Untuk Sahabat


Untuk Sahabat
(written: Monday, January 16, 2012)

Dear sahabat,

Aku sudah lama mengenalmu, begitu juga kau mengenalku. Belasan tahun sudah kita bersama. Berbagi cerita, suka dan duka. Milikku adalah milikmu, milikmu adalah milikku. Sedih dan bahagiamu adalah sedih dan bahagiaku. Begitu selalu, bukan?

Dear sahabat,

Masih ingatkah kau saat kita pertama bertemu? Ya, waktu itu kita sama-sama jadi anak baru di SMA kita. Orangtuamu baru pindah ke kota ini, dan kita sekelas. Awalnya kau hanya anak baru yang pendiam sampai aku merasa kasihan dan mengajakmu berbicara. Ternyata kau anak yang menyenangkan. Akhirnya kita menjadi sahabat dekat. Kita bisa bercerita berjam-jam berdua saat aku menginap di rumahmu, menemanimu saat kedua orangtuamu tak ada di rumah. Membicarakan berbagai hal. Tentang ayahmu yang hampir tak pernah pulang, tentang ibumu yang sering menangis sendiri, tentang kekasih-kekasihmu yang selalu mempermainkanmu, tentang teman-temanmu yang memanfaatkanmu. Tentang segala hal.

Dear sahabat,

Kau tahu aku tak akan pernah marah padamu, bukan? Meskipun kau sering membicarakan hal-hal buruk tentangku dengan teman-teman lain di belakangku, aku tahu, itu hanya caramu untuk mendapatkan teman yang lebih banyak. Meskipun kau selalu memanfaatkanku untuk mengerjakan beberapa tugasmu, aku tahu, itu semua kau lakukan karena kau tak punya waktu mengerjakannya di rumah. Meskipun kau sering menghilang saat aku membutuhkanmu, aku tahu kau tak bermaksud begitu, kau hanya kalut dengan masalahmu dan tak ingin menambah bebanku.

Dear sahabat,

Masih ingat jugakah kau terakhir kita bertemu? Ya, 5 tahun lalu. Waktu itu aku sedang makan siang bersama kekasihku saat kau tiba-tiba datang membawa sejuta amarah. Bukan padaku, tapi padanya, kekasihku itu. Atau mungkin bisa kusebut kekasih kita. Ternyata dia adalah kekasihmu yang kau sembunyikan selama ini. Pantas saja kau tak pernah mau mengenalkanku padanya seperti biasanya. Dan waktu itu aku heran saat kau juga menumpahkan amarahmu padaku. Padahal kau tahu bahwa aku lebih dulu memilikinya. Kau yang diam-diam menjalin cinta dengannya di belakangku. Tapi tak apa-apa, aku memaafkanmu. Laki-laki itu yang bersalah pada kita. Aku memutuskannya saat itu juga karena dia telah menyakitimu. Aku mengejarmu tapi kau tak pernah mau menemuiku lagi. Hingga kini. Tapi belakangan aku tahu kau akhirnya bersama dia dan menikah dengannya.

Dear sahabat,

Aku selalu memaafkanmu atas segala yang kau lakukan padaku. Tapi cinta tak pernah salah, bukan? Aku bertemu suamimu beberapa bulan lalu. Dia tak bahagia denganmu. Katanya dia telah salah memilihmu. Dia menyesal dan ingin kembali padaku. Kau tahu aku begitu mencintainya dulu. Bahkan hingga sekarang. Untuk itu sahabatku, ijinkan aku memohon maaf sekali ini padamu. Kini dia telah bersama denganku. Segera kami akan menikah begitu proses perceraian kalian selesai. Aku yakin kau akan memaafkanku seperti aku sering memaafkanmu dulu.

Dear sahabat,

Aku sayang padamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s