Legenda Simanjuntak

Posted on February 17, 2011

2



Legenda Simanjuntak
(tweeted: Tuesday, August 24th, 2010)

Saya orang Batak, dan kebetulan bermarga Simanjuntak. Dalam kehidupan masyarakat Batak dikenal banyak cerita/legenda. Demikian pula dengan legenda yang ada dalam keluarga saya, yaitu keluarga Simanjuntak.
Ada beberapa versi, dan berikut ini adalah versi yang biasa saya dengar dari para tetua :)

Alkisah masyarakat batak diturunkan oleh Sang Raja Batak (yang tidak diketahui asal muasalnya). Raja Batak ini mempunyai anak, yang menurunkan marga Simanjuntak dan salah satunya bernama Tuan Somanimbil.
Tuan Somanimbil mempunyai 3 orang anak: Somba Debata Siahaan, Raja Marsundung Simanjuntak, dan Tuan Maruji Hutagaol. Raja Marsundung inilah yang nantinya menurunkan marga Simanjuntak.

Raja Marsundung Simanjuntak (selanjutnya disebut Simanjuntak saja) menikah dengan seorang wanita bermarga Hasibuan (boru Hasibuan) dan memiliki seorang anak laki2 bernama Raja Parsuratan dan seorang anak perempuan bernama Sipareme
Di kampung itu Simanjuntak dikenal sebagai orang kaya yang mempunyai tanah yang luas dan seekor kerbau sehingga dijuluki Simanjuntak Parhorbo.

Singkat cerita, suatu saat istrinya, yaitu Boru Hasibuan meninggal dunia dan Simanjuntak menjadi seorang duda. Atas saran keluarga, Simanjuntak mencari istri lagi dan akhirnya menikah dengan Boru Sihotang, walaupun anak laki-lakinya, Parsuratan tidak menyetujui pernikahan tersebut. Pada saat anaknya dari istri kedua ini lahir, Parsuratan menjadi semakin kesal karena merasa warisannya akan terbagi
Karena kesal, Parsuratan akhirnya merencanakan pembunuhan terhadap adik tirinya ini sewaktu masih di dalam kandungan. Namur usahanya tersebut gagal, karena berhasil diselamatkan oleh keluarga Sihotang, walaupun ibu tirinya terluka.

Akhirnya anak pertama dari Boru Sihotang ini lahir dengan selamat dan diberi nama Raja Mardaup (tumbal), karena ibunya sudah menjadi tumbal dari kekejaman abang tirinya. Setelah itu, Boru Sihotang masih melahirkan lagi 2 anak laki2, yaitu Raja Sitombuk dan Raja Hutabulu. Selain itu dia masih mempunyai 2 anak perempuan, yaitu Si Boru Hagohan Naindo dan Si Boru Naompon.

Pada saat anak2nya masih kecil, Raja Marsundung Simanjuntak meninggal dunia dengan meninggalkan warisan tanah dan kerbau miliknya.
Walaupun solah2 sudah menerima kehadiran adik2nya, Namur Parsuratan selalu berusaha untuk menyingkirkan saudara2 tirinya tersebut agar warisan jatuh ke tangannya sendiri
Pada jaman itu, perang terjadi dimana2, dan ada kebiasaan untuk membangun rumah ukiran, yang biasanya ukirannya diwarnai dengan darah musuh hasil peperangannya. Namun karena Parsuratan tidak pandai berperang, maka ia mencari cara untuk mendapatkan darah saudara tirinya.
Suatu hari ia melihat saudara perempuannya Sipareme sangat akrab dengan Si Boru Hagohan Naindo sehingga hal tersebut ingin dimanfaatkannya. Memang yang bersikap memusuhi hanya Parsuratan saja, sementara adik perempuannya akrab dengan saudara2 tirinya. Kemudian ia memberikan gelang gading ke adiknya, Sipareme dan menyuruhnya untuk memakainya. Namun di lain pihak, ia membayar orang untuk membunuh gadis yang tidak memakai gelang, yaitu SI Boru Hahogan, sudara tirinya.
Namun takdir berkata lain. Pada saat malam hari, Sipareme meminjamkan gelang kepada Si Boru Hagohan yang terpesona akan keindahan gelang tsb. Pada saat itulah pembunuh datang dan membunuh gadis yang tidak memakai gelang, yaitu Sipareme. Pembunuhan menjadi salah sasaran.

