Kompetitor


Kompetitor
(written: Tuesday, November 15, 2011)

Aku mengenakan gaun hitam polos berpotongan rendah dengan punggung terbuka. Wajahku kupoles dengan make up tipis dan rambutku kubiarkan tergerai tanpa accessories apapun. Kupandang sekali lagi penampilanku di depan kaca sebelum melangkah keluar untuk memeriksa persiapan di dapur. Malam ini aku akan berperan sebagai nyonya rumah yang anggun, ramah, dan sexy namun tetap berkelas. Ya, malam ini suamiku akan mengundang teman-teman kerjanya untuk makan malam di rumah.

Makan malam ini adalah permintaanku. Kukatakan alasanku adalah untuk mengenal lebih dekat teman-teman kerjanya. Dan sekalian untuk syukuran rumah baru kami. Namun sebenarnya ada alasan lain. Aku ingin bertemu dengan salah satu teman wanitanya. Wanita yang selalu dibangga-banggakan oleh suamiku di depanku. Wanita yang menurutnya sederhana, pintar, tegas, dan memiliki selera humor yang bagus.

Beberapa minggu terakhir ini suamiku memang sering sekali pulang malam. Bahkan tak jarang di akhir pekan pun dia bekerja. Katanya ada proyek besar yang harus segera diselesaikan sebelum akhir tahun, sehingga kami bisa berlibur di akhir tahun nanti. Suamiku memang tidak berubah. Dia tetap hangat padaku. Seperti biasanya. Namun terus terang cerita-ceritanya tentang proyeknya, dan terutama tentang wanita itu membuatku panas dingin. Hatiku terbakar. Namun aku tak ingin marah-marah padanya tanpa alasan jelas. Aku pernah menelepon Ridwan, sahabatnya di kantor, dan mengutarakan kecemasanku. Dia hanya tertawa dan menyuruhku untuk tenang. Katanya memang akhir-akhir ini di kantor sibuk sekali, bahkan mereka lupa memesan makan malam di kantor dan terpaksa hanya makan biskuit semalaman. Dia juga mengatakan bahwa aku tak perlu khawatir tentang Astri. Ya nama wanitu itu Astri. Menurutnya, tak mungkin ada apa-apa antara suamiku dengan Astri. Sampai akhirnya dia melontarkan ide untuk mengadakan makan malam di rumahku, yang langsung kusambut dengan antusias.

Aku sudah menyiapkan segala sesuatunya termasuk penampilanku. Aku ingin suamiku melihat bahwa aku lebih dari wanita itu. Lebih dalam segala hal. Karena aku juga sebenarnya seorang arsitek seperti suamiku, tentu saja aku mengerti banyak hal di dunia desain. Dan aku juga sudah menyempatkan untuk membaca beberapa literatur desain terbaru, sehingga aku yakin aku tak akan terlihat memalukan saat berbincang-bincang dengan mereka nanti. Aku juga sudah menyiapkan makanan yang kupesan dari sebuah katering ternama, dengan makanan penutup buatanku sendiri. Kesukaan suamiku. Aku ingin menunjukkan pada suamiku dan wanita itu bahwa aku adalah paket istri yang lengkap.

Satu persatu temannya tiba. Kami tidak mengundang banyak, hanya anggota tim proyeknya saja. Sekitar lima belas orang. Dan Astri adalah satu-satunya wanita dalam tim itu. Setiap kali ada yang datang, suamiku selalu memperkenalkanku pada temannya. Dia terlihat bangga sekali memperkenalkanku sebagai istrinya. Aku merasa sedikit bersalah juga sebenarnya. Namun sampai makan malam dimulai Astri tak juga tiba. Kata Ridwan dia sedikit terlambat karena tadi ada yang tertinggal di kantor. Akhirnya kami mulai makan sambil berbincang-bincang dengan akrab.

Setelah makan mereka kembali ke ruang depan meneruskan perbincangan sementara aku mengawasi pembantu membereskan meja makan. Lamat-lamat kudengar ada yang baru datang. Pasti itu Astri. Jantungku terasa berdebar. Aku mulai membayangkan seperti apa wanita itu. Pasti cantik, anggun, dan sexy, sehingga semua pria tadi memuji-mujinya seperti juga suamiku. Kudengar ada langkah menuju ke ruang makan. Aku sekilas merapikan baju dan rambutku. Ternyata suamiku datang dengan seorang wanita.

“Dewi, kenalkan ini Astri yang selalu kuceritakan itu”

“Hahaha mudah-mudahan cerita yang baik-baik ya”

Astri tergelak mengulurkan tangan. Aku buru-buru menyambut uluran tangannya.

“Ternyata benar yang selalu diceritakan Arman. Dia adalah laki-laki yang sangat beruntung punya istri seperti anda. Anda cantik sekali”

Perasaan bersalah perlahan mendera hatiku. Ternyata wanita yang diam-diam selalu kuanggap saingan, wanita yang menjadi alasan utama makan malam ini, adalah wanita yang sederhana dan terlihat menyenangkan. Penampilannya jauh dari cantik. Tubuhnya pendek, wajahnya tirus tanpa riasan, rambutnya yang agak beruban dipotong pendek, dan dia mengenakan celana panjang dan kemeja yang tampak agak kebesaran untuk badannya yang kurus. Tapi memang matanya tampak cerdas dan beberapa kali kami tergelak bersama mentertawakan leluconnya tentang suamiku yang selalu buru-buru ingin pulang tiap ada meeting malam hari di kantor. Dan saat suamiku meninggalkan kami berdua, kami langsung berbincang-bincang dengan akrab. Aku dengan segera menyukainya. Benar kata suamiku, dia adalah wanita yang menyenangkan dan sangat cerdas.

Tak lama kemudian aku mengajaknya pindah ke ruang depan bergabung dengan yang lain, sementara aku minta ijin sebentar ke toilet. Sepintas kulihat suamiku dan Ridwan sedang merokok di teras samping. Tiba-tiba langkahku terhenti. Tubuhku membeku. Kulihat tangan Ridwan sedang mengusap wajah suamiku.

3 comments

  1. Jiaaa…bbrp hari yg lalu gua baca, istrinya yg lesbi..skrg malah suaminya yg gay..ending yg gk gua perkirakan sm sekali…good point.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s