Pilihan, Sebuah Pelajaran


Pilihan, Sebuah Pelajaran
(written: Sunday, March 18, 2012)

Tuhan bekerja dengan cara yang sangat luar biasa. Dia tidak hanya memberikan ‘berkat’ dan ‘hukuman’ dengan cara sederhana yang mampu kita pikirkan. Dia menjawab semua doa kita dengan cara yang berbeda tiap saat.

‘hukuman’ adalah apa yang seolah-olah dirasakan manusia setelah mendapatkan musibah setelah melakukan kesalahan. Kalau dilihat dari sudut pandang berbeda, hukuman itu sebenarnya adalah suatu ujian, suatu pelajaran.

Sementara ‘berkat’ juga bukan semata-mata hadiah, reward, atau ‘pembayaran’ atas kebaikan kita. Bukan. Berkat juga adalah suatu ujian dan pelajaran.

Sejak mengalami kekecewaan tahun lalu, saya selalu berdoa untuk diberi pekerjaan baru. Sampai beberapa bulan lalu doa saya akhinya dijawab. Saya mulai mendapatkan panggilan-panggilan interview dari perusahaan-perusahaan yang cukup ternama. Pasti semua akan berkata bahwa itu adalah berkat. Hadiah. Reward. Saya juga berpikir hal yang sama. Yakin? Tidak juga. Kenapa?

Pada saat saya dihadapkan pada pilihan-pilihan, berkat dan hukuman menjadi bias. Saya awalnya berpikir bahwa ini adalah berkat dari Tuhan. Hadiah dari surga. Namun saat pilihan-pilihan tersebut justru membuat saya menjadi pusing dan tertekan, saya mulai berpikir apakah ini justru hukuman Tuhan karena saya tidak bersyukur dan tidak pernah merasa cukup?

Kalau melihat definisi di atas, sebenarnya saya sedang mendapat pelajaran dari Tuhan. Saya sedang diuji. Dengan diberi pilihan-pilihan, saya memang diberikan banyak keuntungan.

Saya bisa melihat kekuatan diri sendiri. Tuhan menunjukkan bahwa saya cukup berharga, kemampuan saya cukup baik sehingga masih banyak perusahaan yang mau merekrut saya. Disini Tuhan sedang memberi pelajaran bahwa saya harus percaya diri dengan apa yang saya miliki.

Dengan adanya pilihan baru, tentu saja saya harus menentukan pilihan. Sebelum saya menentukan pilihan, mau tidak mau saya harus melihat apa saja yang sudah saya dapatkan di pekerjaan saya yang sekarang sebagai pembanding. Disini saya belajar bahwa saya harus banyak bersyukur karena apa yang sudah saya dapatkan ternyata tidak buruk. Dan kadang-kadang tidak ada alasan untuk merasa kecewa.

Lalu saya juga belajar untuk menentukan pilihan, membuat perbandingan, menentukan prioritas, dan tentu saja bernegosiasi. Lihat kan, Tuhan memberi saya banyak pelajaran baru. Dan Dia juga memberi saya pengalaman baru sehingga hidup saya lebih berwarna.

Kemudian terakhir, setelah saya akhirnya menentukan pilihan, saya harus mulai lagi belajar tentang komitmen. Ingat, semangat dapat mendorong permulaan dari sesuatu tapi hanya komitmen yang akan membawa penyelesaiannya (thanks Ps. Jose).

So, should I stay or should I leave? Well, sampai ini diposting blom ada keputusan juga hahaha

3 comments

  1. Fase ini juga sedang saya alami, bangBen. Saya memutuskan mengulang kuliah saya ke tempat yang sudah dicita-citakan sejak awal. Hidup ini pilihan. Dan kesempatan ada untuk dipilih. Berhubung masih *ahem* muda, saya memilih untuk “keluar” dari zona nyaman. Lagi-lagi, ini semua ada di tangan bangBen, ya tapi bangBen kan sudah ngga muda lagi [maaf rasis]. Jadi …… AAAAAAAAAAAK. *dislengkat.* :p

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s