Infotainment : Antara pemirsa, Public Figure, dan Wartawan


Infotainment : Antara pemirsa, Public Figure, dan Wartawan
(written: Friday, March 4, 2011)

Walaupun gue gak pernah secara sengaja nonton infotainment setahun terakhir, tapi beberapa kali dengar juga ada berita heboh di kalangan artis. Terakhir ada perseteruan antara Ahmad Dhani dengan seorang wartawan. Konon ceritanya si wartawan nekat ambil gambar rumah Dhani (walaupun dari luar) meskipun sudah dilarang. Akhirnya Dhani marah dan menyerang wartawan tersebut untuk meminta hasil rekamannya. Dhani memang arogan. Kita sadar itu sejak lama, Tapi seharusnya ngga perlu pake maksa segala. Dan apa yang terjadi saat itu memang serba tidak jelas.

Lalu masih teringat kasus Luna Maya yang ’dimusuhi’ oleh wartawan karena marah2 di twitter, padahal marahnya sangat beralasan, dimana kamera wartawan sempat mengenai kepala anak yang sedang tidur di gendongannya, hanya karena si wartawan mengejar2 Luna untuk mengorek keterangan pribadi darinya.

Lalu masih ada juga kasus Desi Ratnasari yang dikucilkan oleh wartawan karena paling anti memberi komentar soal kehidupan pribadinya. Sampai2 sang artis dijuluki ’mbak no comment’.

Dan yang masih terkenang sampai sekarang adalah kematian Lady Di yang sangat tragis karena kecelakaan di sebuah terowongan di Perancis karena sang sopir ngebut dikejar2 papparazi yang juga wartawan.

Semua selalu diberitakan dengan seolah2 tidak seimbang, sehingga opini publik jadi menyalahkan si artis. Tapi kita coba liat dari sisi lain. Apakah wartawan selalu benar? Apakah wartawan memiliki kebebasan yang tak terbatas untuk meliput suatu kejadian meskipun itu melanggar privacy seseorang? Apakah perusahaan media memang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan berita untuk menaikkan rating? Berikut ini adalah pendapat gue dari berbagai sisi.

Sisi pemirsa

Seringkali kita terbuai oleh berita2 di televisi yang mengisahkan begitu banyak kejadian di dunia hiburan. Dan tanpa kita sadar, kita ikut menikmati berita2 tersebut. Bahkan kita sangat ingin tahu apa yang ada di balik kehidupan sang bintang pujaan. Apa yang mereka makan, apa yang mereka kerjakan di luar televisi, dengan siapa mereka berkencan, bagaimana status hubungan mereka, dan hal2 remeh lainnya yang sebetulnya ngga penting untuk kita. Bahkan itu sudah masuk ke ranah privacy mereka. Namun karena sedemikian besarnya rasa ingin tahu pemirsa, maka media mencoba memenuhinya dengan mencari berita sebanyak2nya. Semakin seru berita yang disajikan, semakin banyak pemirsa, semakin naik rating, semakin banyak iklan yang masuk, semakin untukng media tersebut. Jadi secara tidak langsung pemirsa juga memegang peranan dalam hal gencarnya pemberitaan tentang seorang artis.

Namun coba kita renungkan lebih dalam. Apa sih gunanya bagi kita kalau mengetahui berita2 tentang pribadi si artis? Kalau berita2 positif, misalnya prestasinya, lalu kehidupan rumah tangga yang damai dan bahagia, lalu berita tentang produk barunya (album, film, sinetron, dll), mungkin bisa kita ambil sisi baiknya. Kita bisa tiru prestasinya, kita bisa meneladani kehidupan rumah tangganya, kita bisa mengetahui review album/film barunya. Tapi kalau berita negatif yang malah kita tunggu2, lah bukannya malah ngerusak ya? Secara tak sadar kita jadi berpikir bahwa pemukulan itu biasa, pakai narkoba itu biasa, selingkuh itu biasa, perceraian itu langkah yang baik, dll. Ini kan tidak ada gunanya bagi kita.

Coba kita kembalikan lagi ke diri kita. Apa kita mau kalau kita diperlakukan seperti itu? Privacy terganggu, kemana2 selalu dikuntit orang, foto dipajang dimana2, dll. Ngga nyaman lho. Jadi, coba kita kurangi frekwensi nonton berita2 hiburan yang ngga penting itu. Nanti lama kelamaan porsinya di televisi juga akan berkurang. Dan tidak mustahil akan hilang. Dan mudah2an diganti dengan acara yang lebih mendidik.

Sisi Public Figure

Media memang salah satu sarana untuk mendapatkan popularitas. Seorang pemain film akan mempromosikan filmnya melalui media. Seorang penyanyi akan mempromosikan albumnya melalui media. Seorang olahragawan akan tersiarkan prestasinya melalui media. Dan banyak lagi. Dan dalam hal ini memang media memegang peranan penting dalam menentukan karir seorang public figure. Dan jangan lupa, media juga memegang peranan penting dalam menjatuhkan karir seorang public figure.

