Agama Sebagai Komoditas Baru?


Agama Sebagai Komoditas Baru?
(written: Wednesday, October 26, 2011)

Sedih rasanya melihat kerusuhan berlatar agama akhir-akhir ini. Agama, yang seharusnya jadi urusan pribadi seseorang dengan Tuhannya, yang seharusnya tidak diletakkan di ruang publik, kini malah dijadikan layaknya komoditas, yang diperjuangkan, yang dipertentangkan, bahkan diperdebatkan. Menyedihkan. Padahal menurut saya agama adalah semudah menjalankan apa yang diperintahkan dan tidak melakukan apa yang dilarang. Itu saja. Namun pemahaman banyak orang ternyata berbeda.

Fanatisme kini diartikan salah oleh banyak orang. Fanatisme harusnya dipahami sebagai kepatuhan menjalankan ajaran agamanya sendiri tanpa mengganggu agama lain. Yang terjadi adalah keinginan membela agamanya sendiri dengan merendahkan agama lain. Yang lebih mengerikan adalah, banyak yang mencari-cari doktrin agama untuk membenarkan fanatisme buta tersebut, sehingga seakan-akan membenci agama lain merupakan salah satu anjuran di dalam agamanya, dan menghancurkan agama lain itu adalah kewajiban.

Kemudian, betapa jahatnya saat agama dijadikan bahan utama kampanye politik, dimana para politikus menggunakan agama sebagai alat untuk mencari pendukung, menggunakan sentimen agama untuk meraih kursi, dan pada akhirnya justru melakukan hal-hal yang dilarang agamanya itu saat sudah menjabat (baca: korupsi)

Tak mau kalah, agama pun telah terseret-seret ke ranah konsumerisme. Kita bisa lihat betapa banyak iklan bertema agama saat bulan puasa, Lebaran, Natal. Trik marketing? Bisa jadi. Bahkan ada yang menggunakan iklan beratribut agama untuk ‘mencuci’ nama produk yang pernah tercemar. Ada juga yang menggunakan tokoh-tokoh agama sebagai ‘penjamin’ bahwa suatu produk itu layak dan halal dikonsumsi. Oya, bahkan tokoh-tokoh yang identik dengan suatu agama diciptakan menjadi lebih pop, misalnya sinterklas, padahal tidak ada hubungannya dengan agama.

Sinetron dan film berbau agama juga makin marak. Bahkan sejak beberapa tahun lalu sinetron bernafas agama rajin tayang menjelang hari raya suatu agama. Tanpa sadar ini juga sudah menjadi tambang uang baru bagi para pembuat sinetron dan film.

Dunia musik juga tak ketinggalan. Musik-musik religi/rohani dibuat bukan lagi dengan niat berdakwah, namun dengan niat mencari rupiah. Walaupun di infotainment sang artis akan ‘memasang’ image kerohaniannya dalam memasarkan albumnya tersebut.

Di social networking, fanatisme dan sentimen agama juga terus dikobarkan. Bahkan di twitter ada yang menggunakan agama sebagai komoditas yang dijual di akunnya. Gak tau apa tujuannya. Gain follower mungkin? Sah-sah saja, asalkan tidak menyerang agama lain. Namun yang terjadi adalah penyerangan frontal dengan cara murahan terhadap agama lain. Ini berbahaya, karena satu hinaan akan dibalas hinaan lagi. Dan biasanya akan menyeret orang-orang lain untuk terbawa dalam konflik, akibatnya permusuhan akan timbul. Jahat banget kan? Gak tau keuntungan apa yang diambil.

Alangkah bahagianya saat agama hanya menjadi urusan pribadi. Dan semua orang menikmati agama pilihannya seperti menikmati pilihan hidupnya yang lain. Misalnya pilihan makanan. Hanya karena gue suka dan cocok dengan bakso bukan berarti gue akan menghina dan membasmi penyuka siomay, kan? Sesederhana itu kok

8 comments

  1. Berat dan gak akan pernah ada ujungnya. Tergantung bagaimana kt mendefinisikan agama. Ada sebagai keyakinan, ada sebagai jalan hidup atau ideologi. Ketika kita percaya agama adalah keyakinan. Benar apa yg jadi opini lo. Tp ketika agama dikaitkan sebagai ideologi, akan merambah ke aspek lain kehidupan; sosial, politik, ekonomi, budaya. Ambil contoh orang kapitalis selalu akan mempropaganda bahwa sosialis itu keliru, begitu pula sebaliknya. Agama yg lu maksud td menganggap agama lain salah, name it Islam lah ya {gw muslim anyway} memang dimaksudkan bukan hanya sebatas keyakinan, tp jalan hidup. Nah agama lain, name it Kristen, lebih kekinian karena sudah mengalami masa sekularisme, gw baca di wiki ttg lahirnya sekularisme di perancis dan protestan di inggris {eropa lah ya}.cmiiiw. Sekularisme ini yg akhirnya melekat pada Kristen. Is it?