Menyaksikan kejahatan Parsuratan yang timbul dari rasa benci, boru Sihotang akhirnya meninggal karena tekanan batin. Namun sebelum meninggal, ia memberikan wejangan kepada anak2nya, yang isinya anak2nya harus tetap menghormati abangnya, walaupun mereka tahu abangnya itu licik dan jahat.
Karena kegagalan membunuh tempo hari, Parsuratan selalu berusaha mencari jalan untuk membunuh adik tirinya. Dan dengan cara licik, akhirnya Parsuratan berhasil mempermalukan dan membunuh Si Boru Hagohan. Karena takut, adiknya, Si Boru Naompon minta diantarkan ke kampung kakeknya, Raja Sihotang dan hidup disana.

Suatu hari salah satu adik tirinya, Raja Hutabulu minta bagian warisannya ke Parsuratan, karena peninggalan ayahnya dirasa cukup banyak. Dengan kelicikannya, Parsuratan menyanggupi dengan syarat Hutabulu harus mampu membawa 2 bulan ke depannya. Hal ini meresahkan Hutabulu, karena mana mungkin ia bisa membawa 2 buah bulan ke hadapan Parsuratan.
Namun takdir berkata lain. Pada saat bulan purnama, Hutabulu menimba air di sumur dan menemukan bayangan bulan disana. Saat itulah ia memanggil Parsuratan dan menunjukkan 2 bulan kepadanya. Parsuratan tak bisa mengelak lagi dan menyerahkan sebagian sawahnya. Namun tetap dengan kelicikannya.

Karena ia anak dari istri pertama, maka sawah bagiannya adalah di bagian depan yang dekat sumber air. Hal ini sangat menguntungkannya, karena pada musim kemarau, yang dialiri air hanya sawah bagiannya saja, sementara bagian adik2nya tetap kering.

Kemudian untuk kerbau, pada masa itu, untuk membagi warisan kerbau yang cuma seekor, biasanya orang di daerah itu membagi dua kanan dan kiri, namun Parsuratan membagi depan dan belakang. Ini juga menguntungkannya, karena saat dipakai membajak sawah, yang dipasangi bajak adalah bagian depan kerbau. Sehingga adik2nya tidak bisa menggunakan kerbau itu untuk mengerjakan sawah bagiannya. Sementara pada saat buang air, yang harus membersihkan adalah pemilik bagian belakang, yaitu adik2 tirinya.
Namun takdir kembali berkata lain. Pada saat beranak (kerbaunya betina), maka anak2 kerbau adalah milik adik2 tirinya, karena keluar dari bagian belakang. Dan adik2nya menjadi kaya raya karena memiliki kerbau2 baru.
Sejak itulah dikenal sebutan parhorbo jolo (kerbau depan) dan parhorbo pudi (kerbau belakang). Sampai sekarang, kalau ketemu orang bermarga Simanjuntak, selalu ditanyakan apakah mereka parhorbo jolo atau pudi (depan atau beakang).

Jaman dulu keturunan dari parhorbo jolo dan pudi selalu bermusuhan, tidak pernah akur. Bahkan ada beberapa cerita yang menyebutkan bahwa selalu terjadi kesialan bila keturunan kedua pihak bertemu. Bila ada pesta, maka hidangannya akan basi, atau mentah, atau keasinan, dll. Bila ada pesta adat yang dihadiri keduanya, maka akan terjadi hujan, banjir, petir, angin ribut, dll.

Namun saat ini generasi muda Simanjuntak mulai menyusun kembali kepingan2 persaudaraan mereka, dan mencoba melupakan masa lalu itu. Di beberapa acara bahkan sudah dilakukan kerjasama kedua belah pihak, dan tidak terjadi apa2

Begitulah sedikit legenda dari keluarga besar saya. Kalo di-film-kan seru gak ya hahahaha…

Tagged: , ,
Posted in: Information