Penilaian Kerja – Pilihan atau Kebutuhan


Penilaian Kerja – Pilihan atau Kebutuhan
(written: Friday, March 11, 2011)

Terinspirasi diskusi kemarin sore dengan seorang teman yang sungguh saya kagumi tentang arti sebuah penilaian.

Baru tersadar bahwa seumur hidup, kita dikungkung oleh suatu standar yang disebut penilaian. Sejak kita mulai sekolah, kita sudah dijejali penuh oleh penilaian. Apapun yang kita kerjakan ada nilainya. Dan bahkan nilai itu dijadikan dasar peng-klasifikasi-an murid2. Mana murid pintar mana murid bodoh. Dan tanpa sadar juga kita pun menggunakan nilai2 itu dalam memandang hidup. Yang nilainya bagus masa depannya cerah, yang nilainya jelek masa depannya suram. Pola ini berlanjut sampai kuliah, dan bahkan sampai kita masuk ke dunia kerja.

Sebelum memasuki suatu pekerjaan, ada tes. Ini juga dinilai, dan diterima atau tidaknya kita juga tergantung dari penilaian tersebut. Saat sudah berada di dunia kerja, prestasi kita pun dinilai. Pendapatan juga ditentukan dari nilai. Peningkatan karir juga ditentukan dari nilai.

Sebenarnya capek ngga sih kalau semua aspek kehidupan kita dilihat dari nilai?

Penilaian memang penting, karena dengan penilaian, kita bisa mengetahui sejauh mana keberhasilan suatu pekerjaan yang kita lakukan. Dengan menetapkan suatu standar, maka kita punya tujuan yang harus dicapai. Dan penilaian adalah suatu proses untuk mengetahui apakah tujuan tersebut tercapai dengan baik atau tidak. Penilaian juga membuat seseorang merasa dihargai dan dengan sendirinya akan menjadi motivasi yang sempurna untuk melakukan yang lebih baik. Disamping itu penilaian sangat membantu seorang atasan untuk memilih bawahannya dalam hal promotion.

Tapi diakui atau tidak, penilaian seringkali membuat suasana kerja menjadi tidak nyaman, persaingan sangat terasa, dan saat mendapatkan penilaian buruk maka seseorang akan menjadi demotivasi. Padahal financial impact dari penilaian itu sebenarnya tidak terlalu besar. Selain itu, banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan/kegagalan suatu pekerjaan. Sehingga rasanya tidak adil jika menilai pekerjaan seseorang dari hasilnya saja. Sementara jika proses dan faktor2 lain ikut dinilai, maka proses penilaian akan menjadi semakin rumit dan bias. Akhirnya banyak juga yang berpendapat bahwa penilaian akan membawa perpecahan di dalam anggota team.

Faktor yang menjadi seringkali menjadi pertanyaan tentang penilaian adalah soal fairness. Well, fairness memang tidak bisa dilihat dari satu sisi. Sang teman memberikan illustrasi tentang orangtua yang akan memberikan warisan kepada anaknya. Ada yang bilang fair jika harta warisannya dibagi rata ke semua anaknya. Ada yang bilang fair jika yang lebih sering mengurus orangtua yang mendapatkan lebih banyak. Namun ada juga yang bilang fair jika yang paling melarat yang mendapatkan lebih. Nah, disini terlihat bahwa fairness itu relatif, tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Fairness memang menjadi satu faktor kebutuhan di dalam pekerjaan, namun masih banyak faktor lain yang juga tak kalah pentingnya. Misalnya kreatifitas yang akan berkembang maksimal jika ada jaminan kenyamanan bekerja, lalu ada juga teamwork, yang tentu akan berfungsi maksimal jika tidak ada persaingan di antara anggota teamnya. Kemudian faktor kesenjangan penghasilan yang terkadang membuat iri. Dan faktor2 lainnya.

Namun cukup disadari bahwa ada atau tidaknya sistem penilaian dalam suatu perusahaan masih merupakan bahan diskusi yang terus berkembang, karena hal tersebut bukanlah suatu pendapat yang bisa disebut salah atau benar. Keputusan untuk mengimplementasikan suatu sistem penilaian masih merupakan pilihan yang harus dilihat secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kondisi suatu industri/perusahaan.

2 comments

  1. IMO: nilai itu kan dibuat untuk mempermudah. hanya dasarnya orangnya yang memberikan label tambahan. nilai bagus = karir bagus, nilai jelek=karir nyungsep. padahal juga gak gitu2 banget harusnya. nilai bagus tapi personality-nya gak bagus ya sama aja (ingat kasus dimasa lalu, loe kenal kan??). nilai jelek justru harus dicaritahu, mkn gak cocok tempatnya, mkn belum dapat slah-nya, mungkin emang jelek beneran. so as you said, it’s an ongoing discussion and i guess the sky’s the limit. buat gue sih lakukan saja yang terbaik, yang lain akan ngikut.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s