Team Player VS Individual Player


Team Player VS Individual Player
(Written: Wednesday, October 23, 2013)

Suatu hari di jaman dulu saya pernah berdebat dengan manajemen saat sesi penilaian kerja beberapa staff. Saat itu ada seorang karyawan yang dinilai buruk kinerjanya karena dianggap tidak mampu bekerja secara team. Padahal dia baru menempati posisinya yang sekarang ini kurang dari satu tahun dan harus bekerjasama dengan team yang anggotanya cukup banyak. Sebelumnya dia bekerja secara individu di bagian lain dan kinerjanya selalu dinilai outstanding. Menurut atasan saya dia layak mendapatkan penilaian rendah, sementara menurut saya ada kemungkinan kinerjanya yang buruk itu sebagian adalah kesalahan kami yang menempatkan dia tidak pada posisi yang tepat.

Dulu saya pernah baca (atau ikut kuliah?) mengenai jenis karyawan. Ada 2 jenis karyawan, pertama adalah team player, dan kedua adalah individual player. Apakah yang team player lebih baik dari individual player? Ternyata tidak juga. Masing-masing punya kekuatan dan akan berfungsi maksimal bila ditempatkan di posisi yang tepat.

Dalam kasus di atas, si karyawan sebelumnya menempati posisi IT, yang berurusan dengan project dan programming. Dan memang saat interview dia sangat cocok ada di posisi tersebut. Selama tiga tahun di posisi tersebut, kinerjanya sangat bagus. Di bagian tersebut, dia memang banyak berkutat dengan komputer, program, dan jarang berhubungan dengan orang lain kecuali atasan dan customernya. Lalu tahun lalu dia dipindahkan ke bagian procurement, dimana dia diharuskan bekerja dalam satu team berisi 15 orang, dan berhubungan dengan banyak bagian, termasuk vendor, keuangan, logistik, marketing, sales, dll. Menurut saya ada dua kemungkinan. Dia masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru, atau dia memang tidak cocok di posisi tersebut. Dan kedua-duanya merupakan kesalahan pihak manajemen yang menempatkan dia di posisi tersebut tanpa melakukan ‘fit and proper test’ terlebih dahulu. Apalagi kemudian memberikan penilaian rendah. Hal tersebut akan semakin ‘merusak’ kinerja karyawan tersebut karena sudah membuatnya demotivasi.

Pada saat recruitment, seharusnya sudah ada tes yang dilakukan untuk melihat apakah si calon karyawan itu seorang team player atau individual player. Posisi yang ditawarkan pun seharusnya sudah mempertimbangkan hasil tes tersebut. Demikian juga development planningnya. Jika di kemudian hari si karyawan dianggap cukup baik untuk dicoba dimasukan ke dalam posisi yang berlawanan dengan ‘habitat’-nya, maka harus dipertimbangkan untuk dilakukan tes kembali. Lebih baik lagi jika sebelumnya sudah diberikan development package dan dievaluasi setelahnya, sehingga pada saat si karyawan akan ditempatkan di posisi barunya, dia sudah siap untuk bekerja dengan baik, dan kelak layak untuk dinilai kinerjanya.

Jadi, tipe karyawan seperti apakah anda? Saya tipe team player tapi sedang menikmati pekerjaan yang individualis saat ini 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s