Namun apakah memang seperti itu aturannya? Media membuat berita maka si artis akan terang bintangnya atau malah redup? Menurut gue sih sih ngga. Si artis bikin prestasi, lalu media memberitakan, naiklah nama si artis. Dan kebalikannya juga begitu, si artis bikin aib, lalu media memberitakan, jatuhlah nama si artis.

Jadi, daripada nama jatuh karena berita, mendingan bikin prestasi sebanyak2nya, setinggi2nya, supaya diberitakan oleh media secara positif. Kalau si artis sudah terkenal karena prestasinya, mudah2an sih media ngga akan terpancing masuk ke wilayah privacy si artis. Kalo gue ngga salah ingat, Nadya Hutagalung hampir gak pernah masuk media karena kehidupan pribadinya. Media memang gak tertarik karena lebih tertarik meliput prestasinya. Atau memang Nadya gak pernah ’aneh2’ di kehidupannya.

Oya, satu lagi. Jangan menggunakan media untuk menaikkan nama dengan cara2 kampungan. Cara Kiki Fatmala-Saipul Jamil dan Jupe-Depe termasuk cara kampungan. Sebelum meluncurkan film barunya, mereka berantem dulu sampai diliput media besar2an. Harapannya film-nya bakalan booming karena pre-action tersebut.

Dan juga jangan menggunakan media untuk menunjukkan kemunafikan. Misalnya ikutan nyumbang korban bencana alam sampai ikutan mendatangi lokasi bencana, tapi datangnya pake diliput media. Karena diliput, maka harus pake sepatu atau accessories merk terkenal berharga jutaan rupiah. Sumbangannya jadi terasa basi.

Singkatnya, jangan menggunakan media untuk mem-blow-up karir dengan cara yang salah, karena kalau demikian, jangan heran kalau nanti ’karma’ akan datang dan media juga yang akan menghancurkan karir dan hidup seorang artis. Bekerja saja sungguh2 sehingga berprestasi, nanti media yang akan datang kepada si artis.

Sisi wartawan

Wartawan pekerjaannya mencari berita. Kita tahu. Kita ngerti. Kita paham. Tapi kalo sampai mengganggu kehidupan seseorang, maka rasa2nya ada yang salah dengan si wartawan. Dan mencari berita untuk keperluan acara infotainment dengan merusak batas2 privacy termasuk dalam kategori mengganggu kehidupan seorang public figure.

Tak jarang kita dengar ada berita dari seorang public figure justru dari wartawan. Wartawan tersebut mendapatkan selentingan dari sebuah narasumber (biasanya tidak mau disebutkan namanya), dan berdasarkan selentingan tersebut, sang wartawan mencari konfirmasi kebenaran berita, yang kadang2 dengan cara yang kurang etis. Tanya ke keluarga si artis, tanya ke pembantunya, tanya ke tetangganya, tanya ke teman2 seprofesinya, tanya ke pengadilan agama, menunggu siang-malam di depan rumah si artis, dll. Tanpa mereka sadar, mereka telah memasuki ranah pribadi dari si artis. Dan kalau si artis merasa terganggu, menurut gue wajar kok. Dan kalau sampai suatu titik mereka marah, dan akhirnya terjadi bentrok dengan wartawan, juga wajar. Wartawanlah yang harusnya mengalah, dan tahu sampai dimana batasan mencari berita. Namun anehnya, biasanya karena solidaritas sesama wartawan, maka berita yang beredar selalu berita yang menyudutkan si public figure.

Kalau ada berita seorang public figure bentrok dengan wartawan, gue cenderung untuk memihak si public figure. Wartawan tidak ada hak untuk masuk ke kehidupan pribadi seseorang dan (seringkali) mengacak2nya. Walaupun seseorang dianggap sebagai public figure, bukan berarti kehidupan mereka sepenuhnya milik publik. Pekerjaan dan hasil karya merekalah yang milik publik. Kehidupan pribadinya ya milik dirinya sendiri. Kalau mereka mau expose itu keluar, ya hak mereka. Tapi kalau mereka mau menyimpannya untuk dirinya sendiri, itu juga hak mereka. Dan wartawan tidak punya hak sama sekali untuk memaksa masuk dan menyebarkan hal tersebut. Bayangkan kalau itu terjadi pada dirinya atau keluarganya. Pasti gak mau kan? Nah, jangan pernah melakukan sesuatu yang kita tidak mau terjadi pada diri kita.

Wartawan harus bekerja dengan santun. Semua berita tentang sisi pribadi seseorang haruslah selalu melalui proses minta ijin pada orang tersebut. Jika mereka mengijinkan untuk diberitakan, ya silakan. Tapi kalo mereka keberatan, wartawan harus menghormati keberatan orang tersebut. Jangan memaksa hanya demi rating.

Menurut gue secara umum, tayangan infotainment saat ini sudah semakin meresahkan. Banyak mudaratnya dibandingkan manfaatnya. Kalo ada yang bisa menyebutkan manfaatnya bagi masyarakat, tolong saya diberitahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s