Separated


Separated
(written: Sunday, November 6, 2011)

Mataku nanar memandang laki-laki yang duduk di depanku ini. Laki-laki yang telah menikahiku 8 tahun lalu. Kudengar dia berkata pelan

“Kamu jangan dengar apa kata orang. Banyak yang tidak suka pada kita”

Suaraku tersendat-sendat saat mulai berbicara, sarat dengan jutaan emosi yang tertahan

“Kau tidak perlu berbohong lagi. Aku sudah tahu semuanya”

Suamiku mengangkat mukanya sejenak lalu menunduk lagi.

“Aku sudah bilang, jangan percaya sama omongan orang. Banyak yang ingin menghancurkan kita”

Terdengar suamiku menghela nafas panjang sebelum meneruskan.

“Mereka akan berusaha dengan cara apa saja agar hubungan kita hancur. Dan juga perusahaanku. Jadi aku butuh bantuanmu untuk melewati ini semua”

Aku membuang muka. Kurasakan mataku mulai berair. Kuseka sekilas sebelum berkata pelan namun menusuk.

“Kemarin Maya menemuiku. Dia bilang kau akan segera meninggalkanku dan menikahinya. Dia ingin memastikan padaku kapan semua itu terlaksana. Jadi sekarang kau tidak perlu mengelak lagi, kan? Kapan kau akan menceraikanku?”

Suamiku memandang lurus ke depan. Wajahnya seputih kapas. Napasnya memburu. Jari-jarinya mengepal.

“Jangan percaya padanya. Dia berbohong. Kami hanya berteman. Itu dilakukannya karena dia membencimu. Dia ingin menghancurkan kita. Aku tak akan pernah meninggalkanmu.”

Aku tertawa sumbang.

“Kau pikir aku orang bodoh yang percaya begitu saja tanpa bukti? Semua ada. Jadi kau tak perlu berkelit lagi”

Suamiku meraih tanganku dan berkata dengan terbata-bata

“Aku minta maaf, sayang. Aku menyesal. Aku khilaf”

Suaranya terdengar ketakutan. Aku terus memandangnya dengan tajam. Kini suaraku terdengar datar hampir tanpa emosi.

“Sudah terlambat. Tak perlu lagi minta maaf. Semua sudah berakhir. Pernikahan ini tak bisa diteruskan”

“Tolonglah Risa, jangan lakukan ini padaku. Aku tak bisa hidup sendiri tanpamu”

Aku menatap dingin lalu berdiri. Sebelum pergi aku berkata singkat.

“Pengacaraku akan menghubungimu segera. Selamat tinggal”

Beberapa bulan kemudian…

Aku melangkah memasuki restoran. Mataku berkeliling menyapu ruangan dan berhenti saat melihat sosok di meja sudut. Itu Maya, kekasihku. Aku berjalan menghampirinya dengan senyum terkembang. Aku memeluk dan mengecup pipinya lembut.

“Apa kabar, sayang? Akhirnya kita bisa ketemu lagi. Semua sudah berakhir. Sekarang kita bisa bersama. Tak ada gangguan lagi”

Dia hanya diam. Aku meneruskan lagi sambil tersenyum lebar.

“Kami sudah resmi bercerai. Dan aku mendapatkan bagian yang besar. Cukup besar untuk kita berdua memulai hidup kita. Ini semua karena jasamu, sayang. Sekarang kita bisa bahagia berdua. Kita harus merayakannya”

Dia menatapku sekilas lalu menunduk dan memainkan minuman di depannya

“Kamu kenapa sayang? Sakit?”

Dia mengangkat mukanya dan menatap lurus ke mataku.

“Aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal, tapi rencana kita tak bisa diteruskan.”

Aku benar-benar tak mengerti dengan kata-katanya. Rencana ini telah kami siapkan bertahun-tahun. Lalu kudengar dia meneruskan.

“Suamimu memberikan tawaran yang tak mungkin kutolak. Dia akan menikahiku akhir tahun ini dan kami akan pindah ke Amerika awal tahun depan. Dia akan mengembangkan usahanya disana, sementara aku bisa melanjutkan kuliahku sambil merintis karir modellingku disana. Kau tahu itu semua impianku. Aku minta maaf, Risa. Ini semua diluar rencanaku…”

Aku tak mendengar dengan jelas lagi kata-katanya. Yang kuingat hanya tanganku yang meraih pisau di depanku lalu aku melompat ke arahnya….

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s