Namaku Andini


Namaku Andini
(written: Saturday, December 1, 2012)

Namaku Andini. Memang bukan nama yang diberikan orangtuaku ketika lahir, tapi aku lebih suka menggunakannya. Konon artinya penurut. Mungkin memang benar. Sejak kecil aku sudah jadi anak yang penurut. Apapun itu. Ayahku sudah mengatur segalanya untukku. Dari mulai hal-hal kecil seperti mainan, sampai ke waktu belajarku. Bahkan baju apa yang harus kupakai juga dia yang mengatur. Sampai jurusan apa yang harus kuambil saat kuliah, dia juga yang mengatur semua. Dan aku menurut apa katanya. Selalu. Oleh sebab itu, untuk mengenangnya aku mengambil nama itu dan menggunakannya hingga kini.

Aku memang berubah. Bukan, aku bukan berubah karena aku menggunakan nama Andini itu. Justru kebalikannya, aku menggunakan nama Andini karena aku merasa sudah berubah. Aku sudah dewasa sekarang. Karenanya aku merasa harus meninggalkan semua kenangan masa laluku. Sekarang aku akan lebih menuruti apa kata hatiku. Menuruti jalan nasib yang menuntunku berjalan ke masa depanku. Meninggalkan bayang-bayang ayahku yang selama ini mengikatku. Lagipula dia sudah tak ada sekarang. Dia sudah lama mati. Aku yang membunuhnya.

Ya benar, aku membunuhnya. Bukan dalam mimpi. Tapi dalam kenyataan. Aku terpaksa saat itu. Aku tak sengaja. Dia yang terlalu memaksa. Saat itu pertama kalinya aku tidak menurut padanya. Dan itulah awalnya. Entah kenapa dia marah besar saat aku hendak berangkat kuliah memakai rok yang agak pendek dan baju yang sedikit terbuka. Itu pertama kali aku mengenakannya. Dia menyuruhku membukanya dan menggantinya dengan pakaianku yang biasa. Aku tak mau. Aku merasa sudah dewasa dan tak mau dia mengatur hidupku lagi. Untuk pertama kalinya aku merasa berhak menentukan sesuatu yang kusukai. Dan aku akan mempertahankannya.

Aku masih ingat kami berdua saling berteriak sampai aku kehabisan suara. Hal terakhir yang kulakukan adalah lari ke kamarku dan membanting pintu tepat di depan hidungnya, lalu aku menghidupkan televisi dengan volume sekencang-kencangnya sehingga tak kudengar lagi teriakan-teriakannya sampai aku jatuh tertidur sambil menangis. Saat aku bangun dan keluar kamar sore harinya, kulihat ayahku tergeletak di depan pintu kamarku. Mati. Kata dokter yang memeriksa, dia terkena serangan jantung. Ya, mungkin memang benar. Aku yang telah membunuhnya. Heran, aku tak terlalu bersedih. Aku melanjutkan hidup. Aku telah mengubah namaku.

Sekarang namaku Andini. Dulu namaku Antoni.

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s