Cerita di Antara Pesanan


Cerita di Antara Pesanan
(written: Friday, October 7, 2011)

“Pesan apa?”

“Mbak, bakso campur dua, yang satu pake mi putih doang ya. Bawang gorengnya yang banyak.”

Si mas ganteng itu sudah datang dengan pacarnya. Biasanya mereka datang pulang kantor dan ngga pernah barengan. Jadi si mas datang duluan, baru beberapa menit kemudian pacarnya menyusul datang. Mereka cocok sekali. Tapi kenapa ngga pernah barengan ya? Apa backstreet? Oya, mereka suka sekali duduk di pojok sana

“Mbak, saya ayam bakar satu. Sama nasi putih. Tambahin sambel mangganya ya.”

Aku selalu suka perempuan cantik yang ramah ini. Dia suka sekali sambel super pedas. Dulu dia pernah bilang dia suka sambel yang lebih pedas dari mulutnya hahahahaha tentu dia bercanda, karena dia lembut sekali. Tak pernah sekalipun dia marah atau menaikkan nada suaranya. Sesekali dia datang dengan seorang pria yang tampak kaya, tapi tak pernah dengan pria yang sama. Selalu berganti. Mungkin saja teman kantornya kan?

“Mbak, ayam bakar dua, ayam goreng satu, lele satu, bakso satu, Pake nasi semua ya.”

Oh itu keluarga favorite-ku. Sepasang suami istri dengan tiga anak remajanya. Satu perempuan dan dua laki-laki. Mereka terlihat sangat bahagia. Mereka selalu makan dengan berbincang-bincang akrab sambil tertawa-tawa. Tapi tumben kali ini si istri terlihat murung. Oh mungkin sedang sakit. Eh tiba2 kok si suami terlihat kaget & pucat memandang ke arah meja perempuan cantik tadi

“Mbak, tambah es teh manisnya ya”

Si perempuan cantik itu memandang sekilas ke arah meja keluarga tadi. Si suami tambah pucat dan menumpahkan air minumnya.

“Eh mbak, ini tolong dilap dong mejanya.”

Si suami terlihat panik. Istrinya melirik tajam. Sementara si perempuan cantik hanya tersenyum simpul

“Mbak, ayam goreng tiga dibungkus ya. Sambelnya dipisah.”

Si mbak ini baru pertama kali kulihat. Sepertinya dia pembantu yang disuruh majikannya turun dari mobil untuk beli makanan. Lagaknya sok tapi tak mampu menyembunyikan gaya kampungnya.

“Mbak, minta bonnya.”

Oh rupanya mas ganteng sudah selesai makan. Si pembantu melirik ke arahnya. Ah aku mengerti, siapa yang tak tertarik memandang wajahnya yang ganteng. Tapi, kenapa pacarnya terlihat pucat dan berusaha menyembunyikan wajahnya?

“Lho, Non….???”

Si pembantu setengah menyeringai, dan pacar si ganteng buru-buru menghampirinya. Mereka berbisik-bisik sebentar, lalu si wanita menyelipkan sesuatu ke tangan si pembantu. Si pembantu tersenyum puas sambil berjalan keluar membawa bungkusan makanannya.

Hari beranjak malam, satu persatu mereka pergi dengan membawa segudang cerita.

“Mbak……”

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s