    Mengenai anggapan mengajarkan lebih tinggi dr yg lain, menurut gw semua ideologi akan melakukan hal yg sama, masalahnya adalah, terbuja atau tidak. Begitupula agama.

    Islam saat ini mengalami hal yg sama, akan ditinggalkan bila secara berkelanjutan kaku atas kekinian. Dan penganutnya skrg lebih beragam menghadapi isu2 saat ini, belum mengutub saja, suatu saat nanti akan berkelompok menjadi faksi yg lebih berbentuk. Agama baru mungkin, meskipun agak sulit krna dikuncinya kitab suci dan ditutupnya “rekruitmen” nabi baru. :p

    Well melihat agama sebagai komoditi, balik lagi. Ketika kita melihatnya sebagai hal yg privat (cuma gw dan Tuhan aja, elo elo ga ad urusan), gw setuju dengan pendapat lo. Namun klo dilihat sebagai ideologi, memang dasarnya harus mengagamakan semua hal dalam kehidupan kita. Mengenai fraud yg terjadi itu menurut gw adalah oknum. Bukan kesalahan agama/ajaran.

    Disclaimer; ini hanya opini dan terbuka untuk diskusi, tidak berniat untuk merendahkan keyakinan atau pemikiran lain.

    Like

    1. Soal sekularisme sebenarnya ngga nempel pada satu agama saja. Tergantung budaya yang mempengaruhi si penganut agama itu sendiri. Kaum Kristen konservatif yang anti freesex, gak makan daging, gak minum alkohol, dll juga banyak. Bahkan ada yang berkerudung juga. Sementara kaum Muslim juga banyak kan yang gak makan babi tapi tetap minum wine? Nah, jadi soal sekularisme sebenarnya tetap tergantung si penganut aja IMO

      Like

  2. OK, kite reduksi penyebutan agama di sini. Nah yg kt diskusikan sekularisme nya. Yg lu maksud dengan memisahkan agama dengan kehidupan sosial dan aspek kehidupan lain, itu sekularisme kan? Agama sekedar hubungan pribadi dengan Tuhan?

    Like

    1. Sebetulnya yang mau gue angkat di tulisan gue adalah ‘pemanfaatan’ agama di ruang publik yang sering2 bisa memicu kebencian terhadap agama lain. Sekularisme cuman pendahuluan di awal aja sih. Comment gue sebelum ini juga ngga secara langsung berhubungan dengan tulisan gue, cuman nanggepin comment lo sebelumnya. Anyway, setuju sama poin lo bahwa kesalahan ada pada oknum. Problemnya oknum tersebut ada banyak dimana2 sekarang.

      Like

  3. hehe.. seru juga ni. sayang perbincangannya gak dilanjutin.
    tadi niat mau nulis dengan tema ini juga, tapi ternyata sudah ada yang angkat. jadi saya numpang nimbrung di sini saja. dan saya sepakat, yg dibahas mas penulis bukan masalah sekularismenya, tapi lebih ke bagaimana agama sudah dijadikan komoditas.

    pernah dengar undian haji? pembiayaan haji dengan utang? hm. setau saya haji itu hanya bagi orang yang mampu. namun ternyata bisaaa aja dipancing dengan undian haji. ngabisin duit berapa, tar dapet kupon. satu dari sekian ribu kemungkinan kali ya? tapi akhirnya orang2 itu menghabiskan duit yang banyak untuk dapet kupon, dan mencoba peruntungan, kali bisa naik haji gratis. #nepukdengkul

    sama juga dengan pembiayaan haji melalui utang. yah. gitu lah.

    itu mungkin masih secuil jenis produk komoditas agama.. kalau ada yang lain mungkin bisa di-share, terima kasih, 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s