Pesta Pernikahan. Masih Perlu?


Pesta Pernikahan. Masih Perlu?
(written: Thursday, August 9, 2012)

20120810-090459.jpg

Kemarin gue mendadak terlibat pembicaraan maha gak penting dengan nenek gue. Dia udah 82 tahun, tapi masih sehat dan bisa diajak diskusi. Topiknya emang gak jauh-jauh dari topik yang selalu dia omongin kalo lagi telepon cucu tersayangnya ini. Soal pernikahan. Tapi kali ini bukan soal lembaga pernikahannya itu sendiri, tapi lebih ke soal pesta pernikahannya.

Mungkin udah pada tau kalo pernikahan dengan adat Batak itu minta ampun ribetnya. Dan tentu biayanya juga selangit. Kenapa? Karena prosesi pernikahannya sudah dimulai jauh-jauh hari, tepatnya sejak lamaran. Di hari H sendiri biasanya diawali dengan pemberkatan pada pagi hari. Artinya pengantin dan kerabat dekat sudah harus siap sejak dini hari. Lalu dilanjutkan dengan pesta adat mulai jam makan siang sampai hampir jam 8 malam. Dan itu masih dilanjutkan lagi di rumah sampai jam 10 malam. Orang yang diundang? Jangan tanya. Bisa sampai ribuan kalo pada datang semua. Lha orang Batak kan kerabatnya banyak, dan kalo gak diundang udah kayak nantang musuhan tujuh turunan. Bayanginnya aja udah mules kan?

Pembicaraan kemarin (atau lebih tepatnya perdebatan), dimulai saat seorang kerabat menceritakan pesta pernikahan kerabatnya. Gue nyeletuk bahwa pesta pernikahan itu pemborosan, buang-buang duit dan gue (kalopun menikah) gak mau pake pesta adat gitu. Dan perdebatan pun dimulai. Bagi orang-orang tua itu, pesta adat dipandang sangat penting karena itu bagian dari kehidupan bermasyarakat yang harus dijalani kalau mau diterima di masyarakat itu sendiri. Bagi gue itu pemborosan waktu dan uang yang sebenarnya tidak ada gunanya selain sekedar untuk menunjukkan gengsi belaka.

Gue bukan anti perayaan, tapi kalo berlebihan ya gak masuk akal juga sih. Buat gue pernikahan itu adalah suatu proses kehidupan yang hanya dilakukan sekali dalam seumur hidup, sehingga harus dirayakan dengan cara yang istimewa. Istimewa bukan berarti dirayakan besar-besaran dengan mengundang ribuan orang (yang sebagian besar tidak dikenal oleh pasangan yang menikah). Pernikahan haruslah dirayakan bersama dengan orang-orang istimewa, orang-orang terdekat. Pernikahan haruslah berlangsung dengan hangat, intim, nyaman, dan bahagia. Jadi gak ada cerita bangkrut setelah menikah. Kalo punya gudang uang ya lain cerita, bisa bikin beberapa kali pesta tanpa perlu mikirin biaya. Semua pihak bisa diakomodasi. Lha ini kan terbatas.

Rencana gue sederhana kok. Cuma makan malam aja bareng beberapa anggota keluarga dan teman-teman terdekat, jadi semua bisa berinteraksi dengan hangat. Paling-paling gak sampe 50 orang. Mau dibikin romantis? Suruh semuanya datang pake baju putih. Buat makan malamnya di villa tepi pantai. Sewa pemain biola dan piano. It’s gonna be awesome. The most unforgettable romantic wedding dinner ever.

Gue bilang gue gak bakalan punya duit segitu banyaknya sampe bisa bikin pesta adat segala. Di Jakarta ini biaya pesta nikahan Batak bisa mencapai 300-500 juta (dan kelak dari angpauw yang balik gak sampe setengahnya). Jawaban nenek gue cukup mencengangkan. Dia yang akan nanggung katanya. Lha kalo nenek gue beneran mau nyediain dana segitu besar, ya kasi aja ke gue. Lumayan kan buat bantuin beli rumah. Kan gak lucu pesta nikah gede-gedean trus abis nikah tinggal di rumah kontrakan yang sepetak doang. Apa kata dunia? (eh btw, banyak lho orang Batak yang begitu :p). Anyway, kayaknya dia udah desperate liat gue sampe umur segini gak nikah juga, jadi dia mau melakukan apa aja asal bisa liat gue segera menikah, termasuk menyediakan dana pernikahan sebesar itu hahahaha.

Kata orang-orang tua juga, mereka ‘berhutang’ pada teman-temannya karena sudah pernah diundang pada pesta pernikahan anak-anak temannya itu sebelumnya. Lha, ini yang ‘berhutang’ siapa, yang disuruh ‘membayar’ siapa. Konsep yang aneh. Katanya juga pesta pernikahan itu untuk membahagiakan anaknya. Yakin bisa bahagia kalo dipajang di atas panggung dari pagi sampe malam, trus disuruh salaman dengan banyak orang yang sebagian besar gak dikenal? :p

Akhirnya diskusi itu ditutup dengan ‘ya udah sih, cari aja dulu calonnya, kalo udah ada baru diomongin lagi’ #ngok

18 comments

  1. Ih setuju bgt deeehhh sama tulisannya. Biar kata bukan orang batak,biar kata kawinannya nggak pake pesta adat sehari semalem,biar kata nggak ngundang ribuan orang macam konser peterpan,tp gue tetep nggak setuju dgn konsep nikah boros. Mending sini deh duitnya, lumayan cyiiin buat S2 ke eropah sekeluarga.

    Like

  2. Your plan is my original wedding idea. Hampir aja kesampaian…. (o_O) setuju banget dgn konsep wedding dinner. Jadinya bisa chit chat sama tamu2 n seru2 an. Mo bikin games, dance juga bisa

    Like

  3. dulu gw juga beranggapan seperti itu,,tapi pas gw ngalamin sendiri ternyata walaupun ribet tapii seruuuu,,,stiap liat video nikahan gw rasanya pengen lagi,,

    Like

  4. Setuju bgt… Mending uangnya dipake buat beli rumah secara harga rumah makin melambung…
    Dannnn gw salah 1 org yg berencana ga mau pake pesta adat :/((-/*1)”‘-+ *brantemmulusamakluarga*

    Like

  5. Berurusan dengan pernikahan pasti berbicara tentang sinamot/mahar. Masalahnya calon istri saya tuh pendidikan S3 pekerjaannya bagus juga, dari keluarga yang berada/kelas tinggi pula. Mau berapa ratus juta atau milyar kali ya sinamot/maharnya. Pusing mikirkan pernikahan, tapi sudah terlanjur memberi harapan kepada anak gadis orang, mau gak mau harus dijalani, kenapa sih sinamot/mahar sampai ratusan juta mengikuti pendidikan & taraf hidup ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s