Pernikahan Ukuran Kebahagiaan?


Pernikahan Ukuran Kebahagiaan?
(written: March 7, 2006)

18 Februari 2006 lalu adik saya menikah. Dan dari 4 bersaudara jadilah saya satu-satunya yang belum menikah. Dan seperti yang dialami oleh orang-orang lain yang seumur saya namun belum menikah (apalagi adik-adiknya sudah menikah semua), semua orang mulai bertanya-tanya. Kapan nyusul….wah, abis ini kamu dong….udah mapan kan, nunggu apa lagi….jangan terlalu pilih-pilih….Mungkin itu pertanyaan biasa dengan nada yang biasa. Namun kalau lebih dari 40 orang menanyakan hal yang sama di hari yang sama di waktu yang berturutan, maka pertanyaan itu menjadi sangat mengganggu. Bukan soal ’sensitif’, namun kesan yang ditimbulkan menjadi berbeda. Seolah-olah belum menikah dalam umur seperti saya adalah sebuah aib. Akhirnya jawaban saya juga menjadi bervariasi. 10 pertanyaan pertama saya jawab,”Hehehe iya nih…ngga ada yang mau sih, cariin dong…” 10 pertanyaan kedua saya jawab,”Hehehe, tunggu aja undangannya ntar” 10 pertanyaan berikutnya saya jawab,”nanti dikabarin” (tanpa hehehe). 10 pertanyaan berikutnya saya jawab,”selamat, anda dapat pulpen gratis, anda orang ke-35 yang nanya ke saya”. Dan untuk pertanyaan-pertanyaan berikutnya saya cuman nyengir sambil sebisa mungkin berusaha kabur.

Anehnya orangtua justru ikut bertanya-tanya. Memang wajar sih, namanya juga orangtua. Konon katanya sih kalau anaknya sudah menikah semua, maka tanggung jawab orangtua di dunia sudah selesai. Apa iya? Bukannya sebagai orangtua harusnya mereka memikirkan kebahagiaan anaknya. Kalau suatu pernikahan dilakukan karena ‘paksaan’ (baca : biar ngga malu sama umur) apa iya bisa bahagia? Atau….jangan-jangan pola pikirnya jadi kebalik? Yang penting orangtua bahagia, regardless perasaan anaknya? Wah…serem banget hidup saya kalo gitu.

Menikah kan ngga gampang. Banyak kompromi dalam pernikahan. Kalau seseorang belum siap untuk berkompromi, ya lebih baik jangan menikah. Nanti malah seperti artis-artis di infotainment itu. Kawin baru 2 tahun udah cerai. Bahkan ada yang belum setahun. Kecuali kalau emang konsep menikah hanya ‘menghindarkan diri dari zina’. Itu sih orang pada kawin aja daripada ML ngga jelas. Trus kalo udah bosen ya cerai, trus cari lagi yang lain yang lebih muda. Atau kalau memungkinkan ya punya bini banyak. Beres, kan?
Tapi kan konsep menikah ngga sesederhana itu. Ada hal-hal yang harus disiapkan matang-matang.

Materi jelas harus siap. Udah ngga jaman nikah cuman modal cinta. Jaman sekarang orang harus makan nasi, ngga bisa makan cinta. Bayar listrik & air juga pake duit, ngga pake cinta. Bayar cicilan rumah juga pake duit, ngga bisa pake cinta. Dst…dst…
Mental juga harus siap. Hidup seatap dengan orang ‘baru’ diluar keluarga kita, butuh ‘hati seluas samudera’. Banyak kompromi yang harus dilakukan. Banyak ‘pe-maklum-an’ yang harus kita terima. Ya jelas dong. Kita kan dibesarkan dari keluarga yang berbeda. Bertahun-tahun sudah punya kebiasaan masing-masing yang berbeda. Kepikiran ngga sulitnya merubah diri menyesuaikan dengan kebiasaan pasangan kita? Pasti sulit banget. Dan kalo kita ngga siap, hal itu akan jadi bom yang bisa meledak sewaktu-waktu. Ini yang terjadi pada sebagian besar ‘pernikahan dini’, dimana mental masih labil.
Konsep menikah juga bukan hanya bersatunya dua orang yang menikah, tetapi bersatunya dua keluarga besar . Mungkin kita bisa aja kompromi dengan pasangan kita. Jelas, dong…kita kan udah pacaran lama, dan kita cinta sama dia. Tapi kompromi dengan keluarganya? Wah…tunggu dulu. Itu jauh lebih sulit. Belum lagi menyesuaikan keluarga kita dengan keluarga pasangan. Ini juga butuh persiapan yang super duper matang.

Lalu yang terakhir. Pernah denger ngga sih kalo umur, rejeki, dan jodoh ada di tangan Tuhan? Nah, kalo emang percaya, ya gampang kan? Tinggal serahkan saja sama Yang Di Atas. Kan semuanya sudah diatur. Kita ngga bisa menentukan jodoh kita. (Bisa aja sih kaya artis-artis itu, yang pas menikah ditanya gimana kok akhirnya menikah, dijawab ya emang sudah jodoh. Tapi pas mau cerai bilang kalo mereka ngga cocok dan ngga jodoh. Trus pas mo kawin lagi sama orang lain, katanya ini baru jodoh saya hehehehe).
Saya sih masih percaya bahwa jodoh kita masing-masing sudah ‘tercatat’ di ‘Buku Kehidupan’ kita. Entah jodoh itu dapat di dunia sini atau di dunia ’sana’.

Terakhir, saya cuman ingin bilang bahwa hidup sendiri itu bukan berarti ngga bahagia. Saya punya beberapa teman yang hidup melajang sampai tua dan they really really enjoy their life. They’re happy like us. Sementara ada juga teman saya yang menikah tapi curhat mulu kalo hidupnya ngga bahagia. Jadi, menikah atau tidak itu bukan ukuran suatu kebahagiaan kita. Mungkin ukuran kebahagiaan orang lain, tapi bukan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s