Demi Ucok, Demi Cinta?


Demi Ucok, Demi Cinta?
(written: Wednesday, January 9, 2013)

Udah pada tau dong film Demi Ucok ini? Film yang gaungnya cukup fenomenal, bahkan jauh sebelum filmnya rilis di bioskop.

Pertama dengar tentang film ini di twitter sekitar 6-7 bulan yang lalu. Ada ‘campaign’ menarik, dimana kita bisa menjadi co-produser dengan menyumbangkan sejumlah dana, sehingga film ini bisa tayang di bioskop. Entah benar campaign untuk pengumpulan dana atau hanya gimmick pemasaran, tapi hal tersebut cukup menarik perhatian saya. Apalagi judulnya Demi Ucok. Darah Batak saya langsung berkobar rasanya hahaha. Dan saat melihat trailer film tersebut di youtube, saya langsung suka. Dan akhirnya ikut promosi kesana sini tentang film ini. Singkat cerita, saya bergabung menjadi co-producer dan kelak nama saya akan ikutan nampang di poster film tersebut 🙂

Setelah menunggu berbulan-bulan, mengumpulkan ribuan co-producer (walaupun tidak mencapai target 10 ribu orang), melewati beragam ulasan, dan menuai sukses yang cukup lumayan di FFI, akhirnya film Demi Ucok berhasil masuk bioskop. Agak sedikit kecewa sih karena sebagai co-producer sempat sedikit berharap mendapat keistimewaan untuk diundang pada saat gala premiere tapi ternyata tidak (boro2 diundang, difollow di twitter aja nggak hahahahaha).

Tetap dengan semangat berkobar-kobar, saya menunggu weekend tiba untuk nonton film ini ke bioskop. Hasilnya, saya sukses tertawa dari awal, dan sedikit terharu di adegan menjelang akhir film. Saya puas. Saya bahagia. Berlebihan? Rasanya tidak.

Demi Ucok berkisah tentang Glo, seorang wanita Batak yang ingin membuat film yang lebih sukses dari film pertamanya, namun tidak ada biaya. Sang Ibu, Mak Gondut, yang ingin melihat anaknya menikah (karena sudah cukup berumur), menawarkan bantuan biaya, tapi dengan syarat anaknya harus menikah. Dengan orang Batak!! Konflik Ibu-anak yang saling mencintai sekaligus saling ‘membenci’ dengan latar belakang budaya Batak inilah yang mewarnai film sepanjang kurang lebih 75 menit ini.

Demi Ucok cukup kuat dari segi cerita. Ide yang sepertinya datang dari pengalaman pribadi sang Sutradara sangat mengena. Penggambaran masing-masing karakter buat saya (yang orang Batak ini) sangat tepat. Tidak ada kesan pemaksaan logat seperti halnya penggambaran karakter orang Batak semacam Bang Poltak di sinetron Gerhana dulu. Semua mengalir apa adanya. Ya memang benar-benar seperti itulah karakter orang Batak sehari-hari.

Dialog-dialog yang terjadi sangat mengena. Kadang menyindir dengan nyinyir, kadang menusuk dengan tajam, kadang menggelitik dan membuat kita tertawa, kadang membuat kita terharu. Tidak terasa dibuat-buat.

Kelemahan tetap ada. Karakter Niki yang dibuat lesbian dan hamil, misalnya. Entah apa tujuannya. Rasanya tidak ada kaitan dengan keseluruhan cerita. Lalu dana yang sudah terkumpul karena bantuan sang Ibu bisa tiba-tiba berkurang karena si Ibu ngambek. Kenyataannya uang yang sudah ditransfer kan ngga bisa gampang ditarik lagi. Ada lagi karakter Opung Boru yang terkesan tempelan. Trus kenapa juga judulnya Demi Ucok? Kenapa gak Demi Butet? :))

Ada satu lagi. Saya agak heran mengetahui bahwa pemeran Mak Gondut bisa dapat Piala Citra. Mak Gondut memang jadi tokoh sentral yang memukau. Bahkan teman saya bilang, Mak Gondutlah salah satu alasan dia bertahan sampai film berakhir. Dan harus diakui bahwa untuk film pertamanya, akting Lina Marpaung bisa dikatakan bagus. She’s good but she’s not THAT good. Kesan kaku masih ditemui di sejumlah scene. Andaikan saja Piala Citra diberikan untuk peran paling menghibur, saya akan dukung 100%. Eh tapi….mungkin juga sih ya. Dia bisa melucu tanpa harus berakting lucu. Dan dia bisa membuat saya (hampir) menangis tanpa dia berakting memelas. Tapi ya sudahlah.

Oya, jangan lupa dengan lagu-lagu yang menghiasi film ini. Setelah film selesai, saya langsung mencari tahu tentang salah satu lagu yang dinyanyikan menjelang akhir film. Lagu yang (seharusnya) menguatkan, tapi malah membuat saya begitu terharu dan nyaris menangis. Lagu Batak, judulnya Dung Sonang Rohakku (tonton disini). Lagu gereja sebenarnya. Dan konon disadur dari lagu It Is Well With my Soul. Lagu aslinya ini sejarahnya tak kalah mengharukan (baca disini). Kalo difilmkan mungkin bagus banget 🙂

Pokoknya, Demi Ucok itu film Indonesia yang wajib ditonton. Buat gue, dia dapat 4 dari 5 bintang 🙂

SELAMAT MENONTON!!!

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s