti halnya tempat-tempat yang banyak turis asal Indonesia, para pedagang di Israel banyak sekali yang lumayan bagus berbahasa Indonesia. Bahkan ada toko yang presentasi dulu (macam tukang obat) dalam bahasa Indonesia. Oya, walaupun ini tour ziarah, namun bagi peserta ibu-ibu belanja tetap penting, jadi banyak agenda belanja di hampir tiap lokasi ziarah.

– Selain pohon zaitun, ada pohon yang banyak terdapat di halaman rumah-rumah di Israel, yaitu pohon jeruk. Iya, jeruk. Buahnya yang berwarna kuning segar bergantungan penuh di cabang-cabang pohon. Kami heran mengapa jeruk-jeruk itu tidak dipetik. Ternyata itu hanya pohon jeruk hiasan. Rasanya tidak enak, jadi memang tidak ada yang mau makan buahnya. Saya bayangkan kalau di Indonesia pasti sudah habis diambil anak-anak hahaha.

– Di Israel tidak usah bingung soal colokan. Sama dengan di Indonesia. Jadi tidak perlu membawa universal adapter.

– Cukup mudah untuk membedakan apakah kita sedang berada di kawasan Israel atau Palestina. Jika papan nama toko-toko menggunakan tulisan Ibrani, berarti ada di wilayah Israel. Jika menggunakan tulisan Arab, berarti ada di wilayah Palestina.

– Karena peserta rombongan ada 41 orang, agak susah menghafalkan nama seluruh peserta. Saya dan teman saya punya sebutan untuk masing-masing peserta. Ada tante bulutangkis karena dia pemain bulu tangkis dan pernah melawan Susi Susanti pada pertandingan antar paroki, walaupun beliau akhirnya cuma jadi pengambil bola karena kalah jauh. Ada tante Istanbul yang rajin memberi informasi mengenai obyek wisata di Istanbul begitu tahu saya akan lanjut ke Istanbul. Ada tante kaya karena beliau sudah berkali-kali ke Holyland dan selalu beli banyak oleh-oleh. Ada oma kembar yang miriiip sekali. Ada oma tua yang pada saat tour berulang tahun ke 83. Ada Oma Syallom, karena beliau selalu bilang syallom kalau ditawari barang dagangan oleh tour leader. Ada mbak jalan-jalan karena beliau sudah sering jalan-jalan keliling dunia. Ada annoying couple, yang lagaknya sudah seperti tour leader ikut mengatur peserta lain. Ada om tante matching yang bajunya selalu kembaran kemana-mana. Ada juga om tante ABRI yang pensiunan TNI-AD. Ada juga om cuek yang cuek banget sama istrinya padahal istrinya cedera kaki dan jalannya pincang selama tour. Dan ada beberapa sebutan lainnya.

Tips: baik-baik sama tante-tante dan oma-oma peserta, sering tiba-tiba beliin barang lho, dari kaos sampai gelang :))

Baca cerita jalan-jalan selanjutnya ke Istanbul di sini

Di bawah ini ada beberapa foto. Selengkapnya silakan dilihat di instagram saya: @BANGBERNARD

20140301-221430.jpg

20140301-221601.jpg

20140301-221620.jpg

20140301-221636.jpg

18 comments

  1. Terima kasih infonya, cukup lengkap mengenai holyland, kalo tdk ada halangan tahun depan sy akan ke sana.
    Tuhan memberkati

    Like

    1. Horas lae. Kalo gak salah July kan masuk summer di sana. Jadi sebaiknya bawa pakaian yang tipis2 aja. Tapi kalo mau pasti, coba dicek dulu weather forecast di google. Perlengkapan lain ikut list yang dibagi oleh tour agent aja. Eh, lae ikut tour apa berangkat sendiri?

      Like

  2. sangat menarik menjelajahi kota suci ini dan merupakan asal mula agama-agama langit, aku pun percaya kalau konflik selama ini lebih ke perebutan kekuasaan atau wilayah jadi kita yang di indonesia sudah sepatutnya untuk tidak ikut terprovokasi dan selalu damai : )

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s