Why I Left


Why I Left
(Written: Tuesday, October 1, 2013)

Setahun yang lalu saya membuat keputusan yang cukup mengejutkan bagi beberapa orang teman dan keluarga saya. Saya memutuskan untuk meninggalkan kantor yang lama dan mengambil resiko dengan menerima tawaran dari perusahaan yang relatif baru di Indonesia. Pertanyaannya selalu sama, why do you leave? Jawaban saya selalu normatif. Karena tawarannya menarik. That simple. Is it? Of course not.

So, why did I leave? This is the truth. I didn’t get what I deserved. What is it? Money? Position? Nope. I didn’t get two most important things at work. Respect and trust. So I left. That simple? Yes, the reason is that simple. But the process to come to that decision is very complicated. I need almost 3 years to decide. And you know what? I finally got what I deserved at the day I resigned. But hey it’s too late. I have already lost my respect.

Saya teringat salah satu teman saya yang bertahun-tahun hidup ‘sengsara’ bersama suaminya. Iya, sengsara. Karena suaminya tidak menghormati dia sebagai istri. Apapun yang dilakukannya selalu salah di mata suaminya. Bahkan tak jarang hal itu diungkapkan sang suami di depan orang lain. Termasuk di depan teman-teman dan keluarga mereka. Suaminya juga selalu curiga kepadanya dalam hampir segala hal. Keputusan apapun yang diambilnya selalu dipertanyakan suaminya. Termasuk keuangan.

Hal-hal tersebut membuatnya tertekan dan kecewa. Kekecewaan semakin menumpuk dan membuatnya sakit hati. Dia semakin menenggelamkan diri ke dalam pekerjaan dan perlahan-lahan mulai menelantarkan keluarganya. Bahkan dia mulai kehilangan respek pada suaminya. Pertengkaran mulai sering terjadi. Dan tepat saat dia memutuskan untuk mengakhiri rumah tangganya, sang suami sadar dan berusaha mempertahankannya. But it’s too late. Dia telah memutuskan untuk menerima tawaran penempatan di kantor cabang di luar negeri dan meninggalkan pernikahannya. Sebagian besar karena dia tidak percaya bahwa suaminya akan berubah. And she’s happier now.

Respect and trust. Dua hal yang sangat kita perlukan. Dua hal yang sangat diperlukan semua orang. Dua hal yang paling penting dalam sebuah hubungan. Dua hal yang sekali saja terlepas sulit untuk mendapatkannya lagi.

So that’s the story. That’s why I left

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s